Ruang Tunggu dan Doa “Jadilah Kehendak-Mu”

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 November 2018
Jujur saja, dalam kemanusiawian kita, siapa yang suka dengan jalan penderitaan yang menguras air mata?

Tidak ada yang bisa menjamin bagaimana sebuah penantian akan berakhir. Tidak ada yang tahu pasti apakah kita akan tersenyum atau menangis. Tidak ada yang tahu apakah ekspektasi kita atas kondisi yang ditunggu akan terpenuhi atau tidak. Satu hal yang berusaha kita yakini, seberapa baik atau seberapa buruk pun kondisi yang akan kita temui di ujung penantian, Tuhan tetap berada di sana untuk siap merangkul kita. Ya, di saat terbaik maupun di saat terburuk dalam hidup, pendampingan Tuhan setia.

Salah satu penantian terberat adalah penantian di ruang operasi dan ruang ICU.1 Akhir Oktober 2018 lalu, selama 18 hari lamanya, aku dan keluarga harus menghadapi penantian ini. Ya, menanti kabar dari ruang operasi dan ruang ICU tempat ayah harus menjalani operasi mayor karena pembuluh darah yang pecah di kepala. Penantian itu sulit, karena kejadiannya sangat tiba-tiba dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

18 hari itu, aku dan keluarga harus bergantian menunggu ayah di rumah sakit. Ada sebuah ruangan di sebelah ruang ICU yang disediakan rumah sakit untuk tempat keluarga pasien menginap. Dalam 18 hari penantian, tak sedikit pasien dan keluarga pasien lain yang datang dan pergi. Ada pasien yang akhirnya melalui kondisi kritis dan bisa pindah ke ruang rawat biasa, tapi ada juga pasien yang tak bisa bertahan dan meninggal.

Di ruang itu, tangis dan air mata adalah ritme yang akrab terjadi. Aku terkejut. Sebelumnya, aku tidak pernah tahu rasanya—keluarga kami belum pernah ada yang menjalani operasi dan masuk ruang ICU selama 27 tahun kehidupanku selama ini. Situasi di ruangan itu menyadarkanku bahwa akhir penantian memang tidak bisa ditebak pasti.



Photo by Bernard Hermant on Unsplash


Namun, kemungkinan kehilangan ayah merupakan salah satu kemungkinan yang sulit untuk kami hadapi. Usia ayah memang sudah tergolong lansia (69 tahun), tapi untuk usia lansia, sebenarnya ayah masih aktif dan sehat. Tidak pernah terbayang ayah akan menjadi tidak berdaya di atas ranjang ICU, mengalami masa-masa sulit setelah operasi mayor di kepala, dengan kondisi yang naik dan turun—padahal di hari sebelum kejadian itu, ayah masih dalam kondisi baik-baik saja. Jujur, kami belum siap untuk melepas ayah.

Di ruang penantian itu, keluargaku berdoa, memohon Tuhan memulihkan ayah—sementara aku sendiri bingung bagaimana harus berdoa di masa-masa penantian yang sulit ketika aku tidak mengetahui pasti kehendak Tuhan. Ternyata, di ruang penantian itu, melalui bab “How To Pray When Life Falls Apart” dari buku “The Scars That Have Shaped Me: How God Meets Us In Suffering” karya Vaneetha Rendall Risner, Tuhan mengingatkanku juga akan sebuah doa. Doa Yesus, di Taman Getsemani.



Photo by Debby Hudson on Unsplash


Tidak Mudah Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu”

Taman Getsemani adalah sebuah ruang tunggu pula bagi Yesus, sebelum menghadapi dahsyatnya penderitaan kayu salib. Di ruang penantian itu, Yesus sangat sedih dan gentar (Matius 26:37). Dalam doa-Nya, Yesus bahkan memohon Allah untuk melalukan cawan penderitaan daripada-Nya. Yesus, Tuhan yang menjadi manusia dan memilih merasakan kemanusiaan kita, pun merasa sedih dan gentar menghadapi penderitaan—apalagi aku yang hanya manusia berdosa.

Harus diakui, penderitaan memang bukan rute yang mudah untuk ditempuh. Meski begitu, di akhir doa, Yesus memberikan diri-Nya, sepenuhnya, pada Allah, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Kau kehendaki” (Matius 26:39). Sebuah tanda keberserahan mutlak kepada kehendak Allah, betapapun sulitnya kehendak itu kita hadapi dalam kemanusiaan kita.

Namun, memang tidak mudah mengucapkan doa “jadilah kehendak-Mu” terutama di masa-masa sulit. Bagaimana kalau kehendak Tuhan berbeda jauh dari kehendak kita? Bagaimana kalau kehendak Tuhan tidak seperti kehendakku yang berharap masa penantian cepat berakhir dan ayahku cepat pulih? Jujur saja, dalam kemanusiaan kita, siapa yang suka dengan jalan penderitaan yang menguras air mata? Siapa yang suka akan kehilangan dan kematian? Siapa yang suka menghadapi kemungkinan terburuk? Hanya saja, kita memang tidak memiliki pilihan lain. Keberserahan kepada Allah adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan di masa penantian.

Meski tidak mudah, perlahan-lahan aku belajar untuk berdoa dan juga berserah, seperti Yesus di ruang tunggu di Taman Getsemani. Untuk bersikap jujur menumpahkan segala kekhawatiran, ketakutan, kegentaran, dan kesedihan kepada Allah. Untuk berani menghadapi kemungkinan terburuk dan masa sulit, jika itu memang bagian dari kehendak Allah. Untuk tetap memohon Allah memulihkan ayahku dari sakitnya, tetapi pada akhirnya kembali meletakkan segala akhir cerita dalam telapak tangan-Nya. Untuk mempercayai hati dan rencana Tuhan, tentang ujung penantian. Ia yang lebih mengasihi ayahku daripada aku dan keluarga, Ia yang mengenal dan merancang hidup setiap orang sampai ke detail-detail terkecil—pasti tahu jauh lebih baik daripadaku.



Photo by Daan Stevens on Unsplash


Keberserahan pada Allah Mempersiapkan Kita untuk Bertemu Ujung Penantian

Ujung penantian di ruangan ICU itu akhirnya tiba. Setelah masa penantian 18 hari dan tim dokter memastikan kondisi ayah sudah cukup baik dan stabil, lewat dari masa kritis, ayah akhirnya pindah ke ruang rawat biasa. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, dokter mengatakan ada kemungkinan ayah akan menjalani operasi trakeostomi karena ayah belum bisa bernafas mandiri dengan paru-parunya tanpa alat bantu. Operasi itu tidak jadi dilakukan. Dalam anugerah Tuhan, kondisi ayah progresif, pun untuk paru-parunya.

Sekarang ayah sudah pulang ke rumah (rawat jalan). Namun, pemulihan dari penyakit ini (stroke) memang membutuhkan waktu dan kesabaran, baik dari pasien maupun keluarga. Masa-masa ini pun tak bisa dibilang mudah untuk dijalani. Banyak hal yang berubah, banyak hal yang harus disesuaikan ulang. Masa ini menjadi ruang tunggu berikutnya bagi kami. Jika bukan karena pendampingan Tuhan, mungkin ayah, aku dan keluarga, juga tidak akan sekuat ini untuk menghadapi setiap kondisi yang terjadi.

Saat ini, jika aku mengunjungi kembali masa 18 hari penantian di ruang ICU itu dalam memoriku, masih ada perasaan gentar yang tersisa. Namun sungguh, keberserahan kepada Allah itu, mempersiapkan untuk bertemu ujung penantian. Ruang tunggu dan masa penantian memang tempat tersulit, tetapi juga tempat terbaik, untuk belajar berdoa “jangan kehendakku, tapi jadilah kehendak-Mu”.

Catatan :
1 ICU (Intensive Care Units), adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan dengan penyakit atau cedera serius. Untuk membantu memulihkan kondisi pasien, ruang ICU dilengkapi dengan peralatan medis khusus.

www.alodokter.com/kondisi-yang-memerlukan-ruang-icu-dan-peralatan-di-dalamnya

Operasi Trakeostomi dilakukan pada situasi gawat darurat atau pada penderita penyakit yang parah, bertujuan untuk mempertahankan jalan napas, namun juga memiliki risiko komplikasi, selama atau sesudah trakeostomi dijalankan.

www.alodokter.com/mengenal-prosedur-trakeostomi-indikasi-dan-risikonya

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE