Pelajaran dari Sebuah Rute yang Tidak Efektif

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 08 Juni 2018
Ketika Tuhan seakan sedang mengajak kita berputar, ketika Dia mengizinkan perjalanan yang seakan tak efektif terjadi, bagaimana sikap kita? Apakah kita mau menginsafi sebuah proses atau justru berbantah?

Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir”. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau.


Ayat ini bukanlah sebuah baris kata yang meaningful jika hanya ditengok sekilas. Bukan sebuah penguatan iman, kalimat janji, ataupun sebuah penghiburan. Justru mungkin memancing pertanyaan soal pilihan rute dari Tuhan saat memimpin umat Israel selepas keluar dari Mesir. Terlihat jelas unsur kesengajaan dalam Keluaran 13:17-18 itu. Lalu kini pertanyaannya adalah, apakah sang Pencipta semesta harus kembali belajar membaca peta?

Sekali-kalipun tidak. Sebuah rute yang dirasa lama dan tidak efektif menjadi penanda dan peringatan bahwa pimpinan-Nya kadang amat tak terduga dan kerap tidak sesuai dengan idealisme manusia yang inginnya praktis dan cepat. Sama seperti yang Tuhan lakukan ribuan tahun lalu, Diapun mengizinkan hal itu sesekali di skenario-Nya bagi kita. Jika direfleksikan ke diri saya sendiri, saya mengintisarikan bahwa setidaknya ada tiga alasan kenapa Tuhan menghadirkan sebuah rute tak efektif alias berputar.


1. Membabat Kesombongan

Tiga tahun lalu saya menjalani masa satu tahun penuh sebagai pengangguran setelah 16 bulan menjadi tenaga pengajar. Eh ndelalah saya kembali menjadi guru. Sebuah kesia-siaan bukan? Maka bolehlah saya berkata bahwa ini adalah rute yang tak hemat waktu.

Satu tahun itu seakan sebuah masa singgah bagi saya. Masa singgah yang melelahkan, sejujurnya. Namun setelah saya memurnikan hati dan melihat masa satu tahun itu dengan jernih, saya mengakui bahwa keputusan saya untuk resign awalnya disponsori kesombongan. Dua hal yang saya sombongkan: bahwa mendapatkan pekerjaan adalah hal mudah dan bahwa saya bisa memiliki pekerjaan yang jauh lebih keren dibandingkan hanya menjadi seorang guru.



Photo by Pedro Gabriel Miziara on Unsplash


Hari ini saya dapat melihat secara nyata bahwa satu tahun sebagai jobless tidak sia-sia samasekali. Tidak enak, tapi bermakna. Di masa itu segala kesombongan saya dibabat habis. Dengan segala kedaulatanNya -yang selalu saya kagumi- saya mendapati ada mindset yang sedang diporak-porandakan. Dari anggapan bahwa menjadi guru adalah hal hina hingga soal remehnya mendapatkan pekerjaan.

Sekali lagi saya katakan, kesombongan saya sedang dibabat habis.


Ketika kita berhenti sejenak, kita punya waktu untuk menilik ulang cara pandang kita. Memang saya akhirnya kembali menjadi guru di tempat yang sama persis, tapi saya kembali dengan sebuah pola pikir yang tak lagi sama.


2. Melatih Kegigihan

Melepas masa SMA, pergumulan penat yang harus saya (dan ribuan orang lain) hadapi adalah masuk Universitas. Saat itu saya dihadapkan kegagalan untuk masuk jalur prestasi di Unair. Jurusan HI yang saya impikan tidak dengan mulus diraih. Kegagalan itu membuat saya singgah ke UM UGM, Simak UI, hingga PMDK umum Unair. Semua ditolak. Tanpa bimbel, saya terus belajar hingga akhirnya berhasil masuk lewat SNMPTN.

Uniknya, baik PMDK prestasi dan SNMPTN keduanya membebankan uang kuliah yang tidak berbeda barang sepeserpun. Apa intinya? Toh sama saja sebenarnya, HI Unair. Kenapa Tuhan tidak membuat saya langsung berhasil di awal? Akan jauh lebih praktis, bukan?

Sayangnya, Pencipta kita mengetahui persis arti penting sebuah proses. Dia menciptakan semesta tidak serta-merta dengan hentakan jari, bahkan walaupun Dia mampu. Dia menggunakan 7 hari, tak lain menekankan bahwa menjadi praktis bukanlah sebuah tujuan. Tetap masuk HI Unair dengan beban biaya yang persis sama, namun dengan sebuah latihan kegigihan.


Rute tak efektif juga mengajarkan bahwa impian tak pernah gratis didapatkan.


3. Menguji Refleks Iman

Kadang sebuah persinggahan dapat berumur setahun, beberapa bulan, atau bahkan beberapa jam saja! Begitu pula yang saya alami bersama rekan terkasih saya.

Suatu kali saat kekasih saya hendak memulai KPR, kami bergumul untuk jangka waktu KPR maksimal 15 tahun, untung-untung jika diizinkan kurang dari itu. Malam itu kami tutup dengan doa dan keesokannya nego dimulai.

Saat itu hari Jumat, saya ingat benar, tiba-tiba HP saya berdering. Partner saya di seberang sana dengan nada getir menceritakan apa yang terjadi. Pihak bank menolak pengajuan 15 tahun dan menjadikannya 20 tahun. Saya begitu kaget dan berbalut kecewa, tapi siang itu saya hanya mengajaknya berdoa. Kami belajar pasrah sambil mengajukan banding. Kami masih mantab dengan angka 10-15 tahun, yang berarti jika Bank masih kekeuh, maka kami akan melepas rumah itu.


Photo by Matheus Ferrero on Unsplash

Konon proses banding dengan Bank akan memakan proses 3-7 hari. Ajaibnya saat itu, hanya beberapa jam berselang, pihak bank menyetujui di angka 12 tahun. Saat itu kami hanya tertawa haru bercampur geli. “Tuhan sedang bercanda,” begitu celetuk kami berdua penuh syukur dan takjub.

Walau beberapa jam saja, bagi kami itupun ibarat rute yang tidak efektif. Kenapa tidak dari awal saja langsung sesuai ekspektasi? Durasi sekitar 180 menit itu menguji refleks iman kami, apakah menggerutu atau penuh ketakutan atau justru aktif dalam kepasrahan iman.


Walau tiga rute tak efektif itu memiliki alasan dan durasi yang berbeda, ketiganya menuntut satu hal yang sama: sikap yang tepat. Ketika Tuhan seakan sedang mengajak kita berputar, ketika Dia mengizinkan perjalanan yang seakan tak efektif terjadi, bagaimana sikap kita? Apakah kita mau menginsafi sebuah proses atau justru berbantah? Apakah kita dengan lapang dada berkata “terjadilah seturut kehendakMu” atau justru ngotot dengan rencana dan rute dari diri sendiri. Apakah kita bersedia melatih diri kita menyadari pemeliharaan-Nya yang sempurna atau hanya berfokus dengan keluhan?

Ayat 21 di perikop ini mencatat: “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.”



Photo by J'Waye Covington on Unsplash


Satu keterangan ini adalah penghiburan besar bagi kita saat kita melihat proses pencapaian mimpi atau perjuangan apapun yang seakan sangat lambat, berputar-putar, dan tertunda, bahwa Dia tidak akan menelantarkan kita. Dia menyertai. Dia memimpin sepanjang perjalanan.

Kita tidak bisa mengatur apalagi mendikte rute dari-Nya, tapi kita selalu bisa menentukan bagaimana sikap ketika Tuhan mengajak kita berjalan lebih jauh dan lebih lama, hingga akhirnya kita dapat dengan mantab dapat berkata “Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi. Penjagaku tidak terlelap dan tidak tertidur” (Mazmur 121)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE