Pulang: Sebuah Refleksi Anak Hilang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
Bahkan, dalam perjumpaan dengan orang-orang lain itu, kita bisa mengetahui batas-batas yang membentuk siapa kita ini.

“Tak Apa Jadi Cina, Asal Berguna”, begitu judul dari sepotong tulisan yang kudapat dari salah satu grup Whatsapp. Tulisan itu awalnya tampak seperti menyanjung seorang petinju bernama Daud Yordan, anak bangsa yang berdarah Tionghoa, tetapi kurasa tidak. Ada semacam luka—perasaan terdiskriminasi yang dibalut dengan kompensasi—yang mewarnai tulisan ini. Apakah—seperti tertulis di dalamnya—kita harus berdarah-darah, membungkus diri dengan pengorbanan kelas wahid, demi memeroleh penerimaan dari orang lain?

Sebagian dari kita mungkin pernah diperlakukan berbeda, entah karena jenis kelamin, warna kulit, bentuk rambut, cara berekspresi, bahkan isi kantong atau aroma tubuh. Bisa saja ada rupa-rupa alasan lain untuk menepikan dan menindas orang lain. Untuk menghadapi dan mengatasi berbagai perundungan, sebagian dari kita justru pernah berusaha untuk menjadi seperti para perundung. Kita berusaha sekuat dan sebesar mereka dengan olahraga keras berbayar di gym atau berlatih gratisan sendiri secara kalistenik. Kita berusaha menghias diri dengan pakaian terbaru dari olshop atau ber-pomade dari barbershop terkinclong di kota. Kita berusaha mencapai level tertinggi pada permainan-permainan daring atau menyebarluaskan foto-foto beserta tiket-tiket perjalanan kita keliling planet. Aku sendiri, ketika merasa aku ini bau luar biasa di sekolah, pernah menjepit permen pengharum mulut di ketiakku. Pendeknya, kita ingin mengakhiri diskriminasi dengan berusaha untuk bisa diterima, padahal pada saat yang sama, kita sedang memperlakukan diri dengan cara yang tidak semestinya.


Photo by Ioana Casapu on Unsplash

Kebiasaan sebagian dari kita yang mengambil jalan yang tak adil bagi diri sendiri itu rupanya terbawa juga ke dalam cara kita menilai orang lain. Pada kisah Anak yang Hilang, kita bisa saja dengan mudah menempeli Si Bungsu dengan sticky note macam-macam warna dengan tulisan yang tak kalah macam-macam. Si Bungsu bukan sekadar “anak yang hilang”, melainkan juga “anak yang tak tahu diuntung”, “anak durhaka”, “anak unfaedah”. Secara sadar atau tidak, kita telah merundung seorang manusia—meskipun fiktif adanya— hanya dengan bekal informasi yang terbatas.

Faktanya—tentu saja dalam pengisahannya, Si Bungsu capcus dari rumah dan keluarganya dengan membawa sejumlah logistik dari warisan yang diambil sebelum waktunya. Kita tak sungguh mengetahui apa yang ada di benak Si Bungsu—alasan dan tujuannya. Di episode berikutnya seperti yang kita ketahui, Si Bungsu ada di negeri yang jauh dan berpesta habis-habisan di sana. Habis terang, terbitlah gelap. Si Bungsu kelaparan, dan menjadi budak hanya untuk bertahan hidup, lalu mengingat bahwa di rumahnya ada seabrek makanan. Si Bungsu ingin pulang... Ya! Tepat di situ kita serentak mengambil nada bak paduan suara: “Gitu baru tobat? Gak usah pulang sekalian!” seperti emak-emak sinetron yang menghadang anaknya dengan sapu di ambang pintu rumah.

Hmm. Sebenarnya mungkin saja kita semua pernah atau sedang mengalami hal serupa. Mungkin kita sekarang ini ngekos atau ngontrak, tinggal tidak lagi serumah dengan keluarga. Kita berpisah dari keluarga dengan segala alasan yang mungkin tidak semulia “demi sekolah, kuliah, atau pekerjaan”. Kita memisahkan diri dari keluarga demi kemerdekaan, kebebasan untuk menjadi diri yang tidak lagi diomelin orangtua, disuruh-suruh kakak, digangguin adik, ditimpukin tetangga. Kita ingin menjadi diri sendiri yang bahagia dengan segala keberadaan dan perjuangan kita. Kita bertekad demikian hingga “Mah, Adek pulang ya. Duit Adek habis...”


Photo by Pedro Gabriel Miziara on Unsplash

Perpisahan itu barangkali suatu rites de passage, semacam gerbang menuju tahap kehidupan berikutnya. Di tempat baru, kita berpesta dengan kebebasan, tidak lagi memedulikan segala label sebelumnya. Kita memilih jam tidur sendiri dan memilih untuk berhemat air mandi. Kita bisa kuliner-an apa saja, backpacker-an ke mana saja, nge-game sampai punya akun tutorial di Youtube, atau apapun yang kita mau. Hasilnya perut buncit, kulit gelap, mata perih... kantong bolong! Meski begitu, kita senang, kita happy. Bukankah kehidupan ini harus dijalani dengan gembira?

Perpisahan siapa sangka juga menjadi sebuah pertemuan. Si Bungsu memilih negeri yang jauh; kita memilih kehidupan yang berbeda. Kita berjumpa dengan orang-orang yang berbeda, kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda. Di dalam perbedaan, kita bukan saja mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang luas, melainkan juga menemukan diri. Kita bisa mengetahui perbedaan cara kita hidup dan cara orang lain hidup. Bahkan, dalam perjumpaan dengan orang-orang lain itu, kita bisa mengetahui batas-batas yang membentuk siapa kita ini. Jika sebelumnya kita yakin bahwa kita harus makan tiga kali sehari, ternyata dalam petualangan, kita mampu makan tiga hari sekali.

Meskipun begitu, di antara batas-batas yang sebelumnya kita sadari, kita juga bisa melihat bahwa ternyata ada batas-batas yang dapat kita lampaui. Si Bungsu telah mencapai suatu batas itu. Pada titik terlaparnya, dia mengingat bahwa kebebasannya tidak bisa diceraikan dari relasinya dengan kehangatan dan kenyamanan rumah dan keluarganya. Si Bungsu menemukan dirinya bukan sebagai pribadi yang terpisah dari ayahnya. Oleh karena itu, sekalipun tanpa membawa tabungan miliaran bitcoin, investasi properti di tujuh kota besar, atau deretan gelar akademis dan ribuan hak paten, Sang Ayah menyambutnya dengan luar biasa. Jadi, apakah kita masih mau mengutuki Si Bungsu yang (meng-)hilang(-kan diri) itu, padahal justru dengan cara itu, dia menemukan dirinya yang sesungguhnya?

Tidak ada yang lebih berharga daripada kesadaran tentang jati diri, tentang siapa kita sebenarnya. Tidak menjadi masalah apakah kita ini Tionghoa atau bukan, berguna atau tidak bagi bangsa ini, seperti salah satu pendapat yang mengomentari kisah yang dibagikan di grup Whatsapp itu. Kita tidak ditentukan dengan cara dunia yang terlanjur biasa bermain kategori ini. Kita adalah orang-orang bebas yang menemukan bahwa kebebasan itu hanya dapat ada karena diberikan oleh Sang Penyedia Kebebasan, dan oleh Dia dan ukuran-Nya, kita bermakna, kita berfaedah. Kita, selanjutnya dari komentar itu, ini satu Indonesia, satu saudara. Itu anugerah luar biasa.

“Tadaima kaerimashita!” (I just came home!)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE