Refleksi Ice Breaking di TRP: Sudahkah yang Terbaik Kuberikan?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 29 Mei 2017
Seberapa sering kita mengucap doa ”kiranya dalam pelayanan ini, kami tidak mencuri kemuliaan-Mu”.

Siapa sih yang ga suka dipijat? Yaaa sebagian orang ada yang ga suka, tapi menurut saya mayoritas orang suka dipijat. Apalagi kalau pijat gratis. Memasuki hari kedua acara Temu Raya Pemuda GKI 2017 (TRP GKI 2017) yang jatuh di hari Jumat, 12 Mei, setengah dari peserta yang hadir di Ruang Kebaktian GKI Peterongan mendapatkan layanan pijat gratis selama lebih kurang lima menit. Loh, setengahnya lagi bagaimana? Setengahnya lagi jadi tukang pijat!

Ini merupakan momen lucu yang tentu saja diiringi gelak tawa oleh hampir seluruh peserta yang ada disana saat itu. Setelah satu hari lebih duduk bersama untuk berbincang dan berdiskusi sambil mendengarkan firman Tuhan bertema kebangsaan, kami diajak melemaskan otot tubuh lewat sesi ice breaking yang dipimpin oleh Ko Peter dari GKI Karangsaru, Semarang. Instruksi awal yang diberikan cukup sederhana, kami diminta mencari posisi duduk secara random di antara peserta lain yang tidak kami kenal. Depan, belakang, kanan maupun kiri tidak boleh ada yang saling mengenal. Selanjutnya kami diwajibkan mencari pasangan secara bebas dan membuka pembicaraan dengan orang tersebut. Bertanya siapa namanya, berapa umurnya dan darimana asal gerejanya. Setelah mendapatkan informasi tersebut, kami yang usianya lebih muda diminta duduk di bangku, sementara yang lebih tua berdiri di belakang bangku.

“Kita kan harus saling mengasihi satu sama lain, nah sekarang yuk sama-sama kita nyanyikan lagu Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan sambil memandang penuh mesra pasangan kita. Yang lebih tua harus menyanyi sambil memijat teman-teman yang lebih muda.” ujar Kak Peter.

Mendengar perintah tersebut ada yang kaget, ada yang tersenyum kecil, ada yang segan memijat, ada juga yang malu mendapatkan “sentuhan” dari orang asing yang baru dikenalnya beberapa saat lalu. Semua dibuat heran dan bertanya-tanya dalam hati.

“Ayo pijat pundaknya..tangan kanan, tangan kiri jangan lupa..sekarang kepalanya…” ujar Ko Peter memberi komando dari depan,

“Nah sekarang kaki” Ko Peter melanjutkan

Suasana ruang kebaktian semakin riuh. Memijat kaki? Ga salah nih? Teman baru saya juga terlihat segan ketika saya membungkukan badan di depannya dan mulai memijat kakinya. “Nggak usah kak, nggak usah..” katanya pelan.

Setelah lagu Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan dinyanyikan berulang sekitar empat kali, kak Peter meminta kami semua untuk berhenti. “Sekarang gantian yang lebih tua duduk, yang lebih muda berdiri di belakangnya.”

Waaahhh asik nih gantian, pikir saya dalam hati.

Ko Peter kembali memberikan instruksi, “Seperti kita sudah bahas tadi, kita harus saling mengasihi sesama toh? Sekarang yang muda silakan pijat temannya sambil bilang ‘terimakasih ya sudah mijitin saya’ lalu semua boleh duduk lagi.”

Kami pecah dan menyatu dalam tawa, suasana ruangan kembali riuh. Kali ini lebih meriah daripada sebelumnya. Asem tenan. Saya ngomel dalam hati, bukan marah tapi jengkel dan merasa “geli” sendiri dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sudah berharap banyak dapat pijatan balik yang setimpal, eh cuma dapat makasih thok.

Ice breaking tadi dilakukan bukan tanpa tujuan, ada refleksi lain yang ingin disampaikan Ko Peter lewat kegiatan tersebut. Seringkali kita yang lebih tua secara umur, yang lebih dulu mengenal dan melakukan pelayanan, yang lebih dahulu dan lebih lama menjadi pengurus punya ekspektasi lebih ketika melakukan panggilan-Nya.

Terkadang kita merasa sudah pol-polan dalam pelayanan dan berharap (ingin) ‘mendapat lebih’. Ingin lebih didengarkan dan diperhatikan, ingin lebih disegani, dan mendapatkan bagian atau porsi khusus. Juga berekspektasi tinggi terhadap rekan sepelayanan lain (terkhusus yang lebih muda) untuk bisa memberi lebih lagi dan lagi dan lagi seperti yang sudah kita lakukan sebelumnya. Kita mulai membandingkan pelayanan saya dan dia, pertanyaan yang muncul: apakah kita punya motivasi lain saat melayani? Apa sebetulnya yang kita harapkan bisa kita peroleh dalam pelayanan? Apakah kita memulai pelayanan kita dalam doa kepada Tuhan? Seberapa sering kita mengucap doa ”jangan sampai dalam pelayanan ini kami mencuri kemuliaanMu.

Jangan-jangan kita memang punya motivasi tersendiri dalam melayani, kita berharap mendapatkan “berkat semu” yang lebih daripada sebaris kalimat ‘terimakasih ya buat pelayanannya.

Semoga kita bisa sama-sama belajar dari refleksi ice breaking ini. Sebagai pemuda-pemudi Kristen yang punya dan diberi kesempatan lebih untuk melayani, kita dituntut untuk memberi hati kita seutuhnya dan menjaga ketulusan motivasi kita. Tidak peduli seberapa lama kita melayani, dalam bidang apa kita melayani, dengan siapa kita melayani, dan siapa yang kita layani, kita dituntut untuk mewujudkan kasih sebagai motivasi dasar dalam melakukannya. Sudah sepatutnya kita menghilangkan pikiran dari imbalan berupa “pijat balasan” dan sudah seharusnya kita berucap syukur ketika mereka yang dipijat bisa berucap, “terimakasih ya, lewat pijatanmu aku jadi tahu bahwa Tuhan mengasihiku.

Selamat melayani. Selamat memberi hati kepadaNya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE