Moving On: Your New Pain Killer, Seriously?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Agustus 2018
Bukan hal yang buruk ketika kita mengalami sakit hati. Justru akan menjadi sangat buruk jika sakit hati tersebut kita hindari dengan memaksakan diri untuk move on dan membiarkan sakit tersebut tumbuh secara tak sadar dalam hidup kita. Belajarlah dari Nabi Yeremia, menerima sakit hati dan mengapresiasi masa lalunya secara positif.

Adakah diantara kalian yang pernah merasakan sakit hati? Sakit hati tidak hanya bicara tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, bisa juga karena dikucilkan dari lingkungan sosial, pertengkaran dalam keluarga atau kecewa karena realita yang kita dapatkan tidak sesuai harapan kita. Aku rasa Ignite people pernah merasakan patah hati.

Sama seperti Nadia, bukan nama sebenarnya, mahasiswi teologi, yang kerap dianggap religius oleh jemaat, juga pernah merasakan patah hati. Pada malam itu iseng-iseng kulihat instastory dan Nadia bertanya lewat fitur ask me a question, “Gimana sih cara move on?”. Aku tahu Nadia baru saja patah hati karena putus cinta, aku pun memberikan respons lewat kolom jawaban. Selang beberapa hari Nadia berkirim pesan denganku, “Kak, thanks ya sarannya. Awalnya aku marah baca jawabanmu kak, mau omong kasar karena susah banget, tetapi aku sekarang tau artinya.”


Move On dan Luka yang Membekas

Aku pun pernah merasakan sakit hati ketika harus mengakhiri relasi tiga tahunku dengan seorang perempuan. Begitu juga rasa sakit hati saat keluarga besar dari papaku menipu keluarga kami di saat papaku dulu dalam kondisi koma di ICU. Terluka, itulah yang kurasakan, namun aku menolak untuk merasakan terluka. Aku memaksa diriku move on dengan sok kuat dan tersenyum di depan banyak orang, mendekati perempuan lain atau hura-hura dengan teman untuk mendapatkan kesenangan, dan berusaha fokus pada organisasi kampus dan gereja. satu yang aku pikirkan saat itu hanyalah melarikan diri dari kenyataan bahwa aku mengalami sakit hati. Memang berhasil sih, untuk membawa kepuasan sementara bagiku, namun harus diakui bahwa tetap ada ruang dari diriku yang terasa aneh, perasaan trauma akan hal-hal yang hampir serupa kerap terjadi. Apakah Ignite people pernah merasakan pengalaman yang hampir serupa, ketika berusaha move on tetapi nyatanya ada luka sakit hati yang masih membekas?



Photo by Leon Biss on Unsplash


Sang Nabi yang Sakit Hati kepada Allah

Jika memaksa diri untuk move on ternyata tidak membawa hasil yang baik bagi diri kita, maka apa yang harus kita lakukan ketika mengalami sakit hati? Jawaban yang aku temukan dalam pergumulanku dan yang aku bagikan kepada Nadia adalah hal yang sederhana, yaitu “mencoba menerima kenyataan dan mengapresiasi masa lalu.” Hanya itu? Ya, singkat dan padat layaknya batasan maksimal jumlah karakter pada fitur ask me a question di instastory. Diriku meyakini bahwa memaksa diri untuk move on bukanlah obat yang baik untuk patah hati.

Kisah hidup nabi Yeremia, penulis kitab Ratapan yang juga mengalami sakit hati seperti manusia pada umumnya, dapat menjadi perenungan. Yeremia merupakan anak dari Hilkia, imam Kerajaan Yehuda pada masa pemerintahan Raja Yosia. Pada kitab 2 Raja-Raja 22 dan 23 kita dapat membaca pemerintahan Raja Yosia membuat pembaharuan. Ia memberhentikan penyembahan dewa asing dan mengadakan kembali peribadatan kepada Allah. Yeremia pun juga dipanggil untuk menjadi seorang nabi di usianya yang muda. Disayangkan, pemerintahan Raja Yosia tak bertahan lama karena ia terbunuh oleh Firaun Nekho. Para pemimpin pemerintahan Yehuda selanjutnya menyimpang dari kehendak Allah, yaitu penyembahan kembali kepada berhala dan ketidakadilan sosial bagi rakyat Yehuda. Nabi Yeremia lah yang saat itu menyerukan berita pertobatan, namun raja yang berkuasa bebal untuk mendengarkannya, hingga akhirnya Allah memakai kerajaan Babel untuk menghukum bangsa Yehuda. Menjadi saksi atas rusaknya moral bangsa Yehuda dan penghakiman yang diberikan Allah inilah yang menjadi dasar dari tulisan pada kitab Ratapan.

Jika kita membaca kitab Ratapan 3: 1-20, maka kita dapat merasakan sakit hati Nabi Yeremia kepada Allah yang dituliskan secara metaforis. Kehancuran Yehuda karena penghakiman Allah membuat sang Nabi merasa tidak ada jalan keluar, penuh ketakutan, dan harapannya tak sejalan dengan realita (ay. 2,6,7,9,10,11); ia merasa sakit hati tersebut sama kuatnya dengan sakit fisik yang membuatnya hancur lebur (ay. 3,4,13,14); ia merasa seruannya tak didengar oleh Allah; ia juga menyatakan hidupnya penuh derita, tidak ada bahagia sama sekali dari masa lalu hingga kini (ay. 17-20). Sakit hati, itulah yang dirasakan Nabi Yeremia atas penghakiman Allah atas bangsa Yehuda. Alih-alih sok tegar atau menghilangkan rasa sakit, ia justru menerima kenyataan dirinya yang terluka.

Tak hanya berhenti pada menerima rasa sakit hatinya, ia juga mengapresiasi masa lalunya bahwa Allah berkarya dalam segala sesuatu. Nabi Yeremia mengingatkan bahwa kasihNya tak berkesudahan, terlebih bagi yang berharap selalu padaNya (ay.21-25); dan apresiasi inilah yang membawa harapan bahwa Allah tetap penuh kasih sayang walaupun ia memberikan kesempatan bagi kita untuk terluka (ay. 26-38). Dengan tetap membawa hati yang hancur, sang nabi mengajak pembaca kitab Ratapan datang kepada Tuhan (ay. 41).



Photo by Nicolas Moscarda on Unsplash


Move On tuk Mengobati Sakit Hati, Perlukah?

Seperti yang Nadia sampaikan tentang jawaban yang aku berikan, mungkin Ignite people juga jengkel dan merasa “menerima kenyataaan dan mengapresiasi masa lalu bukan hal yang mudah.” Tentu sangat sedikit orang mau menerima rasa sakit, namun sama seperti benda tajam yang melukai kulit kita, jika kita membiarkan bekas luka tersebut maka akan menjadi borok nanah dan iritasi sehingga muncul penyakit lainnya; maka kita perlu membersihkannya dengan antiseptik setiap harinya secara perlahan walaupun terasa sakit.

Mungkin saat kita kecil, orang tua dan guru menentang kita menangis saat kita terluka, sehingga kita merasa perlu segera move on untuk menolak rasa sakit. Sudah seharusnya pemahaman tersebut perlu diubah. Terimalah diri kita yang memang merasa sakit hati karena pengalaman dan situasi yang kita alami, ekspresikan dan sampaikanlah tanpa malu dan sungkan kepada Tuhan, karena Ia tentu memahami kondisi kita. Mintalah hikmat dariNya agar bisa melihat masa lalu dengan bijak untuk mengevaluasi diri serta mengucapkan syukur karena Tuhan selalu menyertai kita dan akan memberikan hal yang baik kepada kita.



Photo by Stefan Kunze on Unsplash


Bukan hal yang buruk ketika kita mengalami sakit hati. Justru akan menjadi sangat buruk jika sakit hati tersebut kita hindari dengan memaksakan diri untuk move on, lalu membiarkan sakit tersebut tumbuh secara tak sadar dalam hidup kita. Berkaca dari Nabi Yeremia, kita dapat mencoba menerima sakit hati dan mengapresiasi masa lalunya secara positif.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE