Pendidikan Cinta

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 March 2019
Ketika kita selalu diajar untuk menguasai mata pelajaran, apakah mengherankan jika banyak orang lalu memakai kepintarannya untuk mencari kekuasaan?

Institusi-institusi pendidikan dunia mendidik warganya dengan dua tujuan utama, yaitu untuk menguasai sesuatu (apakah itu suatu keahlian atau bidang ilmu pengetahuan tertentu) dan memenangkan sesuatu (perlombaan yang tak pernah jelas wujudnya). Sementara dunia ini mendorong kita untuk menjadi the winners dan the masters (untuk menguasai sesuatu atau untuk berkuasa atas sesuatu), Firman Tuhan mendidik kita untuk menjadi the servants dan the lovers. Cinta seharusnya menjadi kata kunci di dalam hubungan Tuhan dan manusia dan di dalam hubungan manusia dengan sesama manusia serta makhluk lainnya.

Pendidikan Formal yang Membuat Cinta Terasing

Selama menjadi guru selama lebih dari dua puluh tahun, saya tak pernah menemukan panduan kurikulum nasional yang memakai kata ‘cinta’ dalam menetapkan tujuan instruksional atau indikator keberhasilan suatu pembelajaran suatu mata pelajaran. Dengan kata lain, ‘cinta’ tak pernah menduduki tempat yang sentral dalam hubungan guru dan murid, murid dan murid atau guru/murid dan mata pelajaran. Dengan kata lain, di sekolah kita tidak mengajar atau diajar untuk mencintai apa yang kita pelajari atau mencintai pembelajaran itu sendiri. Ketika (murid-murid) kita selalu diajar untuk menguasai mata pelajaran, apakah mengherankan jika banyak orang lalu memakai kepintarannya untuk mencari kekuasaan?

Di abad 16, Francis Bacon telah mendeklarasikan dimulainya sebuah abad yang baru, abad ilmu pengetahuan dengan kalimat “Knowledge is Power.” Power dalam artian kekuasaan diprasyaratkan oleh ilmu pengetahuan yang didasarkan pada rasionalitas murni yang dingin dan kering serta sistem skoring dan kompetisi yang pada akhirnya telah menjadi teror dalam hidup anak-anak yang tidak mampu menguasai knowledge.



Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash


Haruskah Cinta Berseberangan dengan Akal?

Mungkin juga ‘cinta’ seringkali dianggap jauh dari akademis, bahkan bertolak belakang dengan akal. ‘Akademis’ identik dengan berpikir kognitif sedangkan ‘cinta’ identik dengan afektif. Dalam kurikulum nasional, ranah afektif (dalam teori taksonomi Bloom) dikaitkan dengan sikap, nilai, dan perilaku (termasuk emosi) yang mana kesemuanya tidak cukup mendasar untuk disamakan dengan cinta.

Padahal, kalau kita membaca Matius 22: 37, Tuhan Yesus memerintahkan: “Kasihilah (agapeseis) Tuhan, Allahmu, dengan segenap…akal budimu (dianoia).” Dianoia, dalam Bahasa Yunani, artinya berpikir. Ujaran-ujaran seperti “cinta itu buta” atau “jatuh cinta itu musuh akal sehat” mengisyaratkan nihilnya hubungan antara dianoia dan agape.

Dengan bantuan buklet berjudul “CINTA” yang ditulis Pdt. Jadi S.Lima (dari Gereja Reformed Injili Indonesia), saya mencoba melihat hubungan antara akal dan cinta. Dalam halaman tujuh, dia mengulik pemikiran Santo Agustinus sebagai berikut:

“…ia (St. Agustinus) mengatakan kalimatnya yang tersohor, ‘Pondus meum, amor Meus’—my love is my weight. Istilah ‘weight’ di sini bukan berarti ‘bobot’ tetapi mengarah kepada ‘arah gaya gravitasi.’ Ketika kita mencintai dunia, kita tertarik untuk memiliki dunia…”

Dengan kata lain apa yang kita cintai menarik seluruh diri kita kepadanya. Mencintai ilmu pengetahuan berarti keseluruhan diri kita atau hidup kita tertarik kepadanya. Jelas menjadi sesuatu yang dilematis apabila kita mencintai Tuhan dengan segenap hati kita, “…bagaimanakah masih ada tempat bagi kasih kepada sesama dan benda-benda lain di alam semesta?” (hal 10).



Photo by Roman Kraft on Unsplash


Menyelesaikan Dilema Cinta

Tidak jarang kita melihat ilmuwan atau seorang profesional yang karena cintanya pada karirnya atau bidang penelitiannya, lalu mengabaikan keluarganya dan juga agamanya (hubungan-Nya dengan Tuhan). Atau sebaliknya, cerita misionaris John Sung yang menyatakan cintanya pada Tuhan dengan merobek ijazah doktor bidang kimia yang diraihnya.

Biasanya kita mendengar khotbah soal prioritas untuk menyelesaikan dilema ini. Tuhan prioritas utama, keluarga atau Gereja nomor dua, barulah orang-orang lain atau hal-hal lain nomor-nomor berikutnya. Khotbah semacam ini akan kontradiktif dengan bagian Alkitab yang lain yang memerintahkan kita melayani atau mengasihi sesama manusia sama seperti melayani Tuhan sendiri. Semangat Reformasi Protestan yang menyatakan semua pekerjaan, termasuk yang remeh-temeh seperti mengganti popok bayi yang penuh pup, sama mulianya dengan melayani Tuhan di altar gereja (memang kata-kata Martin Luther dalam hal ini agak keterlaluan dan menyakiti hati para pemimpin gereja).

Khotbah lain biasanya akan mengajak kita untuk menjaga keharmonisan atau keseimbangan antara berbagai karir dan keluarga, atau karir dan pelayanan, dsb. Itu juga bukan suatu hal yang bisa kita lakukan terus-menerus di tengah kehidupan yang penuh hal-hal tak terduga. Bagaimana bisa menjaga keseimbangan ketika laut di bawah perahu kita sedang bergelombang besar?

Jika masalah “mencintai yang lain terlalu banyak sementara mencintai Tuhan terlalu sedikit” bukanlah masalah prioritas atau keseimbangan, lalu bagaimana cara kita melihat semua ini seharusnya?

Pdt. Jadi menulis (hal 13), “…St.Agustinus dalam bukunya On Christian Doctrine, memakai framework yang mirip dengan semiotika… menunjukkan hubungan antara Tuhan sebagai signified (yang bersifat end-in-itself) dengan benda-benda ciptaan—termasuk manusia—sebagai signifier/signs (yang hanya merupakan penunjuk pada Sang Tritunggal).” Contohnya adalah Kejadian 1:26 yang menceritakan bagaimana manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan, jadi kita melihat manusia seperti melihat Penciptanya. Atau ketika membaca Mazmur Daud (Mzm 19:2-3) bagaimana langit menceritakan kemuliaaan Tuhan dan mengerjakan pekerjaan tangan-Nya, melihat langit seperti melihat Penciptanya. Jadi melihat apa pun ciptaan Tuhan seperti melihat Penciptanya. Melihat anak dan istri seharusnya seperti melihat Tuhan sendiri. Melihat pekerjaan kantor seharusnya seperti melihat karya Tuhan sendiri. Cara pandang ini bukan mengubah segala sesuatu menjadi Tuhan, melainkan menjadikan segala sesuatu yang lain pada tempat yang seharusnya dalam hubungan Tuhan dan segala ciptaaan-Nya.



Photo by Patrick Hendry on Unsplash


Pendidikan yang Mewujudkan Cinta

Sikap kita ketika mempelajari suatu ilmu pengetahuan pun harus kembali pada acuan atau rujukan akhir pada Penciptanya sendiri. Dengan demikian, mencintai ilmu pengetahuan tidak akan melupakan Penciptanya jika kita mengakui bahwa segala ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan. Mencintai ilmu dengan segenap hati berarti mencintai Tuhan dengan dengan segenap hati juga. Dalam hal inilah Pendidikan Kristen seharusnya mewujudkan suatu kondisi di mana worship and learning has become one.

Pendidikan ini sekali lagi harus didasarkan pada cinta dan bukan pada nafsu untuk menguasai. Hal yang paling menyedihkan adalah melihat anak-anak belajar pelajaran agama Kristen bersama orang tua mereka yang Kristen pada malam sebelum ujian mapel agama keesokan pagi. Orang tua seringkali berteriak ketika anaknya bolak-balik salah menjawab pertanyaan yang sudah berkali-kali dilatih. Yang diteriakkan dengan suara keras dan nada marah misalnya adalah isi 10 Perintah Allah. Alhasil, suara Allah yang garang dan penuh kemarahan akan direkam dalam kalbu anak-anak kecil itu sampai tua nanti. Suasana belajar pelajaran agama yang tidak manusiawi akan menyedihkan hati Tuhan dan malah menghancurkan Nama Tuhan yang indah dan penuh kasih. Kurikulum pelajaran agama seharusnya mempertimbangkan pedagogi yang penuh kasih dan naratif dalam mengajarkan isi Alkitab atau bahkan belajar agama itu sebenarnya sedang belajar mengenali Tuhan. Belajar isi Alkitab itu adalah belajar menyembah Tuhan. Kalau fokusnya hanyalah menguasai pengetahuan tentang isi Alkitab, maka sangat mungkin anak-anak justru menghafal bagian kekejian manusia.

Love Meets Sense of Wonder

Belajar mengenal dan mencintai Tuhan dalam mapel agama akan menjadi dasar ketika belajar ilmu-ilmu alam dan matematika atau pelajaran ilmu sosial. Berlawanan dengan tujuan pendidikan formal yang umumnya dipenuhi desakan untuk menguasai ilmu alam untuk menaklukkan dan memanipulasi alam bagi kepentingan kita, pendidikan ilmu alam yang didasari cinta kepada Tuhan akan berpadanan dengan rasa takjub (sense of wonder) terhadap rahasia alam yang menunjukkan keteraturan pikiran Sang Pencipta. Bahkan pengenalan akan Sang Pencipta tidak akan lengkap kalau hanya belajar ilmu agama tanpa mempelajari alam ciptaanNya. Pdt. Jadi menuliskan (dalam halaman 13): “Di dalam semuanya itu kita menikmati Diri Tuhan sendiri melalui media gratiae (media yang dianugerahkan. Pen.) Tuhan yakni segenap ciptaan dan Firman.”



Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash


Saya mengalami sendiri bagaimana keingintahuan saya dan nafsu untuk menguasai ilmu fisika multidimensional mendorong saya ke tubir jurang keraguan atas realita yang saya hidupi. Teori-teori fisika canggih yang dipelajari hanya dengan akal yang dingin membunuh cinta akan kehidupan dan realita sehari-hari yang telah dianugerahkan Tuhan. Hanya karena kasih dan anugerahNya, saya kembali mengalami kebesaran Tuhan di dalam ciptaan-Nya. Sejak saat itu saya selalu memeriksa diri saya apakah (sebagai seorang guru) saya sedang mengajarkan ilmu untuk dikuasai para siswa dengan metode ilmiah yang tak berjiwa ataukah saya sedang mengajarkan ilmu untuk kehidupan; apakah para siswa sedang belajar menguasai dan menaklukkan dunia atau sedang menikmati kasih dan kebesaran Tuhan di dalam dunia ciptaan dengan segala permasalahannya. Kadang di akhir sebuah studi di malam hari, tanpa terasa air mata mengalir di pipi seraya berbisik, “Ajaib benar pengetahuan dan hikmat yang tersimpan di dalam pundi-pundiMu, ya Tuhan. Telah Kau tetapkan hukum-hukum alam sebagai dasar bumi dan jagad raya, ijinkan hambaMu menikmati sekelumit saja dari isi pikiranMU yang agung tak terselami.” Semoga itu juga yang menjadi isi doa para muridku, bukan hanya, “Tuhan, tolong aku lulus dalam ujian besok.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE