Nanik Ingin Jadi Presiden

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 31 March 2019
Waktu di SD, Nanik paling sering diejek karena kalau ditanya cita-citanya, dia selalu menjawab mau jadi presiden.

“Nik, habis buang air jangan lupa siram yang bersih!” ibu meneriaki Nanik dari dapur yang merebakkan harum tempe goreng.

“Sudah habis dua ember, Bu! Nggak bisa bersih juga!” balas Nanik dari kamarnya sambil menyiapkan uang recehan untuk kembalian. “Emang udah waktunya disedot,” gerutunya dalam hati.

Nanik pergi ke dapur yang seluruh dindingnya sudah menghitam dan dipenuhi jamur di mana-mana. Dia mengambil tampah untuk tempat gorengan yang sudah disiapkan ibu sedari subuh.

“Bakwannya banyak sekali hari ini, Bu? Kemarin nggak habis. Tempe lebih laku,” protes Nanik sambil menaruh tahu di sebelah lempengan-lempengan tempe yang masih berasap.



Photo by Priscilla du Preez on Unsplash


“Itu sama yang sisa kemarin sudah Ibu goreng lagi. Hari ini kamu coba di depan gedung KPU, Nik. Katanya akan ada banyak orang demo di sana pagi ini. Si Asep dari pagi sudah bawa satu gerobak minuman dingin ke sana, tuh. Cepat sana jemput Rizki. Semoga hari ini laku semua,” doa ibu selalu sama setiap hari.

Sudah setahun Nanik berhenti sekolah. Lebih baik membantu ibu katanya. Lagipula pelajaran SMP terlalu susah baginya. Di sekolah dia lebih sering menyendiri karena untuk bergaul dengan teman-temannya biayanya tidak murah. Setiap hari paling tidak dia harus keluar uang untuk makan di kantin. Sekali seminggu harus jalan bareng mereka ke mall. Di sekolah teman-temannya memanggilnya Nenek Nanik karena rambutnya sudah banyak putihnya walau baru umur 13 tahun. Waktu di SD, dia paling sering diejek karena kalau ditanya cita-citanya, dia selalu menjawab mau jadi presiden. “Huuu, neneknya presiden!” Dia masih ingat seisi kelasnya bersorak.



Photo by Devon Divine on Unsplash


Namun, pagi ini Nanik berjalan dengan semangat ke kantor KPU sambil mengempit bakul nasi di ketiak kanannya dan mengusung tampa berisi gorengan di atas kepalanya. Panas matahari pagi yang menggigit tak memperlambat langkahnya. Tetesan keringat di pelipisnya sesekali disekanya dengan ujung lengan bajunya.

Sepanjang jalan dia sudah berpapasan dengan arak-arakan orang yang berjalan ke arah yang sama. Berbagai macam pakaian orang-orang itu. Ada yang memakai jubah putih-putih, ada yang memakai kaos bersimbol ayat-ayat kitab suci, ada juga kelompok yang menutupi wajah mereka dengan kaos. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik truk, ada yang berboncengan sepeda motor, ada juga yang naik bus metro mini. Kebanyakan membawa spanduk-spanduk ulang yang isinya menuntut pemilu ulang, atau caci maki kepada Ketua KPU yang dianggap tidak netral, ada juga spanduk yang bergambar calon presiden penantang, sementara tidak sedikit yang meneriakan tuduhan kepada presiden petahana yang kemarin dinyatakan menang oleh KPU.

Sepanjang jalan sudah banyak orang yang membeli dagangan Nanik. Nanik sangat senang karena semakin dekat ke kantor KPU, bebannya semakin ringan sementara kantongnya semakin penuh. Tidak percuma dia membawa dagangan dua kali lebih banyak hari itu. Ibu pasti senang sekali. Sebenarnya Nanik tak perlu lagi meneruskan perjalanannya. Cukup berhenti di suatu tempat strategis, sebentar saja pasti gorengannya sudah habis diborong oleh massa yang semakin banyak mengalir ke satu arah. Tapi dasar Nanik memang senang melihat keramaian, dia terus saja berjalan bersama orang banyak itu. Semakin mendekati kantor KPU, semakin berdesak-desakan dan dia harus semakin erat memegang dagangannya.

Dari jarak beberapa meter sudah terdengar suara orang sedang berpidato meneriakkan ‘tuntutan rakyat’. Karena tubuh Nanik yang kecil, sebentar saja dia sudah terseret dan terdorong ke depan speaker yang menggelegar. Nanik mulai merasa sulit bernapas. Dia mulai merasa takut dan berteriak-teriak minta tolong. Tapi suaranya tertelan suara speaker dan suara massa. Sandalnya sudah hilang sebelah. Sebentar kemudian tampah gorengannya tumpah dan bakul nasinya terjatuh. Nanik menangis dan menjerit, tetapi orang di sekelilingnya tak ada yang peduli. Mereka semua sedang sibuk mengacungkan tinju ke udara sambil meneriakkan yel.


Photo by Devon Divine on Unsplash

Sebentar kemudian tahu-tahu Nanik sudah ada di depan sang capres penantang yang sedang berpidato. Lalu terdengar suara letusan dua kali begitu dekat di telinga Nanik. Semua orang di sekitar Nanik berteriak sambil menunjuk-nunjuk Nanik. Nanik tidak tahu apa yang terjadi. Dia menunduk melihat bagian yang ditunjuk orang-orang itu. Dia hanya bengong melihat bajunya berubah warna menjadi merah, basah, dan lengket. Lalu sesaat kemudian, kepalanya terasa berputar dan Nanik menutup matanya. Begitu dia menutup matanya semua suara ribut tak terdengar lagi. Rasanya nyaman sekali seperti sedang berenang di awan-awan. Tidurnya pun belum pernah senyenyak ini, tetapi api kemudian seperti ada semut yang merayapi kakinya. Dia ingin membuka mata untuk menggaruknya, namun matanya tak mau terbuka juga. Semut-semut itu semakin banyak. Sepertinya ada ribuan yang kini merayapi seluruh bagian tubuhnya. Kepalanya mulai terasa sakit seperti ditusuki banyak jarum. Akhirnya dia berhasil membuka matanya.

Yang pertama dilihatnya adalah wajah si capres, tapi dia tidak sedang berpidato, melainkan sedang duduk di sampingnya. Lalu ada banyak orang berseragam di sekelilingnya. Ada yang berseragam polisi dan tentara. Ada yang seseorang di sebelah sana berseru, ”Dia sudah membuka mata!”

Sang capres tersenyum dan menyapanya, “Hai, Nanik. Senang melihat kamu siuman.”

Yang pertama dilakukan Nanik adalah membuka mulutnya bertanya, “Mana Ibu?” tapi tidak ada suara yang terdengar keluar dari mulutnya.

Sang capres kembali bicara, ”Nanik baru melalui masa kritis. Jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah. Sudah dua minggu Nanik tak sadar. Bulan depan Nanik harus menghadiri pelantikan Bapak menjadi Presiden. Nanik sudah berkorban menerima dua peluru yang ditujukan kepada Bapak hari itu. Nanik bukan hanya sudah menyelamatkan Bapak, Nanik bahkan sudah menyelamatkan bangsa ini. Dengan pengorbanan seorang Nanik, bangsa ini disadarkan betapa rakyat mencintai Bapak dan kehendak rakyat atas pemilu ulang tak dapat lagi dilarang. Dua hari lalu pemilu ulang sudah dilaksanakan dan hasil perhitungan semalam menunjukkan bahwa rakyat memilih Bapak. Tapi rakyat harus tahu bahwa Bapak sekali-kali tak akan melupakan jasamu, Nanik. Kamu adalah simbol perjuangan rakyat melawan kecurangan rezim yang terdahulu dan bukti kecintaan rakyat pada diri Bapak….”

Nanik tidak mampu mendengarkan kata-kata orang itu lebih lanjut lagi. Kepalanya terasa berat dan begitu ia menutup mata, rasa nyaman itu kembali menimang-nimangnya. Begitu dia membuka matanya lagi, yang pertama kali disebutnya adalah nama ibunya, tetapi tak ada suara yang keluar. Lalu dia mulai memperhatikan sekelilingnya. Ternyata dia berada di atas tempat tidur yang dikelilingi peralatan rumah sakit seperti yang sering dilihatnya di tivi. Kali ini beberapa perempuan berpakaian perawat mendekatinya. Lalu mengusap-usap kepalanya. Air mata Nanik mengalir karena dia sudah membuka mulutnya berbicara tapi tak ada suara yang keluar. Suster itu melihat matanya yang penuh air mata dan mengerti apa arti pandangannya yang penuh tanda Tanya.

“Neng Nanik jangan sedih ya. Pita suara Nanik terluka terkena peluru. Dokter spesialis sedang mengusahakan supaya Neng bisa bicara lagi. Sabar, ya. Sus ada kabar gembira untuk Neng Nanik. Neng sekarang sudah diangkat anak sama Bapak Presiden yang baru. Ibu Neng kemarin menghadiri pelantikan Bapak Presiden dan menyatakan berterima kasih dan berbahagia sekali atas anugerah dari Bapak Presiden. Nanti kalau Neng sudah pulih, pulangnya ke Istana Negara, bukan ke rumah Neng yang di gubuk itu lagi. Ibu Neng beserta seluruh keluarga Neng sudah diberangkatkan untuk tinggal di luar negeri sementara waktu mengingat kondisi keamanan berhubung masih ada pihak-pihak yang tidak puas dengan Presiden yang sekarang ini.”

Air mata Nanik semakin deras mengalir. Dia hanya ingin pulang ke rumah bertemu ibu dan adik-adiknya lagi. Dia ingin menjerit tapi tak ada suara yang keluar, dia ingin bangun dan berdiri dan berlari pulang, tapi tubuh, kaki, dan tangannya tak dapat digerakkan. Dia hanya bisa berusaha mengingat-ingat hari terkutuk itu. Andai saja dia segera pulang hari itu.

Tubuh Nanik tak pernah bisa digerakkan lagi. Satu peluru yang bersarang di tulang belakangnya telah melumpuhkan seluruh tubuhnya. Satu peluru lagi telah mengambil suaranya untuk selamanya. Dia tinggal di Istana Negara untuk waktu yang lama, dilayani oleh empat perawat setiap harinya. Sang Presiden berhasil mendekritkan dirinya sebagai presiden seumur hidup dengan dukungan penuh militer. Bertahun-tahun Nanik tak pernah bertemu keluarganya. Cerita tentang Nanik yang nasibnya begitu beruntung menjadi anak angkat Presiden selalu diceritakan di pelajaran sekolah dan sebagai cerita pengantar tidur anak-anak di mana pun juga. Dia adalah simbol harapan orang kecil yang ingin merubah nasibnya dan bukti dukungan rakyat bagi Presiden tercinta.

Bagi segelintir orang yang tahu kisah sebenarnya, dia adalah contoh nasib orang kecil terseret arus politik yang mempermainkannya tanpa pernah dimengertinya. Mungkin itulah nasibku dan nasibmu besok. Sekali pun hari ini kita merasa mampu berbual-bual soal analisa politik.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE