Ohana dan Negeri Seberang Pelangi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 10 Februari 2019
Bahwa dari sebuah kepergian, tampak harta yang paling indah dan berharga dari Tuhan: yaitu adanya kasih Kristus yang dinyatakan melalui keluarga.

Inilah saya, seorang pemudi 21 tahun. Saya benar-benar membuka mata untuk menghadapi realita hidup yang sedang saya alami – bahwa hidup itu manis dan pahit seperti cokelat, ada kejutan dan pelajaran tak terduga di dalamnya.

Desember 2018 adalah masa Natal teraneh dalam hidup saya. Janggal sekaligus sedih rasanya kala mendapati ayah setiap hari mengunjungi kakek yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Bag berisi barang jualan yang terikat kanan-kiri jok motor tidak serta-merta membuatnya lelah. Itu pun masih ditambah kewajibannya untuk antar jemput sekolah adik saya dan ikut kegiatan Kaum Pria Gereja setiap minggu. Waktu untuk keluarga benar-benar drastis berkurang. Jujur saja, saya ingin ayah saya selalu ada untuk saya dan keluarga, seperti biasanya.

Sebagai cucu, awalnya saya pikir kakek hanya menderita diare dan tidak nafsu makan biasa, mengingat fisik kakek saya yang masih cukup kuat. Namun ternyata saya salah. Tubuhnya yang berangsur menjadi kurus kering, masih tergeletak di petidurannya. Masuk ke kamarnya pun kini saya tak tega. Saya hanya mampu memutarkan lagu-lagu rohani lewat bluetooth speaker setiap berkunjung ke rumahnya, dengan harapan hal itu bisa memberi beliau semangat untuk sembuh.



Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash


31 Desember 2018. Pukul 22.00 saya menerima voice call dari sepupu saya. Alih-alih bertanya soal liburan, perbincangan ‘lintas tahun’ ini berujung pada curcol tentang keadaan ayah saya yang bolak-balik ke rumah kakek setiap hari. Harapan saya untuk mendapatkan dukungan darinya pun pupus ketika mendengar pendapatnya yang pro-euthanasia (suntik mati). Sontak rasa dongkol segera mengakhiri perbincangan selama dua jam lebih itu.

1 Januari 2019. Perayaan tahun baru yang penuh derai air mata bagi saya. Hari itu, kami sekeluarga mengunjungi paman yang menderita kesulitan berjalan pada kedua kakinya. Ketika saya diminta untuk mendoakan paman saya, spontan saya terisak. Kondisi paman disertai perasaan kasihan kepada ayah saya yang sebulan ini mendapat kesulitan bertubi membuat aliran air mata ini tak terbendung lagi.

Saya bertanya kepada Tuhan, mengapa harus ayah saya? Mengapa bukan adik-adik ayah saya yang lain, mengapa ayah saya yang harus mengalami proses kehidupan seperti ini? Pertanyaan itu terus muncul di benak saya setiap hari sambil berharap ayah bisa meluangkan sedikit waktunya untuk kami. Dua minggu setelah tahun baru – di hari Selasa, ayah mengajak saya dan adik untuk mengunjungi seorang kerabat di Sumedang. Namun sayang, karena ada satu dan lain hal, keberangkatan kami di hari itu ditunda.



Photo by Daan Stevens on Unsplash


19 Januari 2019. Hari Sabtu. Pagi itu saya sudah mandi dan bersiap-siap, ketika tiba-tiba ayah membatalkan lagi rencana keberangkatan ke Sumedang. Sesaat sebelumnya, ternyata nenek menelepon ayah sambil menangis, memberi kabar bahwa kini kakek sedang kritis di rumah sakit. Bodohnya, saya tidak segera percaya. Saya malah menganggap ini adalah acting ayah semata agar kami tidak jadi pergi ke Sumedang. Kekecewaan saya benar-benar sudah mencapai puncaknya, saya sungguh marah pada ayah.

Ibu saya yang mendengar ucapan saya segera menegur dan memberitahu bahwa kakek sungguh sedang kritis. Dengan perasaan masih campur aduk, saya langsung meneruskan kabar itu ke paman. Tak selang berapa lama – 17 menit kemudian – giliran saya mendapat kabar darinya bahwa kakek kini telah tiada. Secepat itu. Lagu ‘Tak Kutahu Kan Hari Esok’ pun menjadi playlist saya sepekan ini.

Saya terkejut, terpukul, dan seketika juga merasa bersalah. Hanya permintaan maaf yang dapat saya sampaikan kepada paman, terlebih pada ayah. Permohonan maaf untuk setiap kesalahan, khususnya keegoisan terselubung yang selama ini selalu saya tujukan pada ayah. Bahkan pesan ayah pada saya dan adik untuk menyiapkan foto mendiang kakek belakangan ini pun, masih kami sepelekan. Kini, saya tahu untuk apa foto itu. Alhasil, cuma sesal yang tersisa.

Saya ingat, waktu di rumah duka, ayah menangis ketika memberikan kata sambutan. Seketika terbayang di benak saya, segala ketabahannya dalam mengurus dan merawat kakek, masih ditambah kesibukannya di sana-sini. Seharusnya saya bangga mempunyai ayah seperti itu, bukan malah kesal kepadanya.



Photo by Mayron Oliveira on Unsplash


Anak-anak, cucu-cucu, keponakan, dan kerabat berdatangan ke rumah duka. Di situlah saya mulai mengerti betapa berartinya dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat. Kehadiran mereka sungguh memberi kekuatan kepada kami sekeluarga. Bahkan beberapa sepupu yang biasanya cuek, masih begitu peduli dan banyak membantu – termasuk ia yang sempat membuat saya kesal di malam tahun baru.

Sepucuk surat saya selipkan dalam peti mati kakek. Di sana, saya ungkapkan rasa terima kasih untuk kakek yang senantiasa menjemput saya kala TK, juga meminta maaf untuk semua kesalahan yang saya lakukan. Surat tersebut saya akhiri dengan menyampaikan akan pertemuan kembali kami nanti, di negeri seberang pelangi. Ayat Mazmur 73:26 saya sertakan sebagai ayat pengingat dan penguat, ‘Bahwa sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.’

Saat prosesi pemakaman, saya tersentuh melihat solidaritas dari banyak saudara, dari kesediaan mereka meluangkan waktunya. Ada yang izin sekolah meski awalnya tidak diizinkan oleh orang tua, termasuk saya, Tuhan secara ajaib dapat mengundur jadwal kursus dan masuk kuliah saya. Ternyata, Tuhan ingin memberikan saya pelajaran, dengan menunjukkan siklus kehidupan yang cepat atau lambat pasti akan saya alami dan hadapi. Bahwa dari sebuah kepergian, tampak harta yang paling indah dan berharga dari Tuhan: yaitu adanya kasih Kristus yang dinyatakan melalui keluarga.

Ohana means family. Family means nobody gets left behind, or forgotten.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE