Rise of The Cowards

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Juli 2018
I went to the club to escape my life and pretend I’m somebody else. Now I don’t know who I am anymore –E. Leo Foster

Memang benar ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, namun saat ini saya menemukan yang lebih jahat: ibu jari. Ya, dewasa ini banyak manusia-manusia yang kurang kerjaan sekaligus sering kehilangan kendali atas jempol mereka sendiri. Saya setuju dengan beberapa platform media sosial yang dapat menonaktifkan kolom komentar mengingat maraknya hate comments yang mengarah ke bullying. Tidak hanya itu, pelecehan secara verbal maupun seksual yang selalu menuai beragam respon.

Komentar yang dilontarkan begitu pedas dan sejatinya “membunuh” seseorang, dimana seorang anak 13 tahun yang sebenarnya tidak merugikan pihak manapun, harus pindah sekolah dan ibunya terpaksa berhenti bekerja untuk melindungi anaknya. Seorang mahasiswi di Cina memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung tinggi karena tidak ada seorang pun yang percaya akan ceritanya yang sempat dilecehkan secara seksual oleh dosennya sendiri. Lalu tebak apa yang terjadi di kolom komentar platform yang mengunggah video gadis ini? Mereka menertawakan, bahkan cenderung setuju atas keputusannya mengakhiri hidup. Hal yang mirip saya alami sendiri beberapa waktu lalu, di Ask.FM, tempat dimana semua orang bisa bertanya kepada saya dengan maupun tanpa identitas. Lalu tiba-tiba saya mendapat pertanyaan yang tidak pantas dan mengarah ke pelecehan seksual dari anonim. Saya sangat marah saat itu namun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada identitas yang terlacak.

Kita hidup di lingkungan yang sangat keras.



Photo by rawpixel on Unsplash


Namun, di balik keras dan culasnya jempol-jempol oknum yang lebih akrab dikenal dengan netizen ini, saya tergelitik untuk melihat lebih dalam. Saya menemukan fakta bahwa sejatinya mereka sedang melarikan diri dari kenyataan hidup, mungkin di kehidupan nyata mereka adalah orang-orang yang selalu kalah dan tidak pernah diperhitungkan, sehingga suara mereka juga tidak didengar. Dengan menebar hate comments, mereka bangga akan aktualisasi diri menjadi pribadi yang berbeda di sana. Mereka terlihat lebih sangar dan mendominasi. Saat kembali dari pelarian, mereka akan kembali juga menjadi pecundang dan itu menyakitkan. Lalu perhatikan lagi fakta ini: sebagian besar komentar-komentar buruk ini, di platform media sosial manapun, berasal dari akun bodong alias fake account. Mereka tidak meletakkan identitas asli dan menggunakan nama lain pada akun itu, khusus dibuat hanya untuk menebar kebencian. Dengan kata lain, mereka hanya berani mengungkapkannya dibalik anonimitas. Satu kesamaan yang saya temukan: di dunia maya dan nyata ternyata sama-sama penakut.

Mengapa bentuk pelarian ini banyak diminati? Sepertinya, karena sekilas terlihat tidak merugikan dan tidak life-threatening bagi diri mereka sendiri, setidaknya. Berbeda bila mereka memilih untuk menggunakan obat-obatan terlarang atau minum alkohol, hal itu akan lebih berisiko ketahuan orang tua atau bahkan membunuh mereka sendiri jika kelewatan. Hadirlah media sosial yang sepertinya menjadi “tempat lain” dan cukup mudah dikunjungi. Selain itu, berhasil membuat sang target menjadi kehilangan arah tujuan hidup dan mempertanyakan diri mereka sendiri atas komentar-komentar itu memberikan efek kepuasan, seperti memberi ego mereka makan. Pelarian yang “menarik” bukan? Namun tentu saja hal itu sangat salah.



Photo by Melanie Wasser on Unsplash


Di dalam Alkitab, Allah tidak pernah mengajarkan kita untuk “melarikan diri” ketika kita sadar ada yang tidak beres dalam kehidupan ini. Seperti yang tertulis di 2 Korintus 4:8-10 “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”

Berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus, ketika tersakiti dengan perlakuan orang lain yang tidak pernah menganggap kita ada, Yesus ingin kita belajar untuk mengampuni, bukan malah berlagak seperti tidak terjadi apa-apa dan membiarkan hal itu berlalu. Secara tidak sadar, kemarahan yang tidak tuntas akan terus menumpuk dan suatu saat akan bermanifestasi menjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri. Pelarian dapat diibaratkan seperti obat penghilang rasa sakit yang hanya bermanfaat untuk meredakan rasa sakitnya saja sementara waktu, tanpa menyelesaikan akar permasalahan sesungguhnya. Jika memang penyakit yang ditimbulkan karena keberadaan bakteri, obat yang tepat adalah antibiotik, bukan hanya sekedar painkiller.



Photo by Franciele Cunha on Unsplash


Mari membiasakan diri untuk menggali dan melihat sendiri apa yang sedang terjadi dan pilihlah untuk menghadapinya. Dengan terbiasa menjadi “petarung”, kita akan terbiasa pula untuk membereskan yang belum beres, tanpa harus bingung mencari kemana harus berlari.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE