Percakapan Politis yang Dipenuhi Anugerah

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 April 2019
Politik sangat sedikit bergantung pada karakter satu atau dua pemimpin. Politik adalah kerja kolektif banyak pemimpin dan instansi, bahkan kerja kolektif seluruh bangsa.

Dalam sebuah buku I Think You’re Wrong (But I’m Listening): A guide to grace-filled political conversation (terbitan Nelson Books, 2019), Sarah Stewart—seorang Democrat—dan Beth Silver—seorang Republican—menulis:

Over the past few years, conversations about politics have started feeling toxic and hopeless. People we sit in the pew with every Sunday have begun to feel like strangers, and loved ones sitting across our dinner tables feel like enemies. When the news become sensational, we know that our Facebook feeds will turn from sweet baby videos and sunny vacation snapshots to ugly memes and hate-filled rants. Folks we witness every day as loving and kind suddenly feel vengeful and angry when discussing presidential candidates.

Pengalaman yang sama sedang kita alami hari-hari ini. Ada yang sudah memutuskan untuk mengungkapkan pilihannya yang berbeda dari pilihan keluarga besarnya atau teman-teman sekantornya atau teman-teman di sosmednya, apa pun resikonya! Mau di-delete dari grup atau di-unfollow di Twitter atau dikucilkan orang sekantor atau dimusuhi bos atau bahkan diputusin pacar yang baru jadian 14 Februari lalu. Terserah! Ada yang memilih diam seribu bahasa sambil meringis di dalam hati setiap kali jagoannya diejek habis-habisan di depan hidungnya tanpa dia mampu membelanya. Ada rasa sakit yang dipendam, ada rasa hilang di tengah keramaian, ada hati yang gersang, dan ada yang terasingkan, terkucilkan.

Konflik batin tidak terselesaikan jika kita memilih untuk diam seribu bahasa dan mencurahkan semua yang selama ini tak tertahankan dengan satu coblosan di bilik suara. Konflik juga kemungkinan kecil terselesaikan apabila kita memilih untuk mendeklarasikan pilihan kita dengan histeris dan emosional di ruangan yang sedang dipenuhi seloroh kurang ajar seputar beloonnya jagoan kita dan langsung meninggalkan ruangan yang dipenuhi wajah-wajah melongo campuran kaget, bingung dan terhenyak. Konflik biasanya akan terjadi dan hanya akan selesai dalam sebuah percakapan politis yang dimulai dengan tanya setengah canda, “Masak sih, nggak ada yang bagus dari capres-cawapres yang itu?” dan dilanjutkan dengan gurauan setengah serius, “Memangnya, apa yang membuatmu yakin 100% pada pilihanmu?” Konflik akan segera berubah menjadi ajang baku hantam jika kamu menutup percakapan yang belum selesai dengan kalimat, “Kamu dibayar berapa untuk jadi timsesnya?”



Photo by Marten Bjork on Unsplash


Namun percayalah, antara diam dan baku hantam, masih ada yang namanya percakapan, diskusi, debat, dan tukar pikiran yang dipenuhi anugerah. Sarah dan Beth menganjurkan kita untuk tidak menghindari percakapan politis di meja makan (hati-hati tersedak), di gereja, dan di grup WhatsApp teman lama atau keluarga. Kita mungkin memulai percakapan dengan keyakinan bahwa pilihan kita lebih baik atau lebih benar dari pilihan teman bercakap kita. Kita percaya ada distorsi informasi yang perlu diluruskan atau ada rasa ingin tahu yang begitu besar mengenai alasan di balik pilihan teman kita.

Percakapan sensitif ada baiknya dimulai dengan klarifikasi standpoint kita sendiri dalam memilih. Dalam hal ini, esensi yang dibahas kadang tak terhindarkan bersifat filosofis, misal, “Dibanding demokrasi liberal, aku lebih memilih demokrasi terpimpin di bawah figur kuat yang mampu mengonsolidasikan seluruh potensi bangsa.” Atau, “Aku tidak akan mengorbankan komitmen pluralisme untuk kemajuan ekonomi dan kemudahan usaha yang berapa besar pun.”

Oh, ya, jika kita ingin bercakap, tukar pikiran, dan berdiskusi, kata-kata kita tidak boleh cuma ‘bersayap’ melainkan harus memiliki isi dan substansi. Tidak boleh hanya beretorika, apalagi yang murahan, melainkan juga harus mampu berlogika. Retorika-retorika semacam, “milenial, ya, pilih yang muda dong,” atau, “Tuhan nomor satu, presiden nomor dua,” atau, “pilih kok capres penyebar hoax,” atau, “jalan tolnya mau, kok presidennya nggak,” adalah tipe-tipe retorika tak bermutu yang dengan mudah akan menyulut api dalam sekam.



Photo by Jessica Da Rossa on Unsplash


Sebelum kita berencana untuk lebih serius bicara politik, saya sarankan kita subscribe youtuber ric snt, anak muda Tionghoa yang keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke (dengan mengandalkan belas kasihan orang setempat di mana saja) demi menebus masa lalu yang dihantui peristiwa Mei 98. Melalui video-videonya kita akan diingatkan betapa indahnya negeri kita, betapa ramahnya orang Indonesia, dan betapa beragamnya Indonesia.

Indonesia bukanlah capres A atau capres B, partai A atau partai B, ormas A atau ormas B, agama A atau agama B, politisi A atau B yang sering berkoar-koar menyebar bau tak sedap. Indonesia adalah orang-orangnya (dari Sabang sampai Merauke). Indonesia adalah kita. Kita adalah Indonesia. Jangan ganti frasa itu menjadi ‘Jokowi adalah kita’ atau ‘Prabowo adalah kita.’ Indonesia terlalu besar untuk direpresentasikan oleh satu dua orang atau satu dua partai atau satu dua event demokrasi.

Politik memang mencakup banyak aspek dalam kehidupan. Rekening di bank berkait dengan kebijakan pajak dari sang presiden. Kenyamanan dan keamanan di jalan bergantung pada komitmen jangka panjang dalam pembangunan infrastruktur. Keleluasaan berwirausaha dipengaruhi iklim politis dan kebijakan di bidang teknologi dan ekonomi. Kedamaian di hati tergantung pada jaminan kebebasan dalam beribadah yang dilindungi pemerintah. Apapun aspeknya, hendaknya diingat bahwa politik sangat sedikit bergantung pada karakter satu atau dua pemimpin. Politik adalah kerja kolektif banyak pemimpin dan instansi, bahkan kerja kolektif seluruh bangsa. Salah pilih seorang presiden tidak perlu berarti runtuhnya seluruh aspek kehidupan kita atau berakhirnya seluruh hal baik di negeri ini. Ingatlah bahwa Indonesia adalah anugerah Tuhan untuk kita.

Akhirnya, jika diskusi kita dipenuhi kasih Kristus, seharusnya ada pengakuan atas kekurangan sendiri dan penghargaan atas kekuatan lawan. Kita perlu untuk saling mengampuni atas kata-kata kasar yang sempat terucap dan melupakan emosi sesaat yang sempat meluap, lalu berjabat tangan tanda kita masih satu Indonesia, Indonesia yang indah dan penuh anugerah. Semoga diskusi atau debat politik kita dilakukan dengan mengingat Indonesia dan mempraktikkan kasih Tuhan dan menjadi percakapan yang penuh anugerah bagi lawan bicara.

Selamat berpesta demokrasi!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE