Relasi Membentuk Pribadi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Oktober 2018
Bertemu dengan satu orang teman adalah satu kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri.

Saya selalu percaya semua orang yang saling bersinggungan dengan sebuah alasan. Bertemu dengan satu orang teman adalah satu kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. 5 hari x 9 jam saya harus bertemu dengan sesama teman praktik mengajar di sebuah sekolah. Kebetulan yang bukan kebetulan, teman-teman saya berasal dari berbagai kelas berbeda yang notabene jarang saya temui sehingga terbentuklah sebuah pengalaman baru dimana kami harus bekerjasama dengan intens selama kurang lebih dua bulan.

Terhadap salah seorang rekan, saya memiliki stigma tentangnya. Bermodalkan kumpulan kata orang dan pengalaman mengobrol bersama dengan rekan tersebut saya punya sebuah kesimpulan negatif terhadapnya. Stigma itu kian kuat ketika saya sampai pada sebuah situasi dimana pendapat kami begitu bertolak belakang diikuti dengan karakternya yang teguh dan yakin akan apa yang diucapkan.

Di titik itu saya berpikir, “Ok, cukup tahu!” Saya berkeyakinan bahwa membangun tembok pembatas di antara kami adalah hal yang harus saya lakukan mulai saat itu. Kalau perlu bekerja sendiri-sendiri akan lebih baik, kemudian lambaikan tangan.

Tetapi nyatanya situasi dan kondisi tidak memihak. Besok saya masih bertemu, masih harus berdiskusi, membuat perangkat pembelajaran, masuk ke kelas, mengoreksi jawaban, ini dan itu yang mau tidak mau dilakukan BERSAMA. Ternyata menghindar adalah jalan buntu.



Photo by Marcus Wallis on Unsplash


Tak disangka, rekan dengan stigma negatif tadi mengetik sebuah kalimat ucapan ulang tahun untuk saya melalui sebuah grup whatsapp. Jelas, dia bukan orang yang saya harapkan untuk mengucapkan selamat pertama kali. Tapi itulah kenyataannya, seseorang kerap tidak selalu seburuk yang kita pikirkan. Bahkan, apa yang kita anggap sebagai keburukan teman jug tidak seharusnya menahan kita untuk tetap mengasihinya.

Ingat adegan Eddie Brock dan Venom di dekat laut? Venom yang dulu berniat buruk untuk memusnahkan manusia yang ada di bumi mendadak banting stir setelah ia bertemu dan masuk ke dalam tubuh Eddie. Ia mengaku bahwa Eddie lah yang membuatnya berubah pikiran. Melalui Eddie, Venom pun berubah, berbalik ke jalan yang benar. Sebaliknya, melalui Venom, Eddie mendapatkan kekuatan ekstra untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Terlepas dari natur memangsa yang ada dalam diri Venom dan kecenderungan simbiosis mutualisme antara simbiot dan inangnya, relasi mereka mengajarkan kita bahwa ada poin positif yang dapat kita petik dari sebuah pertemanan. Itu merupakan salah satu cara Tuhan membentuk setiap pribadi yang perlu kita terus perhitungkan dan hargai. Dengan mensyukuri kehadiran teman dan mensyukuri relasi pertemanan itu sendiri.

Jika sebelumnya Eddie sangat menolak kehadiran Venom yang masuk ke dalam tubuhnya, Eddie justru merasa kehilangan saat Venom akan kembali ke dunia asalnya. Betapa pertemanan itu sangat berpengaruh dalam diri seseorang, bukan?

Teman bisa menginspirasi diri kita. Teman juga bisa menegur hati kita. Kalau kemarin saya berpikir membangun tembok pemisah, sekarang Tuhan mengajari saya untuk membangun jembatan yang mana meskipun pendapat berbeda, tujuan mungkin berbeda pula, tetapi tidak ada kata ragu untuk saling menolong dan melengkapi.



Photo by rawpixel on Unsplash


Eits, tunggu dulu. Pembentukan tidak selamanya nikmat. Ada kalanya pembentukan dari Tuhan melalui teman itu membuat kita tidak nyaman. Kalau boleh segera lalu aja deh! Malas untuk mengingat kejadian-kejadian di masa lalu yang mungkin masih menyangkut di hati.

Menjadi semakin rumit ketika kita berkonflik bersama teman dengan prinsip iman yang sama. Teman satu gereja, satu tempat pelayanan, satu komisi, satu sie? Pilihan-pilihan disuguhkan pada kita. Mau berdamai dan merenda kembali tali kasih pertemanan, atau berkata “cukup sampai di sini” lalu angkat kaki? Pilihan kedua terasa jauh lebih nyaman karena kita bebas dari rasa gelisah serta tidak perlu repot berpikir untuk menyelesaikan masalah sekaligus mencari solusinya.


Sayangnya, pilihan yang kedua itu tidak mengubah diri kita menjadi lebih baik. Pilihan pertama sudah pasti diiringi dengan konsekuensi. Melalui tangan sang penjunan, kita diuleni, ditekan dan ditarik ibarat adonan tanah liat sehingga menghasilkan suatu bentuk yang indah.



Photo by Jared Sluyter on Unsplash


Proses tersebutlah yang sekiranya dapat membuat diri kita makin melekat pada-Nya dan mencerminkan karakter-Nya. Proses yang sama pula agar relasi pertemanan kita dengan si A sampai si Z berkenan di hati-Nya dan membawa kemuliaan bagi-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE