Pilihan Reaksi Terhadap Kemalangan Hidup, Berkaca pada Aplikasi Tinder

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 5 Mei 2017
Swipe left or swipe right? Pilihlah dengan bijaksana

Tinder. Wikipedia versi Indonesia menjelaskan Tinder adalah aplikasi layanan pencarian sosial berbasis lokasi (menggunakan Facebook) yang memfasilitasi komunikasi antara pengguna (user) yang saling tertarik dan memungkinkan kecocokkan pengguna untuk mengobrol. Pengguna aplikasi Tinder pasti akrab dengan istilah swipe (geser), dimana saat masuk ke dalam aplikasi ini terdapat dua pilihan umum yang ditawarkan dan harus dipilih oleh penggunanya. Swipe left jika tidak tertarik atau swipe right jika tertarik.

Pilihan tersebut jelas didasari oleh beberapa hal. Umumnya para user saling tertarik lewat tampilan foto yang dipasang user lain saat pertama kali mendaftar aplikasi tersebut. Ketika dua orang pengguna sama-sama tertarik dan swipe right, maka secara otomatis muncul notifikasi yang menunjukan mereka berdua match (saling tertarik dan/atau cocok). Seketika itu pula pilihan berikutnya muncul, mau melanjutkan pencarian lagi atau membuka obrolan dengan match user tadi. Pertama kali diluncurkan tahun 2012 dan hampir tiga tahun berjalan, tepatnya pada Bulan Oktober tahun 2014, aplikasi ini memproduksi sekitar dua belas juta kecocokkan per hari. Jumlah yang fantastis bukan?

"No matter who you are, you feel more comfortable approaching somebody if you know they want you to approach them.”
Sean Rad, salah satu pendiri Tinder

Hal lainnya yang mendasari pilihan swipe right dan swipe left bisa dilihat dari gambar di atas ini, ada tiga variabel yang disoroti secara khusus. Ketiga variabel tersebut adalah jenis kelamin (gender), jarak pencarian (distance), dan usia (ages). Jenis kelamin umumnya dipilih berdasarkan kebutuhan si pengguna, jika tujuannya untuk mencari pasangan (dating) maka yang dipilih ialah lawan jenisnya. Bila tujuannya untuk mencari teman, ia bisa memilih keduanya. Usia juga perlu diperhatikan, tentu mereka yang seumuran menjadi pilihan favorit para penggunanya.

Pun begitu dengan jarak, ada jarak tertentu yang harus diatur untuk menjalin ketertarikan pengguna yang satu dengan yang lainnya. Umumnya semakin dekat lokasi antara mereka, maka kemungkinan untuk saling tertarik satu sama lain semakin bertambah. Tentu saja mereka semakin mudah untuk bertemu. Secara tidak langsung pandangan yang terbentuk melalui penggunaan aplikasi ini yaitu, untuk membuka diri terhadap orang lain. Anda harus memperhatikan penampilannya, jenis kelamin, usia, dan jarak mereka. Bagaimana jika kita tertarik dengan lawan jenis yang memiliki penampilan istimewa di mata kita dan usianya sepantaran, namun jaraknya (lokasi ia berada) jauh dari kita? Bergeser ke kanan kah layar sentuh gawai kita? Atau ke kiri?

Pilihan respon yang dihadirkan Tinder, tidak jauh berbeda dengan relasi kita dengan Tuhan. Terkhusus, ketika kemalangan menghampiri kita dan Tuhan terlihat begitu jauh, apakah pilihan yang akan kita ambil?

Swipe left or Swipe Right?

Pertengahan Februari 2004, di sebuah ruang ICU (Intensive Care Unit) rumah sakit swasta Jakarta terekam dialog seorang wanita dengan Tuhan dalam keheningan yang menyesakkan. Ia hanya berbicara dalam hati, “Jika aku boleh meminta lebih kepada-Mu, biarlah aku yang terbaring disana dan terbujur kaku. Ijinkanlah dia melihat dunia lebih lama lagi, tukarlah nyawaku dengan nyawanya.”

Sore hari itu seorang ibu ‘kehilangan’ anaknya, penawaran yang diucapkannya tak terwujud. Roda waktu berputar sampai di penghujung tahun 2016, masih dalam keheningan yang sama seperti dua belas tahun yang lalu, namun kali ini tembok kamar yang menjadi saksinya. Wanita yang sama kembali berdialog dengan Tuhan lewat obrolan dengan seorang pria di sebelahnya. “Pah, nanti kalau papah sudah sembuh gantian rawat anak-anak ya. Biar mama yang ‘pergi’ duluan, tapi papah janji harus sembuh.”

Penawarannya kali ini terdengar lebih realistis, ia tidak meminta untuk bertukar nyawa tetapi ‘hanya’ meminta Tuhan menukar perannya ketika pria tersebut sembuh. Pria tersebut tidak pernah benar-benar sembuh, penawaran wanita tadi pun urung terwujud. Dua kali ia menawar, dua kali ia kecewa. Seakan Tuhan sedang melakukan swipe left terhadap permohonannya.

Imannya terguncang keras, badai kehidupan yang menerpanya beberapa tahun silam kembali datang lagi lewat rupa yang mirip. Hidupnya tidak se-happy ending kisah Ayub. Namun yang menarik adalah, sang ibu kembali bangkit lalu menaruh keyakinan yang kuat bahwa penawarannya yang ketiga pasti terwujud. Keinginan agar hidupnya menjadi dan membawa berkat bagi banyak orang disekitarnya. Sang Ibu tahu persis bahwa kenyataan yang ia benci (tidak terkabulnya doa) bisa jadi hal yang baik buat dirinya, dan hal yang ia idamkan (terpenuhinya semua keinginan) belum tentu baik.

Refleksi

Untuk sebuah kemalangan yang kita lalui, patutkah Kuasa-Nya dipertanyakan? Apakah kita hanya akan swipe right terhadap apa yang baik namun rajin menolak ketika kesulitan hadir? Bahkan ketika kita tidak yakin apa maksud Tuhan dan bagian mana yang baik dari sebuah kemalangan, kita punya pilihan semacam swipe left atau swipe right.

Kita dapat memilih antara dipahitkan dan akhirnya menolak berproses bersama Tuhan, atau mencoba melihat lebih dekat dan mencari tahu sekiranya apa yang dapat dipelajari dari kemalangan itu. Memang Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih, namun bagaimanapun perkataan Ayub ini dapat menjadi sebuah teguran dan arahan dalam memilih:

“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau yang buruk?”

Kiranya kita tidak menjadi orang yang hanya swipe right untuk berkat namun selalu swipe left untuk tantangan hidup.

Selamat memilih dengan tepat.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE