Pelayanan: Panggilan Hidup untuk Mengasihi sebagai Keluarga di dalam Grand Design-Nya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 18 Desember 2017
Use your ministry to build people, not use your people to build your ministry.
Jacquelen K. Heasley

Guys, saya sangat tersentuh dengan quote di atas yang disampaikan oleh Billy Simpson dalam sebuah sesi di acara Servant Leadership Conference 2017 (SLC 2017). Gereja seharusnya bukanlah sebuah perusahaan melainkan sebuah keluarga. Panggilan melayani itu bukan saja sebuah sederet aktifitas dalam gereja. Panggilan melayani itu adalah sebuah panggilan hidup. Panggilan melayani juga bukannya hanya mengenai kekakuan mengikuti peraturan dan birokrasi di gereja. Panggilan melayani merupakan panggilan untuk bisa terlibat dalam hubungan kasih dengan saudara seiman. Bukan hanya memandang orang lain sebagai pribadi yang harus dipuaskan maupun sebagai pribadi yang dimanfaatkan. Kita bisa membuat orang kagum dengan segala kemampuan kita melayani di atas panggung, tetapi kita bisa memberi pengaruh dalam hidup orang di luar panggung. Dalam pelayanan seharusnya kita bisa membangun suatu keluarga dimana ada penerimaan apa adanya, sepenuhnya, tetapi tidak membiarkan sepenuhnya. Kemampuan untuk menerima saudara seiman ini didasari dengan kasih Allah yang sudah terlebih dahulu menjamah hati umat-Nya (1 Yohanes 4:19).

Prinsip ini diterapkan oleh Billy Simpson dengan mengenal setiap anggota KTB bukan hanya ketika KTB maupun ketika ada kegiatan gereja saja. Billy Simpson meluangkan waktu untuk mendengarkan curhatan mereka, mengenal keluarga mereka, bahkan membuka rumahnya dua puluh empat jam bagi anggota KTB-nya. Billy memperlakukan setiap anggotanya sebagai keluarga. Hasilnya tercipta relasi kasih yang erat dan memampukan mereka bisa aman dan nyaman untuk belajar bertumbuh bersama. Jika sebuah pelayanan bertujuan untuk membangun pribadi maka hasil dari pelayanan akan bertahan lama dan dampaknya luas dibandingkan jika sebuah pelayanan hanya untuk membangun pelayanan saja.


Photo by Matheus Ferrero on Unsplash

Setiap manusia yang dikasihi oleh Allah telah berada di dalam Grand Design-Nya, oleh karena itu setiap anggota sudah tentu wajib untuk saling mengasihi.

Allah, Sang Pencipta saja mengasihi semua manusia sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi sesamanya, manusia. Allah yang begitu kudus rela turun ke dalam dunia menebus dosa manusia ketika manusia masih dalam dosa. Tidak ada hak bagi kita sesama manusia yang berdosa untuk saling membenci. Memang setiap manusia memiliki keunikan dan kelemahannya sendiri- sendiri. Tugas kita adalah mendukung, mengasihi, mengampuni agar setiap manusia dapat menjadi pribadi yang serupa dengan Yesus Kristus dalam proses pengudusan ini.

Seseorang juga perlu untuk mengasihi dirinya sendiri. Ukuran mengasihi orang lain adalah seperti bagaimana kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:39). Bagaimana bisa seorang mengasihi sesama manusia jika ia sendiri tidak mengasihi dirinya?

Akhir-akhir ini tempat pijat dan tempat tenang maupun budaya untuk berlibur dan berwisata makin marak. Fenomena ini diakibatkan oleh banyaknya orang yang merasa lelah bekerja melayani orang lain. Zaman ini terus menuntut perfomance sehingga orang dituntut dalam keadaan prima untuk bekerja dan memberikan yang terbaik bagi orang lain. Akibatnya, banyak orang lelah dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Memang, setiap manusia membutuhkan waktu untuk bisa mengasihi dirinya sendiri. Orang tidak bisa dipaksa untuk terus bekerja, tanpa mengisi ‘tangki ‘kebutuhan dalam dirinya.

Firman Tuhan mengatakan dalam Yohanes 15, setiap ranting agar bisa hidup dan berbuah harus melekat kepada Sang Pokok Anggur. Setiap orang yang melayani seharusnya memiliki relasi yang erat dengan Tuhan, agar kebutuhan kasihnya dapat terpenuhi. Pelayanan yang dilakukan juga seturut dengan kehendak Allah karena kita terus hidup bergaul intim dengan Allah. Pelayanan kita pun menjadi efektif serta berdampak bagi orang lain.

Suatu kali, Kak Yoseph bercerita dimana ia membutuhkan pertolongan Tuhan ketika melayani karena pelayanan adalah proyek Tuhan, bukan proyek manusia. Beliau menceritakan ketika mengadakan sebuah camp, ia mengalami kuasa Tuhan. Dalam acara tersebut terdapat sesi doa labirin di luar ruangan. Jika hujan, maka sesi ini terpaksa tidak bisa dilangsungkan. Kak Yoseph dan tim melantunkan doa agar cuaca tetap cerah. Dan ternyata benar, cuaca tetap cerah! Bahkan labirin yang dialasi oleh plastik sampai terasa panas hingga membuat para pemuda yang berjalan diatasnya menjadi tidak nyaman. Justru dalam sesi ini, banyak pemuda yang menangis dan merasakan hadirat Tuhan. Meskipun di akhir ada hujan rintik-rintik walau matahari tetap bersinar, mereka tetap bisa mengakhiri acara doa labirin dengan baik. Kak Yoseph melihat bahwa hujan itu adalah Allah yang bersama-sama menangis dengan anak-anak-Nya serta memeluk anak-Nya untuk pulang kembali. Nampak pelayanan yang merupakan sebuah hasil dari hubungan yang dekat dengan Tuhan membuat setiap orang dapat merasakan hadirat-Nya. Kasih Tuhan yang kita alami, menjadi bahan bakar dalam melayani orang lain sebagai keluarga.


Photo by Diego PH on Unsplash

Mari, melayani seorang dengan yang lain selayaknya keluarga dengan penuh kasih, sebuah kasih yang sejatinya telah terlebih dulu kita terima dari Allah.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE