Pulang: Menyentuh yang Kerap Terabaikan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 14 Juni 2018
Mungkin pulang tak selalu harus tentang kita yang mengharap sebuah tempat perlindungan. Tak selalu harus tentang secangkir kopi panas dan masakan ibu yang menyambut di atas meja, atau pelukan hangat dari kerabat terkasih. Mungkin pulang adalah sebuah momen untuk menyentuh mereka yang terlupakan.

Ini kisah tentang sebuah kota kecil di pulau Kalimantan. Berjarak empat hingga lima jam dengan kendaraan roda empat dari ibukota, ditambah 15 hingga 20 menit perjalanan menyeberangi sungai dengan perahu kecil. Ini cerita tentang sebuah tempat yang tak pernah mengecap ingar bingar ibukota, tak pernah dihinggapi kerlap kerlip pusat perbelanjaan, tak pernah terjaga hingga lebih dari pukul sepuluh malam.

Ini cerita tentang mereka yang sering kali terlupa. Tentang sebuah kota yang mungkin namanya akan terdengar asing di telingamu; tak pernah tersebut dalam buku geografi maupun sejarah sekolahmu, namun tetap menjadi tempat seseorang untuk pulang.


Bukan tempat istimewa

Becek dan kotor adalah kesan pertama ketika saya menginjakkan kaki di pelabuhan kecil tempat kapal yang saya tumpangi merapat. Sebuah kijang krista tua membawa saya menyusuri jalanan berbatu menuju pusat kota. Debu dan asap berterbangan saat roda menggerus jalan. Sebagian rumah di kota ini masih terbuat dari kayu. Tak ada restoran besar di sini, tak ada penginapan selain sebuah mess sederhana, tak ada mall, dan jangan harap bisa mendapatkan wifi di sini. Anak-anak cukup bahagia dengan hanya berlarian atau bersepeda di sepanjang jalan berkerikil.



Foto oleh Trevor Brown, diunduh dari unsplash.com


Sebuah hadiah, untuk mereka yang di rumah

Tepat di tengah kota mungil ini, berdiri sebuah gereja. Bangunannya yang bisa dibilang cukup mewah terlihat kontras dengan rumah-rumah di sekitarnya. Saya tak menyangka di kota antah berantah seperti ini bisa menjulang sebuah gereja dengan desain yang tak kalah dengan gereja-gereja di Jakarta. Pendeta di gereja tersebut bercerita, dulu gereja ini hanyalah gereja kecil. Gereja yang dibuat dengan keringat dan tenaga jemaatnya sendiri, mereka bergotong royong mengangkut pasir dari pantai ke tengah kota demi membangun tempat seadanya untuk beribadah. Lalu suatu hari, saat gereja ini sedang butuh renovasi, mereka meminta bantuan pada salah satu jemaatnya yang kini sudah berhasil di ibu kota. Tak diduga, jemaat tersebut malah memberikan sejumlah uang yang cukup untuk membangun sebuah gereja yang lebih besar—sebuah gereja bergaya modern yang sanggup menampung banyak orang.

Konon katanya, saat baru berjuang merintis usaha di ibukota dan belum memiliki apa-apa, jemaat ini dan istrinya bahkan memberikan persembahan sulung mereka dengan membeli sebuah tanah kecil di kampung halaman sang istri untuk didirikan sebuah gereja di atasnya.



Foto oleh Aaron Burden, diunduh dari unsplash.com


Saya tertegun. Kalau saya, mampukah saya memiliki hati yang seperti itu? Mungkin bagi sebagian kita, boro-boro mikirin kampung, cicilan KPR saja belum lunas, atau tabungan biaya menikah saja belum cukup. Sempat terlintas di benak saya, bahwa mungkin kalau hanya memberi materi, bukanlah perkara sulit untuk orang yang sudah mapan. Namun, ternyata suami istri tersebut masih sesekali pulang kampung halaman mereka. Mengobrol dan bercengkerama dengan sanak mereka di gang-gang kecil kota yang nyaris terlupakan; menikmati terik matahari khatulistiwa yang menyengat kulit; bernostalgia di dalam rumah kayu yang menjadi awal kehidupan mereka.


Kepulangan yang berdampak


Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.—Yeremia 29:7


Mungkin kita yang sedang merantau ke kota atau berusaha mendaki tangga karir hingga ke luar negeri sering kali lupa dengan mereka yang masih tinggal di tanah tempat kita lahir. Hidup nyaman membuat kita enggan untuk menoleh dan mundur sejenak. Atau, kalau pun kita pulang, kita pulang untuk diri kita. Untuk menenangkan pikiran, untuk menikmati suguhan hangat di meja makan, untuk mencari perlindungan saat tekanan pekerjaan dan kehidupan yang serba instan terasa semakin menghimpit.

Mungkin pulang sejatinya tak harus melulu tentang kita. Rumah kita adalah tempat yang Tuhan percayakan bagi kita. Tempat bagi kita untuk berdampak dan menjadi terang. Tak harus berupa materi. Tak harus megah dan berlimpah. Tapi cukup untuk memberi makna.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE