Pikullah Kuk-Ku!

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Desember 2018
Apa hal terdalam bagi seorang Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai inginkan untuk saya lakukan pada natal ini?

SEORANG ANAK T’LAH LAHIR UNTUK KITA

SEORANG PUTERA DIB’RIKAN

LAMBANG PEM’RINTAHAN DI ATAS BAHU-NYA

DAN NAMA-NYA PUN DISEBUT ORANG

PENASEHAT AJAIB, ALLAH YANG PERKASA

BAPA YANG KEKAL, RAJA DAMAI

SAMBUTLAH DIA YESUS TUHAN

JURUS’LAMAT DUNIA

(Yesaya 9:5)

 

Ketika pertama kali mendengar lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara di gereja, saya masih belum mengerti satu hal: mengapa Tuhan yang saya kenal ketika saya duduk di sekolah Minggu dikenal dengan nama-nama itu? Sampai suatu kali saya mencoba merenungkan kembali, bagaimana Tuhan membentuk saya melalui proses hidup hingga Dia pula yang turut serta menyelesaikan segala pergumulan saya. Meskipun saya yakin mengenal-Nya secara mendalam, seringkali dalam kehidupan pelayanan dan pekerjaan saat ini, saya melupakan segala rancangan besar yang Tuhan letakkan dalam hidup saya.

Sekalipun Ia dikenal dengan sebutan-sebutan demikian, namun saya melihat bahwa kita, termasuk saya, justru gagal menggambarkan sifat-sifat Allah itu. Bukannya menggambarkan sifat-sifat Allah, kita justru seringkali menjadi pelaku dan korban dalam pemberian banyak beban baik dalam tugas, tanggung jawab, maupun perintah bagi orang-orang di sekitar yang justru membuat ‘burned out’. Semuanya membuat stres, semuanya saling mencoba membuat sesamanya stres.



unsplash.com


Let me carry your burden”, mungkin adalah kata-kata paling klise dan paling langka yang akan kita dengar di hari-hari ini, khususnya bagi kita yang tinggal di tengah aktivitas padat profesional muda saat ini. Dalam segala beban pekerjaan yang begitu melelahkan, rasanya begitu sulit untuk sekadar duduk dan mendengarkan “orang-orang di sekitar” untuk berbagi cerita. Terlebih lagi, kenyataan yang sebaliknya terjadi, bahwa orang di sekitar kitalah yang justru kerap kali meletakkan beban pada diri kita, tanpa berbagi hati serta pengertian akan maksud tugas-tugas itu. Semua hal itu sering kali membuat kita merasa burned out.

Namun suatu ketika seorang sahabat berkata, “Mari, aku mau bantu kamu, kamu istirahat dan ambil waktu. Biar aku yang membantumu menyelesaikan ini.” Wow! Saya mencernanya. Bukan berarti saya lari dari tugas dan menumpahkan beban pada sahabat saya ini. Jika seperti itu, mungkin saya sama saja dengan orang yang memberikan beban-beban mereka pada saya. Ketika seorang sahabat mengatakan hal ini, seketika saya melihat Yesus yang saya kenal adalah Tuhan yang mengenal kita sepenuhnya, mengenal segala beban kita dan tahu bagaimana meng-“upgrade” diri kita lewat berbagai situasi.



unsplash.com


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan member kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. (Matius 11:28-30)

 

Mengetahui perkataan ini, saya terhibur, dan belajar mengerti bahwa saya tidak perlu jadi “Superman” yang membawa semua beban ini sendirian, atau menjadi seorang otoriter yang memberikan semua beban itu pada orang lain. Saya tahu bahwa ada sosok yang berjalan bersama saya membawa kuk dan beban yang sama. Dialah Yesus sendiri, Tuhan kita. Ketika saya tahu kebenaran ini, saya amat bersukacita dan menikmati segalanya dengan amat senang dan mulai mengenali-Nya sebagai sahabat terbaik.

Sebuah pertanyaan kembali muncul: kalau saya adalah sahabat Tuhan, lalu apa yang harus saya lakukan untuk-Nya? Saya berdoa dalam-dalam dan kembali merenungkan, apa hal terindah yang Tuhan ingin saya lakukan? Apa hal terdalam bagi seorang Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai inginkan untuk saya lakukan pada Natal ini?


You’ve been carrying my cross, let me carry Your heart!



unsplash.com


Ketika Tuhan mau berbagi kuk dengan kita, artinya kita juga berbagi dengan hati-Nya. Hati Tuhan adalah untuk kita dan orang-orang di sekitar kita. Hati untuk keluarga kita, hati untuk sahabat kita, untuk pekerjaan kita, untuk pelayanan kita dan apapun yang ada di sekitar kita untuk diundang mengenal Tuhan lebih dalam. Setiap hal ini dibawa pada Kristus dan bagaimana kita meletakkan ini semua dalam segala hal yang kita lakukan. Apa yang kita kenal dalam diri Tuhan, kita perkenalkan sosok-Nya pada yang lain.

Saya hanya membayangkan bagaimana ketika kita benar-benar mengenal Tuhan dan memiliki hati yang lembut seperti hati-Nya. Ketika staf divisi kita ada yang salah dalam bertindak, maukah kita mengampuni dan mengajari mereka, memberikan solusi? Ketika tekanan dari atasan datang dan orang lain bertengkar di diskusi langsung ataupun grup, maukah kita menenangkan mereka? Ketika teman kerja kita punya masalah dan stres, maukah kita duduk dan mendengarkan mereka, membantu menguatkan tanpa bersikap menghakimi?

Ketika adik-adik kita yang kecil bermain, maukah kita menemani mereka dan membagikan nilai-nilai kebaikan Tuhan sambil menghabiskan waktu bersama mereka? Ketika ada orang tua yang butuh tempat duduk di dalam kereta listrik, maukah kita memberi tempat pada orang itu sekalipun kita juga merasa lelah? Bukankah demikian cara-caranya kita memperkenalkan nilai-nilai Tuhan pada orang di sekitar kita?



unsplash.com


Mungkin Tuhan memang tidak meminta kita menanggung beban-beban itu sendirian, karena justru Tuhan memahami betapa berat salib yang harus dipikul. Ia tak akan sampai hati membiarkan kita memikul salib kita seorang diri. Namun dalam setiap peringatan momen kelahiran-Nya, Ia ingin kita menjadi orang-orang yang memahami bahwa Tuhan menginginkan kita juga berbagi beban dalam diri-Nya.

 

“Apa yang Tuhan sedang pikirkan hari ini?”

“Kamu dan orang-orang di sekitarmu!”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE