Pertemanan yang (Saling) Memanusiakan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Oktober 2018
Memiliki teman yang manusiawi, yang memiliki kebutuhan yang dapat kita isi.

Di abad ke-3 SM. Quintus Ennius menulis: "Amicu certus di re incerta cernitur'. Ini diterjemahkan dari bahasa Latin sebagai 'teman pasti dikenal ketika dalam kesulitan' atau yang kita kenal melalui kalimat ini: a friend in need is a friend indeed.

Kata-kata ini biasanya paling umum dimengerti dalam konteks bagaimana seseorang akan membuktikan kualitas persahabatan yang ditawarkannya dengan siap ketika kita sedang membutuhkan. Namun, bisa juga sebenarnya dimengerti bahwa seorang teman yang mempunyai kebutuhan adalah teman sesungguhnya. Dalam arti, kita senang memiliki teman yang memiliki kebutuhan yang dapat kita isi. Atau dalam arti lain, ada kesediaan untuk diisi. Hal ini berdasarkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki semacam perasaan ingin dibutuhkan oleh orang lain, maka pertemanan ditujukan untuk membuat seseorang merasa dirinya berarti dan orang yang membuatnya merasa seperti itulah yang akan layak disebut sebagai teman atau sahabat baginya.



Photo by rawpixel on Unsplash


Kawan Sebangku, sebuah kesederhanaan dalam rutinitas


Lalu apa itu kawan sebangku? Biasanya sih orang akan menggambarkan soal ini melalui memori mereka tentang kawan sebangku di masa-masa sekolah atau kuliah. Berdua sedang duduk di suatu ruang kelas, misalnya. Saling bantu kalau soal ulangan terlalu sulit (kadang-kadang barangkali saling mencontek), belum mengerjakan PR, kekurangan uang jajan, dan tentunya tidak pernah berhenti menikmati waktu bersama-sama. Sesekali terlibat cekcok atau kesalahan tapi dengan adanya kesalahan dan cekcok itu, kawan sebangku akan membuka kembali mata masing-masing bahwa ternyata masih perlu memperbaiki diri.

Dengan kesalahan dan cekcok jugalah, masing-masing bisa menilai untuk melanjutkan pertemanan sebangku ini atau tidak. Dan terus begitu setiap harinya sampai akhirnya perjalanan hidup menentukan arah masing-masing. Sesederhana dan serutin itu tapi tidak ada yang kosong dengan kesederhanaan dan rutinitas itu. Tidak ada yang kosong disana karena adanya saling kehadiran yang membentuk kebersamaan. Sebuah kebersamaan yang mungkin saja mengisi kekosongan masing-masing.



Photo by Helena Lopes on Unsplash


Menjadi manusia melalui Memori dengan Kawan Sebangku


Orang yang hadir di sebelah kita itu dalam perjalanan waktu bersamanya telah menuntun kita keluar dari cangkang kita. Bagaikan anak ayam yang keluar dari telur, sebuah kehidupan baru yang muncul dari cangkang telur yang merekah. Ia telah membuat hari-hari seperti hidup yang baru yang membuat kita makin lebih hidup karena terbukanya kesempatan dibutuhkan dan membutuhkan. Kawan sebangku mengingatkan dan mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia bersama manusia lainnya yaitu saling bahu-membahu, saling mendukung, dan saling membantu proses tumbuh kembang sebagai manusia. Menjadi manusia melalui proses berdamai atas perselisihan, persinggungan, persaingan baik diam-diam maupun terang-terangan, kesalahpahaman, dan bahkan konflik.

Kemanusiaan kita terbentuk juga oleh memori dan memori karena point of contact dari pribadi yang pernah hadir di sebelah kita. Batu diasah oleh batu dan besi dipertajam dengan besi. Menangisi atau menertawakan masa lalu (yang tak sedikit diisi hal bodoh) yang pernah dilakukan bersama. Mungkin dengan sedikit keberuntungan, kita dan kawan sebangku kita terselamatkan dari lemparan penghapus papan tulis, berbeda dengan yang dialami rekan pasangan sebangku lainnya yang duduk di paling belakang karena mereka kebisingan mereka lebih terdengar daripada keberisikan kita.



Photo by Omar Lopes on Unsplash


Memori dengan kawan sebangku, mengantarkan kita kembali pada kejadian atau peristiwa kekanak-kanakan yang kalau diingat-ingat lagi bisa bikin geleng-geleng kepala sambil geli. Misalnya, bertengkar karena hal sepele. Hanya karena sedang bosan duduk dengannya, jadi buat esok hari rasanya ingin duduk dengan yang lain. Tapi ia menolak dan bersikukuh tetap ingin duduk bersama seperti biasa entah mengapa. Juga teringat memori tentang hal-hal nggak penting lainnya tapi sungguh berkesan. Sesekali kenangan dengan Kawan Sebangku itu mengundang senyum ketika hidup saat ini terasa cukup getir dan dengan demikianlah kita menjadi manusia.



Photo by Court Prather on Unsplash


Menjadi Kehadiran yang Memanusiakan


Pertemanan dan persahabatan adalah hal manusiawi bukan saja karena manusia adalah makhluk sosial tapi juga karena kemanusiaan kita muncul melalui kehadiran satu sama lain.Saya hadir bagi yang lain agar memanusiakan yang lain dan yang lain hadir bagi saya agar saya makin manusiawi. Kawan sebangku adalah kehadiran yang biasa saja tercipta melalui rutinitas dan hanya sementara waktu. Tapi dengan kehadiran yang biasa, sederhana, rutin dan sementara itu mendorong saya dan dia untuk saling mengenal dan membentuk. Sudahkah kehadiran kita dan mereka seperti kehadiran kawan sebangku?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE