Peace Train Indonesia: Belajar Menjadi Orang Samaria yang Murah Hati

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Februari 2018
Perumpamaan orang Samaria yang murah hati menggambarkan Allah yang murah hati, mengasihi manusia yang jatuh ke dalam dosa tanpa pandang bulu.

Dalam risetnya tahun 2015, Pew Research Global Attitudes menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dalam hal “seberapa pentingnya agama dalam kehidupan masyarakatnya”. Lebih lanjut, ditemukan pula bahwa agama menjadi hal yang penting bagi masyarakat di berbagai negara berkembang daripada negara-negara maju.

Tetapi di sisi yang lain, pada tahun 2012, hasil penelitian Center of Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia menerima fakta untuk hidup ditengah keberagaman, tetapi ragu-ragu dan bahkan menolak untuk bersikap toleran, terutama apabila menyangkut tentang perbedaan agama dan kepercayaan. Fakta lain yang mengejutkan juga muncul dalam riset SETARA Institute pada tahun 2016 yang mengungkapkan bahwa di Indonesia terjadi 270 bentuk tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di 24 provinsi di Indonesia dan 140 tindakan diantaranya melibatkan aktor penyelenggara negara baik secara by commision atau by omission.

Berangkat dari Keprihatinan dan Keresahan

Berangkat dari keprihatinan dan keresahan atas fakta yang terjadi di atas, kami, puluhan anak-anak muda (dan yang pernah muda) dari berbagai komunitas dan wilayah di Indonesia memutuskan untuk mengikuti program Peace Train Indonesia. Peace Train Indonesia adalah program traveling lintas iman dengan menggunakan kereta api, menuju ke satu kota yang telah ditentukan. Puluhan peserta dari berbagai agama dan kepercayaan akan berjalan bersama untuk mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah dan tokoh yang dianggap sebagai aktor penting toleransi dan perdamaian antar agama. Kami juga berproses untuk saling belajar, bekerja, mengelola perbedaan, menuliskan pengalaman perjumpaan dan berkampanye tentang pentingnya merawat Indonesia yang bhinneka.

Ketika Anda benar, apakah orang lain harus salah?

Di kota Jogjakarta yang terkenal dengan slogan ‘istimewa’ nya, kami mengikuti Program Peace Train Indonesia III. Selama dua hari, kami berproses untuk menemukan apa arti perbedaan yang sesungguhnya. Dengan didampingi para penggagas acara ini, yakni: Ustadz Anick HT, Ustadz Ahmad Nurcholish, Pdt. Frangky Tampubolon dan Edward T, kami memulai perjalanan ini dengan mengunjungi Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei). Di dalam kesempatan ini, kami dapat mengetahui sejauh mana institut ini bergumul dan berjuang melibatkan seluruh agama dan kepercayaan di masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu diwujudkan dengan berbagai pendidikan, diskusi, seminar, penelitian dan penerbitan yang digagas oleh institut ini. Dalam diskusi, Ustadz Anick HT juga membagikan kiat untuk melihat tingkat toleransi dalam diri kita. Hal itu dapat dilihat dari sejauh mana sikap kita apabila ada tetangga rumah kita yang berbeda agama atau apabila tetangga yang berbeda agama tersebut melakukan kegiatan agamanya, mencalonkan diri menjadi ketua RT/RW atau bahkan membangun rumah ibadah.

Kegiatan yang berslogan “Ketika anda benar, apakah orang lain harus salah?” dilanjutkan kembali dengan mengunjungi berbagai rumah ibadah di Jogjakarta, seperti Hare Krishna Jogjakarta, Klenteng Fuk Ling Miau, GPIB Marga Mulya dan Masjid Gedhe Mataram. Pada kesempatan ini, tak sedikit pula dari peserta yang baru pertama kali mengunjungi rumah ibadah dari agama lain dan di saat yang sama pula, kami menyadari bahwa semangat toleransi nampaknya sudah dihayati masyarakat Indonesia sejak dulu. Hal ini dibuktikan dengan adanya corak akulturasi agama dan budaya pada rumah-rumah ibadah. Selain itu, kami juga berkesempatan mengunjungi berbagai kelompok minoritas seperti Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia dan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.

Orang Samaria yang Murah Hati

Kisah perikop Injil Lukas ini (10:25-37) tentu tidak asing lagi di telinga kita. Jauh sebelum perikop Injil ini terjadi dan dituliskan, pertentangan antara orang Samaria dan orang Yahudi sudah lebih dulu terjadi. Beberapa alasan seperti etnisisme (anggapan bahwa orang Samaria tidak berdarah Israel murni) dan ritualisme (perbedaan ibadah antara orang Samaria dan orang Yahudi) menjadi penyebab pertentangan tersebut.

Perikop ini diawali dari pertanyaan ahli Taurat yang ingin menguji Yesus untuk melihat apa jawaban Yesus atas sebuah pertanyaan yang menjebak. Hingga pada puncaknya, Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat (ay. 29) dengan sebuah perumpamaan. Pada perumpamaan ini, banyak hal yang dapat kita pelajari, antara lain:

Pertama, perumpamaan orang Samaria yang murah hati menggambarkan Allah yang murah hati, mengasihi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tanpa pandang bulu. Agustinus menyebutkan bahwa orang Samaria menggambarkan Kristus sendiri. Di sisi yang lain, ada seseorang yang jatuh ke tangan penyamun setelah turun dari Yerusalem ke Yerikho (ay.30). Secara geografis, jalan dari Yerusalem menuju Yerikho adalah jalan menurun dan curam. Salah satu tafsir menyebutkan bahwa jalan itu memiliki panjang 27 km dan turun 1.000 meter dari Yerusalem ke Yerikho. Agustinus melihat hal ini sebagai sebuah kondisi jatuhnya seseorang dari keadaan rahmat ke dalam dosa. Tindakan orang Samaria yang membalut luka-luka orang itu, menyiraminya dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan dengan menunggangi keledainya (ay.34) laksana Kristus yang di dalam tubuh-Nya di kayu salib, memikul dosa-dosa kita, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1 Petrus 2:24)


Photo by Christoph Schmid on Unsplash

Kedua, Yesus tidak terjebak pada pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” (ay.29). Yesus tidak memberi keterangan tentang siapa yang harus ditolong seseorang, tetapi Ia lebih menyarankan, “apakah saya membawa diri saya sebagai seorang sesama manusia?”. Dalam perikop itu bahkan sangat mengejutkan bahwa orang yang ditolong dan menolongnya adalah orang yang berbeda dengan kaumnya. Ini menjadi teguran bagi kita yang ragu-ragu dan bahkan menolak untuk bersikap toleran, terutama apabila menyangkut tentang perbedaan agama dan kepercayaan (seperti fakta dari hasil penelitian di atas). Dalam kisah ini, seharusnya kita dapat belajar menerima dan mengasihi yang berbeda dengan kita, termasuk mereka yang sudah menghina bahkan mengasingkan kita.

Ketiga, unsur lainnya yang hadir dalam perumpamaan itu adalah tempat penginapan (pandocheion). Mengutip Pdt. Joas Adiprasetya dalam bukunya “Labirin Kehidupan: Spiritualitas Sehari-hari bagi Peziarah Iman” bahwa kata Yunani untuk tempat penginapan, 'pandocheion', diserap ke dalam bahasa Arab, 'funduq' melalui penerjemahan ke dalam bahasa Aram, 'pundheqa' dan akhirnya sampai saat ini kita mengenal kata 'pondok' dalam bahasa Indonesia. Para Bapa-Bapa Gereja juga menggunakan kata pandocheion untuk menunjuk pada lokasi cinta kasih yang harus ditawarkan oleh orang Kristen kepada dunia yang tengah mengambara ini.

Pemilik tempat penginapan itu telah menunjukkan keterbukaan tanpa pandang bulu. Dengan bayaran hanya dua dinar (ay.35), ia mau menerima si sakit itu, terlebih merawatnya walaupun tak ada kepastian orang Samaria itu akan kembali ke tempat penginapan tersebut. Keterbukaan juga membawa diri kita pada semangat pembaharuan (aggiornamento). Seperti kisah pada suatu sidang Gereja (konsili) dimana pernah ada tindakan simbolis untuk membuka semua jendela Gereja selebar-lebarnya. Saat itulah udara segar dapat masuk dan pandangan jauh ke depan tidak terhalang. Gereja sebagai persekutuan umat yang terbuka adalah Gereja yang menjadi mitra Allah untuk mau melayani dalam segala, merakyat - tanpa tembok dan inklusif. Semangat yang sama pula yang ditularkan ke kita untuk menjadi pondok (pandocheion) yang terbuka bagi segala, termasuk yang berbeda agama dan kepercayaan sekalipun.


Pixabay.com

Para rekan, program Peace Train Indonesia yang kami ikuti ataupun program-program lintas agama lainnya tak lantas, secara instan, menciptakan perdamaian dalam segala aspek. Dalam mewujudkan perdamaian memang dibutuhkan agen-agen perdamaian. Hal itu dapat dimulai dari diri kita sendiri, seperti kutipan lirik lagu “Kumulai dari Diri Sendiri” dalam Gita Bakti No. 69,

“Akan kumulai dari diriku melakukan sikap yang benar. Biar pun kecil dan sederhana, Tuhan dapat membuat jadi besar!”

Selamat berjuang,

Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE