Perjalanan Menemukan Diri, Semoga Kita Tidak Lekas Berhenti

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
"Ada dua hari terpenting dalam hidup kita," tulis Mark Twain, "hari saat kita dilahirkan dan hari saat kita mengerti kenapa kita dilahirkan."

Namun bagaimana jika ‘hari yang kedua’ itu seperti tak kunjung tiba, sedangkan segenap kegelisahan merongrong begitu rupa? Ketika berbagai pertanyaan tidak sekadar mengusik, melainkan memberondong dan menuntut jawaban paling paripurna?

Ekstrimnya, bukankah hidup yang penuh ketidaksempurnaan ini jadi tampak tak layak untuk dijalani lagi? Apalah bedanya kita dengan makhluk hidup lain jika cuma eksis untuk menghabiskan stok oksigen di muka bumi?


Photo by Verne Ho on Unsplash

Saya pun pernah (dan masih) bergumul panjang mengenai siapa diri saya dan kehidupan saya. Hingga di satu titik, kala desakan-desakan di dalam kepala makin ganas menginvansi, saya memilih berhenti.

Saya berhenti bertumbuh. Saya berhenti bermimpi. Saya berhenti menginginkan. Saya berhenti mengerjakan apa yang bisa dan biasa saya lakukan. Simply, karena saya tak menjumpai hidup yang lebih bermakna.

Hidup jadi stagnan di fase "hanging there." Bertahan dari hari ke hari saja cukuplah. Sudah untung, saya tidak mengeksekusi ide-ide yang lebih gelap dari itu.

Tentu ini memengaruhi persepsi saya terhadap Sang Khalik. Ada rasa marah. Ada rasa kecewa. Ada rasa ditinggalkan. Mengapa Tuhan hanya berdiam diri. Mengapa kehidupan ini mirip lelucon para dewa atau ketidakberaturan kosmos saja. Mengapa kepingan di masa lalu dan yang sekarang berkelindan terlihat seperti desain yang tidak masuk akal. Acak adut dan buram, begitulah yang saya tengok di belakang.

Menuju pertambahan usia ke dua puluh tiga, salah satu teman baik bahkan mengirimkan pesan, "Aku perhatikan, kamu kehilangan warnamu yang personal." Ah, akurat. Seandainya kami bertemu langsung, akan dia dapati saya memang terengah-engah dan sedang hilang arah.

Kalau kamu berharap tulisan ini akan jadi kesaksian yang ujug-ujug, kamu salah besar. Tidak ada titik balik spesifik yang selanjutnya memutarbalikkan keadaan. Walau saya sebenarnya berharap demikian, biar hidup saya jadi kedengaran menarik untuk dituturkan ulang.

Namun sungguh, tidak ada suara magis atau peristiwa ajaib yang menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Namun, bukankah itu yang justru dialami oleh kebanyakan orang percaya, bahwa tak semua dari kita beroleh anugerah untuk mengalami momen putar arah yang dramatis?

Kebanyakan dari kita pada akhirnya memilih untuk tetap menyimpan pertanyaan-pertanyaan besar di dalam kepala sambil menahan luka-luka karenanya.

Entah dengan posisi berdiri atau merangkak, kita kembali memberikan diri pada rutinitas yang repetitif. Pertama, karena ada tanggung jawab yang terlanjur mengikat. Ada keluarga yang patut dipikirkan. Ada studi yang harus diselesaikan. Ada atasan yang mesti dipuaskan. Ada perut yang wajib dikenyangkan, dan seterusnya.

Kedua, karena waktu akan bergulir melindas terus tanpa menunggu kita sepenuhnya berdamai dengan segala sesuatu. Tak terasa, hari sudah petang. Tak terasa, usia makin matang. Tak terasa, tenggat ini-itu menjelang. Mau termangu sampai kapan?

Ketiga, karena entah bagaimana, ada saja topangan yang terus menyokong jalan. Sekeras apa pun saya berusaha meminimalkan penyebutan peran Tuhan, Ia setia memunculkan jejak di dalam keseharian, kesederhanaan, bahkan lewat keheningan dan kekelaman.

Saya mendapati Tuhan melalui pertolongan-pertolongan kecil yang tiba tepat waktu. Saya meraba kehadiran Tuhan melalui perhatian hangat dari mereka yang terdekat. Saya sayup mendengar bisik Tuhan melalui riuh yang bersahutan di jalanan.

Sedikit banyak saya pun mengalami--mirip seperti Ibu Theresa dalam pergumulan imannya--melihat wajah Yesus pada wajah-wajah orang lain yang dilayani setiap hari.

Saya sudah pernah mencoba kok, menguliti segala hal yang sifatnya spiritual demi membuktikan premis, "jika memang harus saya yang mengambil alih kemudi, sekalian saja sosok Tuhan beserta segala atribut agamis dilepaskan sama sekali!"

Namun tidak, tidak semudah itu kita mangkir dari tangan Tuhan, meskipun kita berpikir telah luput dari rengkuhan-Nya. Di unsur kehidupan saya yang paling mikroskopis dan subtil sekalipun, hanya ada sunyi dan hampa kalau Sang Alfa dan Omega tidak memberi definisi dan konteks.

Keberadaan saya secara penuh terkandung dalam kedaulatan Allah yang sempurna. Asal muasal dan proses gumul-juang saya, bahkan apa yang membayangi saya di balik daun pintu kematian, semuanya terefleksi di deretan ayat-ayat kudus.


Photo by Olivia Snow on Unsplash

Tuhan rupanya pekat, dalam tiap komponen udara yang saya hela ketika kewalahan menghadapi tekanan berat. Tuhan rupanya larut, dalam tetes air mata yang jatuh ketika menyaksikan pengharapan jadi carut-marut. Tuhan rupanya membaur, dalam bulir darah yang mengucur hingga helai rambut yang meluncur--semuanya Ia tahu.

Saya dan Tuhan semestinya manunggal, dosa lah yang menjadi satu-satunya pengganjal. Ini pun tetap dilingkupi fakta: secara ontologis saya memang pendosa sejati, tetapi saya ini pendosa sejati yang amat Dia kasihi. Bersamaan dengan keberdosaan saya yang meresap hingga ke sendi-sendi, kasih-Nya merembes jauh, dan jauh lebih dalam lagi.

Jadi, bagaimana ujungnya?

Mungkin sekarang kamu mengharapkan ending tulisan yang bahagia. Sayangnya, saya harus menurunkan ekspektasimu lagi karena saya tidak memiliki jawaban sederhana.

Soalnya begini… ada yang tak kalah penting dari menemukan jawaban yang tepat. Yakni mengajukan pertanyaan yang tepat, kepada Pribadi yang tepat. Maka, jangan ragu menghadap tahta kasih karunia Tuhan dan sesekali menggugat.

Sang Pencipta tidak ciut pada pertanyaan-pertanyaan kita yang terbesar. Sebab Ia tahu, kita lah yang sebenar-benarnya butuh waktu, untuk mencerna, menghadapi, pun menghidupi jawaban dari-Nya lewat semesta.

Dalam perjalanan memahami hidup dan diri sendiri, kita hanya harus terus berjalan. Terus mencari. Terus mengetuk. Seraya terus mengingat bahwa kita menjelajah tidak sendirian.

Saya dan kamu bukan musafir yang ditelantarkan. Saya dan kamu adalah anak-anak-Nya yang sedang jatuh-bangun di jalan pemurnian.

Semoga kita tidak memilih untuk berhenti lebih cepat dari yang seharusnya, dalam proses untuk terus menemukan diri bersama-Nya.


Photo by magnezis magnestic on Unsplash

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE