Redefining The Word of “Hope”

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 28 Desember 2017
Yang terpenting bukanlah melihat keadaan ideal di masa hidupku, melainkan cukup meyakini bahwa janji-Nya cukup bagiku untuk “selesai dengan diri sendiri” (walaupun aku juga masih berjuang untuk ini) dan mulai berkarya bagi kemanusiaan dan lingkungan.

“Swing low, sweet chariot
Coming for to carry me home
Swing low, sweet chariot
Coming for to carry me home

I looked over Jordan, and what did I see?
(Coming for to carry me home)
I saw a band of angels coming after me
(Coming for to carry me home)
If you get back to heaven before I do
(Coming for to carry me home)
You'll tell all my friends, I'll be coming there too
(Coming for to carry me home)”

Ini adalah lirik lagu berjudul “Swing Low, Sweet Chariot”, sebuah lagu spiritual bangsa Afrika-Amerika yang diciptakan di pertengahan abad ke-19. Lagu ini merupakan refleksi atas 2 Raja-Raja 2:1-18, yang menceritakan Nabi Elia yang dibawa naik ke surga oleh kereta kuda berapi di tepi sungai Yordan, yang dibawa secara kontekstual pada pengharapan mereka untuk “dibawa ke surga”, keluar dari “neraka” perbudakan di Amerika pada masa itu.

Bila membaca sejarah perbudakan di Amerika, aku cukup terheran-heran. Para majikan itu menggunakan Alkitab sebagai dasar perbudakan yang mereka lakukan. Namun Alkitab itu juga sumber pengharapan bagi para budak untuk melawan dan keluar dari penindasan, sampai akhirnya perbudakan formal dihapuskan, walaupun mungkin mereka sudah meninggal duluan sebelum melihat penghapusan itu.

Sepanjang berjalannya sejarah, aku juga terus dibuat heran oleh banyak kisah dengan nada serupa.


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Alkitab yang menjadi alat politik bagi otoritas gereja berkuasa untuk mengeruk uang dan korupsi adalah Alkitab sama yang memberikan pencerahan pada Martin Luther bahwa manusia mengalami pembebasan dari dosa karena anugerah-Nya saja.

Alkitab yang menjadi alat justifikasi segregasi ras di Amerika Serikat maupun Afrika Selatan adalah Alkitab yang sama yang dipakai Martin Luther King Jr. maupun Nelson Mandela dan Desmond Tutu untuk menghadirkan semangat pengharapan melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan ras tanpa kekerasan.

Alkitab yang menjadi alat pembenaran para konglomerat untuk terus mengambil “berkat materi” dan menimbun hartanya dengan mengorbankan orang lain juga adalah Alkitab yang sama yang menjadi inspirasi Bunda Theresa dan Romo Mangun bahwa pengharapan untuk mengentaskan orang terpinggirkan itu selalu ada.

Nama-nama di atas mungkin dikenal sebagai nama-nama besar, pahlawan iman Kristen. Namun ketika kita makin membaca, kita akan makin mengenal ketidaksempurnaan orang-orang tersebut, bahwa mereka juga manusia yang jatuh dalam dosa, punya pergumulan sendiri akan dosa-dosanya.

Tetapi, kenapa ketidaksempurnaan mereka “kalah terkenal” dibandingkan dengan perjuangan mereka melawan penyalahgunaan Alkitab oleh pihak-pihak yang menguasai dunia?

Karena mereka membagikan pengharapan, yang merupakan sebuah pesan indah dari ajaran Kristen sejati yang merasuk ke dalam hati serta menggerakkan mereka di tengah dunia yang begitu pesimis, pragmatis, dan skeptis akan kehadiran Kerajaan Allah sebagai sebuah impian semata yang tak akan pernah nyata.

Dunia begitu haus akan pengharapan, dan sudah jatuh pesimis karena belenggu dosa. Namun nama-nama di atas adalah contoh orang yang masih tetap meyakini pengharapan bahwa Allah akan datang dan mengembalikan tatanan dunia menjadi indah menurut kehendak-Nya, bahkan walaupun saat meninggal mereka mungkin belum bisa melihat jelas hasil akhir dari pengarapan tak berkesudahan itu. Pengharapan itu membawa mereka untuk menjadi agen Allah dalam menyatakan apa yang terlihat mustahil bagi dunia itu.

Ketidaksempurnaan yang tidak menghalangi mereka untuk terus menyebarkan pengharapan begitu menegurku sebagai salah satu orang yang begitu pesimis akan tatanan dunia saat ini.


Photo by Evan Kirby on Unsplash

Ada kalanya aku berpikir bahwa orang-orang yang bersukacita dan terlihat begitu yakin akan harapan Tuhan adalah orang-orang yang sudah dalam posisi memadai untuk bergembira, yang dicukupkan secara materi, yang memiliki karir bagus, yang dibesarkan di keluarga yang penuh kasih, yang tumbuh di lingkungan di mana kebahagiaan adalah sesuatu yang sama sekali tidak mustahil karena situasi yang terasa mendukung.

Tapi kenyataannya, contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tak jarang pengharapan justru datang dari tempat yang terasa paling gelap, dari kondisi di mana mengutuki Allah sebenarnya adalah pilihan yang lebih realistis.

Kupikir itu juga pesan yang ingin disampaikan pada masa raya Natal ini. Kelahiran Kristus dari tempat paling sederhana menghadirkan harapan akan dunia yang secara luarnya penuh gemerlap namun sebenarnya menunggu maut. Harapan itu yang ingin dibagikan supaya kita juga terpulihkan dan memulihkan.

Tahun ini adalah proses pembelajaran bagiku lebih dalam untuk mengenal ulang pengharapan. Ternyata aku tidak butuh pulih seratus persen dulu untuk membagikannya. Tidak. Ternyata Tuhan terus mengingatkanku untuk melawan pesimisme dan pemikiran negatif yang aku miliki untuk membagikan kabar baik kepada orang lain yang memiliki pergumulan serupa. Yang terpenting bukanlah melihat keadaan ideal di masa hidupku, melainkan cukup meyakini bahwa janji-Nya cukup bagiku untuk “selesai dengan diri sendiri” (walaupun aku juga masih berjuang untuk ini) dan mulai berkarya bagi kemanusiaan dan lingkungan.

Aku yakin ini juga panggilan bagi kita semua, orang percaya. Aku percaya. Pasti kita masing-masing punya bidang yang dipercayakan Allah untuk menghadirkan harapan di tengah negatifnya lingkungan. Benar, kita semua juga punya kehancuran masing-masing. Tapi nampaknya itu memang tugas kita, untuk berupaya menyampaikan pengharapan di tengah kehancuran diri.


Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Atau mungkin malah sebaliknya. Kita dihancurkan supaya kita bisa menyampaikan pengharapan. Kehancuran membawa kita pada kerendahan hati untuk pada akhirnya tunduk pada Sang Pengharapan Sejati, untuk kemudian menggerakkan kita mencari-cari titik temu antara kerinduan Allah bagi dunia dan kompetensi kita.

Kelahiran Yesus sudah menunjukkan pengharapan yang nyata bagi yang terpinggirkan dan kehilangan harapan. Sudah selayaknya kita yang mengaku meneladani Kristus juga mengenal kembali bagaimana pengharapan itu hadir, bagaimana kuasanya mengubahkan praktek hidup kita, dan mendorong kita untuk membagikannya sebagai praksis yang mengubahkan.

Semoga terang-Nya terus menyala di hati kita. Karena masa depan itu sungguh ada dan pengharapan tidak akan hilang.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE