Mungkin Kita Tidak Seistimewa Itu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Maret 2018
Karena setiap karya memiliki takdirnya sendiri.

Suatu sore teman saya bertanya dengan nada kuatir, apakah segala karyanya akan benar-benar berguna atau sia-sia belaka. Di lain waktu kawan saya yang bermain musik juga bertanya hal senada. Pertanyaan itu mengantarkan saya pada sebuah kontemplasi tersendiri. Saya juga yakin sesekali kita akan mempertanyakannya: APAKAH YANG AKU LAKUKAN INI BERGUNA?

Mari kita pikirkan dengan jernih, bukankah sejatinya hal yang sama kita patut pertanyakan ke apapun yg kita lakukan? Bukan hanya soal hobi namun juga pekerjaan sehari-hari. Misalnya saya yang adalah guru, dapat skeptis bergumam apakah ilmu yang saya bagi itu sungguh akan berguna? Apakah murid yang saya didik benar akan jadi orang baik?

Masalahnya adalah, kita tidak seistimewa itu untuk tahu keseluruhan kisah perjalanan benih yang kita tabur. Mungkin ada yang mati saat bertunas, ada juga yang terlihat layu, tapi eh... ternyata tumbuh juga setelah sekian waktu, dan ada yang tidak sempat tumbuh sama sekali.

Prinsip saya kemudian menjadi amat sederhana, baik soal menulis atau semua yang lain. "Taburkanlah benihmu pagi-pagi dan jangan memberi istirahat pada petang hari, karena engkau tidak tahu mana yang akan berhasil."

Di antara semua tulisan saya, sebenar-benarnya saya tidak tahu akan sampai ke hati siapa saja semua itu. Jadi daripada memperhatikan angin dan melihat awan hingga lupa menabur, lebih baik terus menyebarkan benih. Mungkin ada beberapa yang hanya ditujukan untuk membahagiakan diri saya sendiri, atau setidaknya membuat saya tetap waras. Tapi saya juga tahu persis ada beberapa tulisan yang benar-benar dihadiahi pembaca yang terus menghampiri saya hanya untuk mengucapkan terima kasih. Bahwa mereka tertegur atau terberkati.

“Setiap tulisan memiliki nasibnya sendiri” begitu kata pak Wepe, mentor saya dalam menulis. Apa yang saya jalani dua tahunan ini membuat saya tak punya sedikitpun alasan untuk membantah. Iya, karya kita berupa apapun itu akan memiliki jalan hidupnya sendiri. Kita beruntung jika boleh tahu dimana tempat benih itu tumbuh, apalagi tahu benih kita sudah jadi pohon yang buahnya manis. Tapi namanya juga keberuntungan, kadang dapat, seringnya tidak.


Photo by Luke Carliff on Unsplash

Jangan mencoba menjadi berguna, lakukan saja.

Paulo Coelho dalam satu bukunya pernah menulis bahwa pohon dan sungai tidak pernah mencoba untuk menjadi berguna namun hanya menjadi diri mereka sendiri. Dalam kesederhanaan itu, mereka menjadi salah satu bagian penting yang membuat alam terus bergerak dengan semestinya. Kutipan ini menjadi pengingat bagi saya pribadi bahwa dengan kita menjadi diri kita sendiri dan terus melakukan sesuatu yang baik, kita sedang membawa harapan dan menjadi berguna bagi dunia.

Seorang akuntan misalnya, dia mungkin tidak tahu satu perusahaan batal kolaps karena dia senantiasa melakukan penghitungan dengan baik. Dengan demikian, seluruh pegawai tidak perlu diPHK, dan itu artinya ratusan ibu atau ayah akan tetap mampu menyekolahkan dan membiayai impian anak-anak mereka. Siapa tahu, tindakan harian yang kita lakukan walau tampak remeh, berarti signifikan terhadap kemanusiaan secara keseluruhan.

Tanpa ke pedalaman. Tanpa perlu ke Afrika. Hanya dengan membuat laporan keuangan yang bersih, hanya dengan membagi ilmu dengan semangat, hanya dengan mengantar penumpang dengan aman, hanya dengan membuat hidangan yang sehat serta nikmat, siapa tahu ... siapa tahu kita telah menyelamatkan sesuatu atau seseorang dari hal buruk. Siapa tahu, walau tanpa legitimasi apapun, benih tak terlihat itu telah menjadi satu sumbangsih bagi kemanusiaan.


Photo by Muhammad Raufan Yusup on Unsplash

Pada akhirnya, inilah tujuan yang sia-sia: “untuk menginspirasi”

Jika ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, jawaban “untuk menginspirasi” adalah respons penuh utopia.

“Inspiring others is not a goal but a consequence. Why? Because people are different and react differently. They are inspired by different actions and have different value”–Daniel Bensana.

Berusaha untuk terus memuaskan orang lain itu agak mustahil, sebab apapun yang kita pancarkan nantinya akan harus berbenturan dengan segala isi kepala orang lain. Cara pandang mereka, selera mereka, bahkan kondisi hati mereka ketika berhadapan dengan tindakan atau karya setulus apapun yang kita maksudkan. Maka, menjadikan feedback orang lain sebagai enerji apalagi motivasi rawan berujung pada sikap menyerah dan berhenti.

Entah dianggap sampah atau permata di mata orang lain, semua karya kita biarlah kembali sebagai wujud bakti ke Tuhan. Ke Dia yang memberi talenta. Pun saya yakin, Tangan tak terlihat itu pula yang akan menggiring benih itu ke tempat dimana dia perlu tumbuh. Dan sejatinya, dengan kita melakukan apa yang kita sukai, sebenarnya kita sedang menyelamatkan satu jiwa kecil dari rasa frustasi. Jadi, jangan terlalu pusingkan soal berguna atau tidak. Jangan lakukan untuk siapapun sebelum untuk dirimu sendiri dan untuk Tuhan.

Dengan keyakinan dan harapan demikian, rasanya tak akan sulit untuk bangun pagi dan berbisik pada diri sendiri: hari ini apapun yang tanganku jumpai, akan aku lakukan dengan sepenuh hati.

Sekali lagi, kita tidak seistimewa itu untuk boleh tahu apakah karya kita akan menyentuh hati orang lain. Kita perlu terus mengusahakan agar karya kita efektif, agar makin terbuka peluang untuk menjadi berkat. Tapi jangan lupa, bersenang-senanglah. Jadilah bahagia, karena mungkin itu cara terbaik untuk menjadi berguna.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE