Ruang Penantian, Nikmatilah!

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 8 November 2018
Yang saya tahu ialah, bahwa Allah sedang memproses diri saya. Ia sedang memperkenalkan diri-Nya lebih jelas dan lebih dalam pada saya melalui ruang penantian ini.

“Yesus memang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus, saudara mereka. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada”. Dua kalimat yang sepertinya saling bertentangan ini tertera dalam Yohanes 11:5-6.

Saat kita mendengar dan melihat, bahwa orang-orang yang kita kasihi memerlukan bantuan, biasanya – secara otomatis – kita akan bergegas untuk menolongnya. Bahkan, mungkin kita akan memberikan apa saja yang dapat kita lakukan. Namun yang Tuhan Yesus lakukan sungguh berbeda. Ia sengaja menunda, hingga akhirnya Lazarus mati karena penyakitnya.

Apakah lantas Ia menyesal karena telah berlambat-lambat? Sama sekali TIDAK. Ia justru menanggapi berita kematian Lazarus dengan berkata, “…tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.”

KOK GITU SIH?! Memang kurikulum seperti apa yang sedang Tuhan rancang bagi Marta dan Maria, yang telah menantikan-Nya selama empat hari? Apa rencana di balik kesengajaan-Nya itu?



Photo by rawpixel on Pixabay


“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walau pun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya,” demikian perkataan Yesus pada Marta yang menjadi jawaban pergumulan keluarga Lazarus. Ia mengajar mereka untuk percaya penuh pada waktu Tuhan; bahwa semua akan tepat pada waktu-Nya.

Sebuah ruang penantian telah Tuhan sediakan bagi Maria dan Marta. Melalui penantian itu, Tuhan menunjukkan lebih jelas dan lebih dalam tentang siapa diri-Nya. Bahwa Ia bukan hanya seorang penyembuh, melainkan Kebangkitan dan Hidup itu sendiri. Sungguh dan pasti jaminannya!

Sama halnya dengan kehidupan Maria dan Marta, saya yakin setiap kita pernah Tuhan izinkan merasakan dingin dan sepinya sebuah ruang penantian. Saya pun demikian. Telah tiga tahun saya berada di dalam ruang itu tanpa menemui tanda-tanda akan sebuah jawaban pasti. Haruskah saya terus menunggu, atau sebaiknya, beranjak pergi?



Photo by bruce mars from Pexels


September 2015 lalu, saya pulang dari tanah perantauan saya, Papua. Pilihan untuk kembali ke rumah orang tua seakan mengubah arah hidup saya dengan seketika. Padahal sebelumnya, di tahun kedua saya merantau, saya pernah berikhtiar, “Tuhan, aku rela mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak di tanah ini sampai tutup usia.” Namun tak lama berselang, Tuhan justru mengizinkan satu kejadian yang membuat saya dengan berat hati harus meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

Sesampainya di rumah, saya mengalami jet lag. Bukan hanya akibat perbedaan zona waktu antara WIT dan WIB. Kembalinya peran menjadi seorang anak setelah selama 8 tahun hidup mandiri juga menjadi kendala tersendiri buat saya. Pertanyaan demi pertanyaan pun terus bermunculan; Akan sampai kapan saya menganggur tanpa pekerjaan? Di mana selanjutnya saya akan mengabdikan diri?



Photo by klimklin on Pixabay


Di tengah masa penantian yang membingungkan itu, saya memberanikan diri untuk menggali mimpi yang pernah saya miliki sebelum berangkat ke Papua. Saya mulai mendoakan untuk dapat menempuh pendidikan lanjut di salah satu bidang studi yang ingin saya geluti. Namun lagi-lagi, sepertinya Tuhan hendak berkata lain.

Justru di masa-masa mimpi saya bersemi kembali inilah, Tuhan memberikan saya kesempatan untuk bergabung di sebuah sekolah swasta. Bahkan di mata saya, kesempatan tersebut hadir dengan cara yang tidak masuk akal. Di sana, saya bekerja sebagai seorang staf pengembang kurikulum karakter. Hal yang sangat baru bagi saya, seorang lulusan keguruan Matematika.

Harus saya akui, inilah ruang penantian yang sedang Tuhan sediakan bagi saya. Ruang yang di dalamnya terpampang papan besar dengan tulisan “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mazmur 46:11)

Apakah saya akan berada di sekolah ini hingga akhir hidup saya? Akankah saya kembali melayani di Papua? Atau, akankah saya mengenyam pendidikan lanjutan? Saya tidak tahu! Yang saya tahu ialah, bahwa Allah sedang memproses diri saya. Ia sedang memperkenalkan diri-Nya lebih jelas dan lebih dalam pada saya melalui ruang penantian ini. Itulah tujuan-Nya.



Photo by free-photos on Pixabay


Ia adalah Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi hidup kita. Bahkan, Ia sudah hadir di masa depan kita. Maka, apalagi yang perlu dikhawatirkan?

Melalui kebenaran ini, perspektif saya akan penantian pun perlahan mulai berubah. Jauh berbeda dengan tahun pertama saya yang penuh dengan kegusaran, kini saya mulai menikmati ruang penantian ini. Karena melalui ruang ini, saya dapat semakin melihat diri saya yang otentik. Di ruang ini pula, saya berjumpa dengan banyak orang yang mengasihi Tuhan, dan terlebih itu, saya menjumpai pengenalan yang mendalam akan Tuhan.

Berada di ruang penantian? Nikmatilah!

Syukur kepada Allah.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE