Perjalanan Menemukan Diri Sendiri

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
Tapi setidaknya, aku yang hilang, kini telah kembali.

Aku merasa baik-baik saja hingga aku sadar bahwa aku telah menjadi orang lain. Ketahuilah bahwa ini sangat menyiksa. Entah apa yang membentuk diriku menjadi seperti ini, tapi dari dulu aku percaya bahwa menyenangkan semua orang adalah sebuah kewajiban. Bisa menciptakan suatu harmoni, suatu kedamaian, tanpa kehadiran suatu konflik, itulah kebanggaan. Pada awalnya aku merasa tidak ada kendala untuk mewujudkan prinsip ini. Namun, aku mulai menghadapi realita yang sesungguhnya ketika beranjak remaja. Tuntutan pendidikan, pertemanan, dan keluarga perlahan menciptakan gesekan demi gesekan.

Saat itu, aku masih berusaha menjalani peran bahwa aku perlu menyenangkan semua orang. Aku akan berbuat apapun yang aku anggap baik untuk membuat orang lain bahagia. Ya, tentu yang baik buat mereka belum tentu baik bagiku dan yang menyenangkan buat mereka belum tentu menyenangkan bagiku. Akhirnya, aku sering mengalah dan mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk orang lain. Dari hal-hal sederhana seperti yang sering disebut sepele, semacam pilihan menu makan hingga bentuk pilihan yang lebih fundamental, seperti cita-cita.

Pertempuran di dalam diri muncul. Aku tidak dapat menjadi diriku sendiri. Aku tidak bisa mengungkapkan isi hati dengan jujur. Aku tidak bisa memilih pilihan yang aku suka. Aku harus memendam keinginan. Aku harus berbohong pada diri sendiri. Hal ini aku lalui layaknya analogi mengonsumsi junk food! Aku menyadari jika hal ini terjadi secara berlebihan, maka akan berbahaya. Tetapi lucunya aku terus menerus melakukan ini. Aku merasa dapat dicintai dan diterima jika aku mampu menyenangkan semua orang. Pemikiran inilah yang mendorongku melakukannya.


Photo by Vangelis Evangeliou on Unsplash

Harapan itu pupus. Orang-orang di sekitar tidak dapat mengerti seberapa besar pengorbananku untuk mereka. Akhirnya, meskipun sudah berusaha mati-matian demi mereka, tetap saja ada perilaku negatif yang aku terima, tetap saja ada kekecewaan yang mendera. Aku tidak bisa sepenuhnya mendapatkan kasih dan penerimaan seperti yang aku butuhkan.

Dengan bertambahnya usia, kondisi kerohanianku semakin bertumbuh. Aku menemukan mentor rohani yang membimbing dan dapat menerima aku apa adanya. Terlebih yang memahami mengapa false belief ini terjadi. Aku percaya tidak ada yang kebetulan. Kemudian, Tuhan juga memberikan panggilan dalam hidupku untuk melayani jiwa-jiwa. Sehingga aku mengambil psikologi sebagai jurusan kuliah. Aku belajar banyak sekali mengenai manusia dan berbagai dinamika yang ada di dalamnya. Sekalian berobat jalan, kalau kata orang. Tak salah juga.

Perlahan aku dapat mengoreksi false belief-ku yang beranggapan aku harus menyenangkan semua orang. Aku berani berkata tidak, aku berani tegas, setidaknya pada diriku sendiri. Aku mulai menghargai pilihanku sebagai pribadi dan mulai memberi batasan mengenai seberapa jauh orang lain dapat mengatur keinginanku. Sebagai hasilnya, perlahan aku pun dapat menemukan damai sejahtera.


Photo by Vangelis Evangeliou on Unsplash

Beberapa minggu lalu aku membeli sebuah buku berjudul “The Approval Fix” karya Joyce Meyer. Buku ini bercerita bagaimana dapat lepas dari kecenderungan untuk menyenangkan semua orang. Memang kadang Tuhan suka bercanda, pikirku. Ketika aku membaca buku itu, aku merasa seluruh isi buka sedang bercerita tentangku. Aku merasa tertegur, merasa disentil oleh Tuhan.

Dari buku itu, aku belajar bahwa Tuhan sedih dan tidak ingin aku berbuat demikian. Keinginan untuk menyenangkan semua orang itu ternyata merusak! Mengapa? Karena aku menggantungkan kebahagiaan dan nilai diri aku pada penilaian manusia. Aku akan merasa berharga jika bisa membuat orang lain bahagia. Di sisi lain, manusia sendiri adalah pribadi yang tidak luput dari kelemahan. Tuhan menyatakan bahwa aku berharga, karena Ia menciptakan aku demikian adanya. Jadi, keberhargaan diriku sudah penuh datangnya dari Tuhan.

Selain itu, buku ini juga menyadariku akan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Ketika kita terlalu menggantungkan diri pada manusia, dan sekali-kali mereka menolak kita, maka kita cenderung untuk menilai Allah sebagai pribadi yang demikian juga. Padahal, tidak seperti itu. Kasih dan kemurahan Allah jelas sangat berbeda dengan yang manusia miliki. Kasih dan anugerahNya juga memampukanku untuk menerima kelemahan diri. Aku diingatkan dan diajar untuk mencintai dan menghargai diriku sendiri terlebih dulu sebelum ke sesama.


Photo by David Charles Schuett on Unsplash

Namun, proses ini belum sepenuhnya berhasil, sampai hari ini pun belum.Tapi setidaknya, aku yang hilang, kini telah kembali. Aku mulai menemukan, mengakui, dan terus berupaya menghayati nilai berharga diriku di mata Tuhan. Aku menyadari ketika aku menjadi orang lain, ini tidak menyenangkan hati Tuhan. Anugerah Tuhan memampukanku untuk menerima dan mencintai diriku sepenuhnya.

I was once lost, but now i'm found. I have found myself in Him.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE