Pernyataan Iman: Tuhan, Kau Ambil Lagi Ya?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 November 2017
Namun, perlindungan-Nya bagi kita sebenarnya sangat cukup untuk mengubah pertanyaan yang tidak pernah habis menjadi sebuah pernyataan iman kepada Allah.

Dalam hidup ini manusia mempunyai sahabat karib yang begitu setia menemani, namanya adalah penderitaan. Penderitaan tidak pernah rasis, tidak memandang muka, dan tidak peduli dengan status sosial seseorang. Penderitaan selalu melekat dengan kehidupan manusia. Sesungguhnya kalau diijinkan, manusia sepertinya enggan untuk bersahabat dengan penderitaan, tetapi nyatanya manusia tidak mampu untuk lepas dari dekapan penderitaan. Beberapa orang menjadi marah, kecewa, sedih, putus asa, hancur dan bahkan memilih untuk berhenti menjalani hidup ketika bersahabat dengan penderitaan. Namun sebaliknya, beberapa orang justru mampu bersyukur dan mampu menemukan apakah arti dalam hidup ini.

PERTANYAAN YANG TIDAK PERNAH HABIS

Ketika kita menghadapi penderitaan, mungkin seringkali kita mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan:

“Mengapa harus saya?

“Mengapa Engkau meninggalkan aku?”

“Kapan penderitaan ini harus berakhir?”

Apakah salah ketika menanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas? Sah-sah saja kok jika kita bertanya kepada Allah. Bukankah itu sebuah ungkapan yang jujur sebagai manusia yang sarat dalam keterbatasan? Di satu sisi kita percaya akan perlindungan Allah kepada anak-anak-Nya. Namun, di sisi yang lain kita tidak percaya ketika penderitaan datang kepada kita yang dikasihi Allah. Penulis Mazmur pun banyak mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan kebingungan mereka tentang Allah. Ada beberapa Mazmur yang ditulis dengan nada putus asa, kesedihan, kemarahan, dan kebingungan tentang perlindungan Tuhan. Pemazmur secara jujur menuliskan keterbatasannya akan pemahamannya tentang Allah ketika melihat penderitaan yang terjadi.


Foto USG, rahim yang kosong

Sebagai manusia, seringkali kita tergoda untuk mendefinisikan perlindungan Allah menurut versi kita. Jika Allah melindungi kita, maka kita akan bebas dari penderitaan. Keluarga kita harmonis, terbebas dari penyakit, terbebas dari pergumulan, terbebas dari kegagalan, terbebas dari guru atau dosen pembimbing yang killer, tidak pernah gagal dalam ujian, tidak ngulang mata kuliah, tidak ditolak gebetan, tidak patah hati karena ditikung sahabat, uang bulanan selalu on time, pelayanan selalu mendapatkan pujian, relasi dengan teman pelayanan tidak ada konflik, majelis selalu mendukung dana program komisi remaja dan pemuda, dan lain-lain sesuai dengan hal-hal indah yang kamu inginkan. Kalau boleh jujur, kita semua mendambakan hidup yang seperti itu. Sayangnya, kehidupan seperti itu hanyalah sebuah delusi.

Philip Yancey menceritakan pengalaman dia mengunjungi Newton setelah peristiwa penembakan di SD Sandy Hook. Dia diberikan kesempatan berbicara kepada komunitas gereja di Newton. Ada seorang yang bertanya: “Apakah Allah akan melindungi anak saya?” Yancey mengungkapkan bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling tidak ingin dia dengar. Dia terdiam cukup lama dan betapa inginnya dia menjawab dengan mantap, “Ya Allah tentu saja akan melindungi Anda. Izinkan saya membacakan beberapa janji dari Alkitab.” Tetapi akhirnya dia berkata:“Tidak. Maafkan saya. Saya tidak dapat menjanjikan hal itu.” Tak seorang pun dari kita yang dikecualikan. Kita semua akan mati, ada yang di usia lanjut, dan tragisnya, ada juga yang di usia belia. Allah memang menyediakan dukungan dan solidaritas, tetapi bukan perlindungan—setidaknya bukan jenis perlindungan yang begitu kita dambakan. Di planet yang terkutuk ini, bahkan Allah sendiri telah menderita karena kehilangan seorang Anak. Perlindungan yang Allah sediakan terkadang tidak selaras dengan perlindungan yang kita dambakan. Namun, perlindungan-Nya bagi kita sebenarnya sangat cukup untuk mengubah pertanyaan yang tidak pernah habis menjadi sebuah pernyataan iman kepada Allah.

PERNYATAAN IMAN: TUHAN AMBIL LAGI YA?

“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”


Photo by Francisco Moreno on Unsplash

Ketika kita berbicara tentang penderitaan, setidaknya kita akan teringat dengan kisah penderitaan Ayub. Ayub seharusnya bisa untuk kecewa dan marah kepada Allah. Saya membayangkan betapa dashyat letusan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah ketika Ayub melihat fakta yang terjadi dalam hidupnya. Namun, yang keluar dari mulutnya adalah sebuah pernyataan iman. Dia sadar bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan dan Dia bebas mengambilnya dari kita. Kesadaran itulah yang menolongnya tetap mampu melihat perlindungan Allah. Sudahkah kita sadar bahwa hidup kita adalah pemberian Tuhan?

Saya ingin membagikan pengalaman kehilangan saya dan istri pada Oktober yang lalu. “Tuhan ambil lagi ya? Ya sudah gapapa kalau memang Tuhan ambil lagi” kata istri saya ketika mengalami pendarahan di toilet rumah sakit. Dia segera bergegas ke dokter dengan berharap anak kami masih ada, tetapi kami harus mengalami kembali pil pahit itu. Istri saya keguguran untuk ketiga kalinya. Rahimnya sudah kosong. Hari yang sulit itu kembali lagi harus kami alami. Awalnya, kami tidak percaya. Kondisi janin pada kehamilan kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya dan istri pun sudah bedrest di rumah. Keguguran kali ini juga benar-benar mengagetkan karena sebelumnya tidak ada kontraksi. Pendarahannya keluar begitu saja seperti ketika buang air kecil. Sekali lagi, kami merasa sepertinya Tuhan PHP-in kami. Tapi kami diingatkan kembali, sudahkah kami sadar bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan?


Photo by Ben White on Unsplash

John Ortberg mengatakan: “If you ask people who don’t believe in God why they don’t, the number one reason will be suffering. If you ask people who believe in God when they grew most spiritually, the number one answer will be suffering.” Penderitaan memang sahabat yang sangat erat dengan kehidupan manusia. Penderitaan mampu membuat manusia meluapkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah habis, marah, kecewa dan akhirnya tidak melihat perlindungan Allah dalam hidupnya. Namun, bagi orang yang menyadari bahwa hidup ini adalah pemberian Tuhan dan Dia bebas mengambilnya dari kita, penderitaan itu justru mampu membuat mereka mengubah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah habis menjadi sebuah pernyataan iman yang membuatnya semakin bertumbuh di dalam iman dan berpegang kepada Allah. Bukan karena kita memiliki kekuatan untuk menghadapinya, tetapi karena kita tahu ada Allah yang mahakuasa yang melindungi anak-anak yang dikasihi-Nya. Selamat mengalami perlindungan Tuhan dalam hidupmu.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE