Resolusi yang Sering Gagal

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Januari 2018
Kejujuran di hadapan Allah untuk mengakui segala kerinduan, ketakutan, hingga kelemahan, adalah syarat mutlak.

Tahun baru adalah kecerian bagi banyak orang dengan harapan baru yang lebih baik. Semua orang pasti berharap sesuatu yang lebih baik dibandingkan kemarin. Sehari setelah pulang Youth Camp dan berlibur, muncul tanda tanya, “Gue belum buat resolusi apa pun. Trus, gue mau ngapain di tahun ini? Dengan saya yang sekarang, Tuhan mau saya mengerjakan apa di tahun ini?” Di saat yang lain memiliki daftar resolusi indah baik yang baru, maupun melanjutkan resolusi 2017 yang disusun sejak 2016 dan telah direncanakan mulai 2015, saya masih galau akan resolusi apa yang harus saya buat.

Sekitar tiga tahun lalu, saya tidak membuat resolusi awal tahun. Akhir dan awal tahun adalah hari-hari sibuk bagi banyak orang, termasuk saya untuk mempersiapkan Natal, Tahun Baru, atau mengejar target yang harus selesai di akhir tahun. Kesibukan tersebut membuat saya sulit untuk berpikir dengan jernih tentang apa yang harus dilakukan di tahun depan. Dibandingkan membuat resolusi awal tahun, saya memilih untuk membuat resolusi pada saat berulang tahun, walaupun keduanya sama baiknya. Saya juga agak skeptis membuat resolusi karena semangat di awal, tapi sudah loyo sebelum satu semester. Hal itu yang juga dirasakan oleh banyak orang. Saya pun menyadari hal ini terjadi karena kebanyakan orang salah dalam membuat resolusi dan perlu waktu dan langkah yang tepat dalam menentukan resolusi.

Membuat resolusi bukanlah sesuatu yang haram untuk dilakukan, justru memberikan arahan kemana kita akan berjalan yang seturut dengan kehendak-Nya. Setidaknya ada dua hal ini yang patut menjadi perhatian dalam membuat resolusi.

1. Kenali Diri Sendiri


Photo by Alina Miroshnich on Unsplash

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2: 10)

Allah sudah membentuk kita dengan fisik, kepribadian, hasrat, dan latar belakang yang seturut dengan rancangan-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Mengenal diri bertujuan untuk memetakan potensi dan kelemahan yang dimiliki. Kelemahan bisa dilatih untuk membawa kebaikan. Potensi yang belum terasah dapat menjadi pertimbangan untuk diasah di tahun baru.

Mengenal diri sendiri dan mengembangkannya adalah cara kita bersyukur. Sama seperti para pekerja yang menerima lima dan dua talenta dari tuannya dan mengusahakannya, apa yang ada dalam diri kita adalah bagian dari talenta yang Tuhan berikan dan harus dikembangkan. Mengembangkan diri dapat ditempuh dengan beragam cara, seperti memilih pelayanan, memilih tempat bekerja, atau memilih organisasi yang disana kita bisa maksimal berkarya.

Ada banyak cara untuk dapat mengenal diri sendiri. Beragam tes kepribadian mulai dari MBTI, Enneagram, hingga diagram Ikigai, dapat menjadi alat penolong untuk mengenal diri sendiri. Pada dasarnya dengan mengetahui sisi SHAPE (spiritual gift, heart desires, abilities, personality, experience) diri kita sendiri, diharapkan kita lebih akurat dan berhikmat dalam menyusun berbagai perencanaan. Terpenting dari itu semua, kejujuran di hadapan Allah untuk mengakui segala kerinduan, ketakutan, hingga kelemahan, adalah syarat mutlak. Berbagai tes itu hanyalah instrumen pelengkap.

2. Resolusi yang SMART


Photo by Cathryn Lavery on Unsplash

Ajarlah kami menghitung hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90: 12).

Banyak orang membuat resolusi yang tidak konkrit sehingga banyak waktu terbuang. Misalnya kalimat sangat rohani macam ini: “hidup yang semakin serupa dengan Kristus, menjadikan Kristus sebagai pusat hidup, hidup sesuai dengan kehendak Allah.” Impian seperti itu mulia, tapi baris kalimat itu tidak akan signifikan berarti jika tidak dibuat lebih konkret. Contoh lain, ketika tercetus resolusi ingin hidup sehat dan memiliki bentuk badan yang ideal. Hidup sehat yang seperti apa dan bentuk badan yang bagaimana? Menentukan tujuan abstrak memang masih sah-sah saja, tapi resolusi harus sudah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely).

Resolusi yang SMART dapat dilakukan jika kita sudah terlebih dahulu mengevaluasi setahun ke belakang dan sudah melalui proses pengenalan diri dengan terbuka. Sebagai contoh, ketika menyadari hasil evaluasi di tahun lalu adalah, terlalu banyak melakukan pelayanan dan kering rohani. Maka solusinya perlu peningkatan waktu rutin untuk mengisi diri dengan Firman Tuhan dan doa. Langkah konkrit dari solusi tersebut misalnya dengan memiliki waktu Sabat tersendiri dua kali dalam sebulan dan mendisiplinkan kualitas serta kuantitas bersaat teduh. Contoh lain, berdasarkan pengenalan diri, kita punya potensi di bidang kreatif. Asah diri kita dengan hal-hal kreatif yang disuka, misalnya menggambar atau typography. Langkah konkretnya bisa dengan menantang diri setiap hari untuk membuat satu gambar atau satu typography. Penentuan Frekuensi dapat disesuaikan agar tetap realistis.


Photo by Ben White on Unsplash

Pada akhirnya, resolusi janganlah dijadikan hanya sebagai gagasan tanpa eksekusi. Tidak perlu memiliki resolusi yang terlalu banyak. Sedikit tapi konsisten lebih memberikan dampak yang baik daripada banyak resolusi tapi hanya menjadi wacana. Jika secara konsisten dilakukan bisa jadi, resolusi tahun ini bertambah sedikit demi sedikit. Jangan lupa, sertakan Tuhan dalam mengerjakan setiap resolusi, sehingga ketika ada banyak keberhasilan kita tahu jelas kepada siapa kita harus bersyukur.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE