Mimpi Mulia Tak Selalu Bijaksana. Inilah Alasannya dan Apa yang Perlu Dilakukan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 April 2017
Gairah mewujudkan mimpi tak boleh lebih besar dari doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus dan rendah hati.

Setiap orang punya mimpi-mimpi yang ingin diraih dalam hidupnya. Psikologi modern dan beberapa tips sukses lainnya juga terus mendorong setiap orang menggali potensi dirinya, bermimpi setinggi mungkin, menuliskan dalam sebuah kertas yang dijadikan dream list, dan berusaha sekuat mungkin meraihnya. Itu semua baik karena memaksimalkan potensi yang ada dalam diri sendiri, namun pernahkah dalam tips sukses tersebut ditanyakan tujuan dari setiap dream list yang kita punya?

Sewaktu saya masih SMA, saya suka mendengar dan membaca tips sukses semacam itu. Saya sangat bersemangat untuk membagikan mimpi saya kepada orang-orang, menuliskannya, dan berusaha meraihnya. Semua orang yang mendengar ataupun membacanya merasa kagum. Beberapa daftar impian tersebut, satu per satu saya raih. Namun, suatu hari saya berpikir untuk apa itu semua saya inginkan? Bingung dengan apa yang saya lakukan, bermimpi dan merencanakan segala sesuatunya menjadi guilty plesure dalam hidup saya. Sangat seru dan antusias dengan hari depan, tapi apakah ini adalah kemauan Tuhan?

Secara ekstrim sejak masuk kuliah, saya tidak begitu berambisi terhadap mimpi-mimpi. Saya tidak lagi secara rutin menuliskan impian, harapan, dan menambah dream list dalam jurnal pribadi. Kesadaran bahwa ternyata segala mimpi dan harapan hanyalah karena saya butuh pengakuan diri membuat saya enggan dan gentar untuk bermimpi.

Apakah bermimpi adalah sesuatu yang salah? Tentu saja tidak. Segala mimpi dan harapan bukan hal salah jika itu semua sesuai dengan kemauan Allah dalam hidup kita dan jika disertai pemahaman yang juga tepat. Misalnya, tidak menganggap bahwa semua mimpi harus mutlak tercapai dan bahwa Tuhan berkewajiban menjawab IYA senantiasa.

 

Memikirkan Ulang Mimpi-Mimpi Kita

Kita perlu menyadari bahwa setiap orang percaya mendapatkan dua panggilan umum, mandat injil dan mandat budaya. Mandat injil adalah menjadikan setiap orang sebagai murid Kristus seperti yang tertulis dalam Matius 28: 19-20. Mandat budaya adalah bekerja seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:28. Agar panggilan umum ini dapat lebih terfokus, setiap orang memiliki panggilan khusus yang dapat bermacam-macam. Misalnya kita yang merasa sedih dengan birokrasi yang tidak berpihak kepada rakyat, maka kita bertekad menjadi pegawai negeri atau pejabat publik untuk memperbaiki sistem tersebut. Contoh lain ketika kita melihat bergelimangnya pengangguran karena lapangan pekerjaan yang terbatas. Banyak yang menjadi terbatas secara finansial namun juga tidak mengenal Juruselamat. Kita kemudian tergerak membangun bisnis untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang termasuk bercerita soal Kristus kepada mereka. Mimpi-mimpi ini bukankah terdengar indah dan mulia?

Kini perenungan terbesar sesederhana memastikan apakah itu mimpi mulia atau ambisi pribadi yang diperjuangkan secara egois. Ketika kita berkata terpanggil menjadi pegawai negeri, sebenarnya itu tak lebih dari keinginan hidup yang lebih aman, daripada menjadi seorang pebisnis penuh resiko. Saya pernah menghadapi dilema dalam melihat setumpuk mimpi khas anak muda. Kegalauan antara kuliah di kampus terbaik dunia, membangun bisnis, atau bergabung dengan beberapa organisasi kepemudaan. Namun, di satu titik akhirnya saya mengakui dengan jernih bahwa beberapa mimpi tersebut semata didasari keegoisan.

Jebakannya ada disini: antara keinginan mengaktualisasikan diri atau godaan memperlihatkan diri dengan bumbu keangkuhan.

Bahkan asa yang bernada rohani pun perlu diwaspadai. Mungkin terdengar mulia saat menyatakan kerinduan menjadi missionaris di suatu daerah, menjadi pendeta, mau setia menjadi pemusik dalam persekutuan dan ibadah. Kesan mulia dari mimpi tersebut kemudian kerap mendistraksi kita pada kewajiban kita sebagai anak Tuhan: mencari tahu apa yang berkenan di hadapan-Nya dan dengan rendah hati menyediakan Ia memimpin bukan justru disetir oleh cita-cita semata. Tanpa disadari, kita terjebak untuk merohanikan ambisi pribadi di dalam bungkus “pelayanan” kita kepada Tuhan.

 

Lalu Harus Gimana?

Bermimpi dan berharap bukan hal haram, bahkan menolong dan menyemangati kita memaksimalkan hidup yang Tuhan percayakan. Namun, kendali akan tercapainya mimpi tersebut tidak berada dalam tangan kita, tapi dalam tangan Tuhan. Kita perlu tekankan hal ini baik-baik, youth! Supaya akhirnya kita tidak terjebak dalam paradigma dunia yang gencar mengagungkan pengabulan keinginan. Kita harus mawas bahwa segala harapan yang hinggap di benak, tidak serta merta mendapatkan anggukan setuju dari Bapa. Jadi, jangan merajuk dan pahit hati kala itu tidak tercapai. Kedua, kita perlu mawas bahwa tidak ada yang gratis akan pemenuhan mimpi. Akan hadir berbagai lika-liku. Namun kabar baiknya itu membentuk kita menjadi pribadi tangguh.

Terakhir, kita harus terbuka terhadap segala kehendak-Nya. Daud menjadi contoh yang tepat. Alkitab mencatat Daud memiliki keinginan untuk membangun Bait Allah (1 Tawarikh 29:1) tapi kehendak Tuhan berkata lain. Dalam masanya, Daud hanya diijinkan mempersiapkan segala kebutuhan pembangunan, namun Bait itu sendiri akhirnya dibangun oleh Salomo (2 Tawarikh 3:1). Siapa tahu skenario demikian akan terjadi di hidup kita sendiri, ketika bukan kita yang mengerjakan atau mendapatkan mimpi yang kita harapkan, namun justru orang terdekat kita.

Gairah mewujudkan mimpi tak boleh lebih besar dari doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus dan rendah hati. Sebagai anak-anak Allah kita jelas tidak boleh malas, tapi mengejar setiap hal, mimpi dan harapan yang hendak kita lakukan karena Dia dan oleh Dia, seperti Paulus yang mengillustrasikannya dengan pertandingan olahraga (1 Korintus 9: 24-27).

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE