Saat TRP 2017 Membahas Kualitas Kekristenan dan Membuatku Tertunduk Malu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 18 Mei 2017
Kita selalu berkata pada Tuhan seolah kita telah melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita. Padahal sebenarnya, kita tak pernah melakukan apa-apa, dan kita bertindak seolah kita telah melakukan segalanya.

Sebuah kalimat yang tajam oleh salah satu pembicara di sesi kedua acara Temu Raya Pemuda 2017. Dalam waktu yang bersamaan pikiran saya terusik dan langsung melayang pada berbagai pertanyaan tegas yang memaksa saya merenung. Tak berhenti di sana, Pdt. Agus menambahkan pernyataan Pak Joas yang menggambarkan sebuah peristiwa saat sebuah kelompok menawarkan bantuan dana untuk yayasan yang ia dirikan:
"Orang-orang Kristen memang selalu bilang dan mengajarkan tentang kasih. Tapi yang menjalankan kasih bukan mereka, tapi justru kelompok agama lain.”

Berapa banyak dari kita yang hidup untuk diri sendiri dan berfokus pada kepahitan yang kita miliki?

Berapa banyak dari kita yang setiap hari sibuk memedulikan diri dan memikirkan bagaimana orang lain melihat kita?

Seringkali sebagai orang Kristen, kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Memusingkan bagaimana berkat datang, bagaimana hidup berintegritas, bahkan khawatir tentang masa depan. Kita sampai lupa tujuan awal mengapa kita hadir di dunia ini. Padahal, di saat yang sama kita tak sungkan menyombongkan diri sebagai anak-anak Allah. Umat terpilih yang diberikan hikmat. Murid-murid pembawa garam dan terang dunia.

Kita sampai lupa bahwa terang sesungguhnya adalah Dia. Kita hampir amnesia bahwa kita hanyalah alat yang dipakai oleh-Nya. Tak ada yang salah dengan menata diri, karena kita memang terlahir sebagai bejana retak yang terus perlu diisi oleh kasih-Nya dan memperbaiki diri. Namun menjadi sangat tidak bijak ketika diri sendiri senantiasa menjadi fokus hidup setiap hari.

Mengoreksi Cara Pandang

Kembali pada momen TRP yang jelas mencuri hati banyak pemuda GKI, timbul pertanyaan penting yang secara konsisten menganggu pikiran dan hati saya.

"Apa yang sudah kamu perbuat selama ini?"

"Apakah kamu sudah mengasihi dan membantu saudara-saudara-Ku?"

Awalnya saya selalu pesimis ketika gereja ikut campur dengan urusan politik.

Program Studi yang saya pilih saat kuliah membuat saya belajar bahwa agama dan politik bukan dua hal yang seharusnya disatukan. Sejarah dunia membuktikan bagaimana agama dipakai berulang kali untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu saya selalu memandang bahwa kegiatan gereja tak usah ikut campur dengan situasi politik sosial. Apalagi menyentuh urusan masyarakat.

Selain karena beresiko dicap 'Kristenisasi', umat Kristen juga akan ikut arus dengan godaan-godaan politik yang dibayangkan saja sudah mengerikan. Toh kita juga masih penuh cacat cela dan tidak sempurna. Toh kita masih perlu membenahi diri. Toh hubungan kita dengan Tuhan seringkali eksklusif dengan tujuan kenikmatan diri. Kalimat pembelaan itu terus hadir untuk menyangkali fungsi kita yang sebenarnya.

Namun setelah sesi 2 TRP lalu, satu bagian firman Tuhan ini menegur saya keras:

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
Matius 25 : 40

Mungkin alasan dari kondisi Indonesia yang semakin semrawut hari-hari ini bukan hanya karena ada kelompok-kelompok yang berupaya memecah bangsa. Mungkin alasan salah seorang pemimpin yang tak pernah korupsi dicebloskan ke dalam penjara juga bukan karena hukum di Indonesia terlalu lemah atas kepentingan tertentu. Namun mungkin karena selama ini kita diam. Selama ini kita tak pernah peduli dengan kondisi kontekstual sekitar kita.

Jika ditarik lebih jauh, mungkin itu akibat dari kita yang hanya berfokus pada diri sendiri. Mungkin karena selama ini kita terlalu cengeng dan merengek tentang kepahitan kita pada Tuhan tanpa memedulikan kebutuhan orang lain. Mungkin selama ini kita teralu sibuk mendandani citra agar dipandang sebagai Kristen yang baik namun mengabaikan kewajiban seorang Kristen untuk berkarya bagi sesama.

Kita teledor untuk menghayati bahwa Kekristenan bukanlah jalan memenuhi kenikmatan diri, tapi justru untuk amanat mengosongkan diri lalu menjadi bejana yang siap diisi oleh-Nya dan menyalurkannya pada sesama. Memberikan dampak berarti memberikan yang terbaik, bukan seadanya, bukan juga yang mudah dikerjakan.

Jadi sudah siap jadi terang pemancar kasih Tuhan hari ini?

Kita bukan sumber terang dunia. Tuhan adalah terang yang sesungguhnya. Kita hanya 'fasilitas' untuk memancarkan terang.
Pdt. Joas Adiprasetya

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE