Satu Hari Bersama Seorang Farisi Modern

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 27 September 2017
Bejana retak ini butuh diperbaiki, bukan ditutupi

Seorang Farisi dalam konteks masa kini berjalan ke sana ke mari tanpa membawa Buku Torah di tangannya. Sudah habis masa baginya untuk selalu menjinjing 613 peraturan Taurat yang diambisikannya untuk dijalani. Seorang Farisi masa kini menjalani hidup yang sama dengan kebanyakan orang; Ia berpendidikan, mengenakan skinny jeans, memiliki pekerjaan, dan tentu saja, jaringan internet. Kesehariannya tidaklah berbeda dengan kita semua. Kebetulan ini adalah hari Minggu, sudah kewajiban baginya untuk menghadiri kebaktian di gereja. Khusus pada kesempatan kali ini, kita diperkenankan untuk menjalani hari Minggu bersamanya dan mengenal sosok ini lebih dalam dari biasanya. Meet Paulie, seseorang yang mungkin tidak asing bagi kita semua.


Photo by Tim Marshall on Unsplash

Hari Minggu Bersama Paulie

Di hari Minggu yang cerah ini, Paulie mengikuti kebaktian yang dibuka dengan praise and worship. Dengan tangan terangkat dan menyanyi dengan suara lantang; ia ikut menyorakkan jargon pemuda-pemudi rohani trendi masa kini, “all out lifting up His name”. Ia mengikuti rangkaian kebaktian dari awal hingga akhir, mendengarkan khotbah sang pendeta, berdoa bersama-sama, dan memberikan persembahan dengan jumlah terbaik yang ia bisa berikan.

Seusai ibadah, Paulie yang sedang terburu-buru menuju ke arah kendaraannya, mendapati salah seorang teman yang sedang diam-diam merokok di parkiran. Sambil memberikan senyum khasnya, Paulie tak segan menegur. Hal-hal seperti ini yang membuat Paulie menjadi sosok yang cukup dikenal di gereja. Ia kerap memberikan nasihat-nasihat hangat di kala ada teman yang merokok, mengenakan sandal atau rok pendek dalam gedung gereja, atau yang sering terjadi adalah saat ada yang lupa menonaktifkan telepon genggam saat kebaktian berlangsung.

Selain ibadah, satu lagi hal yang membuat Paulie begitu bersemangat di hari Minggu adalah pertemuan rutin yang dia dan rekan-rekan sepelayanannya selalu agendakan. Status menjadi aktivis gereja sudah begitu mendarah daging dalam nadi Paulie dan teman-teman, hal itulah yang membuat mereka dikenal aktif di segala divisi pelayanan yang ada. Momen makan siang bersama sambil menyusun rencana pelayanan untuk minggu-minggu selanjutnya menjadi saat yang selalu ditunggu-tunggu Paulie. Tak pernah lupa mereka sempatkan juga untuk menulis daftar nama-nama yang dirasa perlu untuk mereka doakan.


Shutterstock.com

Wait, what really is the issue?

Looks like nothing is wrong. Tidak ada yang salah dari Paulie dan teman-teman hari minggunya. Setidaknya di permukaan. Banyak dari kita yang mungkin memiliki jadwal kehidupan seperti di atas, dan Puji Tuhan jika kita memilikinya. Tapi mari kita menggunakan momen ini untuk jujur terhadap diri sendiri tentang sikap hati kita di saat-saat tertentu. Sikap-sikap hati yang tidak memberikan kemuliaan bagi Tuhan, malah mencurinya. Sikap-sikap hati yang tidak mencerminkan Kristus, tapi para penyalibnya. Spoiler alert: hanya karena kita melabeli diri dengan hal-hal yang rohani, tidak berarti kita sudah benar di hadapan Yang Mahakuasa. Let’s be honest, masih banyak dari budaya kaum Farisi di masa lalu, yang masih terbawa dalam diri kita sekarang. Saatnya untuk menyibak sudut tak terlihat dalam hati seorang Paulie.

Double standard and Hypocrisy

Pernah mengalami momen saat kita atau orang yang kita kenal menghabiskan banyak sekali waktu untuk menyalahkan sesuatu? Bagi Paulie, hidup sehari 24 jam rasanya masih kurang untuk dihabiskan dengan mencari oknum agar bisa disalahkan (dalam hati maupun tindakan). Menghakimi komunitas LGBT, merokok, mabuk, pakai rok pendek, ngomong kotor, hamil di luar nikah, dan hal-hal lainnya yang dirasa nggak pantas untuk dilakukan oleh orang Kristen. Bukan maksud dari tulisan ini unuk menentang kekudusan, tapi bersikap kritis terhadap semangat Farisi yang mengutamakan sikap gemar menyalahkan ini daripada melakukan dan membagikan injil. Pola pikir yang bahkan menempatkan diri justru sebagai ‘injil’ itu sendiri. Yang mungkin sering terdengar dalam percakapan Paulie dan kumpulan ekslusifnya adalah:

“Bro, kamu kan orang Kristen, seharusnya kamu tau omong kotor itu dosa.”

“Sis, kamu kok tattoan? Kan tubuhmu bait Allah (lalu ngutip ayat)”

Apakah teguran dan kekudusan adalah bagian dari menjadi seorang pengikut Kristus? Ya dan amin. Tapi poin dari menjalani semangat seorang Farisi adalah pembenaran akan BEBERAPA hal saja yang dia mampu lakukan, bukan SEMUA yang Tuhan perintahkan.

“Bro, kamu kan tahu tetanggamu itu janda dan miskin banget, kok ga kamu bantu sih? Kamu berdosa lho kalo ga ngikutin perintah Yesus menolong sesama.”

Familiar dengan kalimat ini keluar dari seorang Farisi dan gerombolannya? Saya juga tidak. Seperti Paulie yang lebih rajin mengkritik dosa orang di sekitarnya, tapi tidak mengacuhkan adiknya di rumah yang baru saja mencoba untuk bunuh diri akibat depresi. Berbicara kotor menjadi lebih urgent, as if the world dying outside really cares. Saat di luar sana masih banyak yang sakit dan kelaparan (Matius 23).


Shutterstock.com

Kegiatan Rohani, Intensi Duniawi

Segala aspek dalam hidup Paulie seolah menuntut untut dilabeli ‘rohani’. Dalam hatinya dan teman-temannya, pelayanan adalah status yang dapat membuat mereka menarik. Bukan mengikuti kehendak Tuhan untuk melayani umat dan gerejaNya, melainkan sebaliknya, gerejalah yang melayaninya. Di saat ambisi-ambisi ini tercapai, menciptakan suatu perkumpulan yang ekslusif dan selektif pun pantang dilewatkan demi mengamankan posisi ‘terhormat’ mereka agar tidak terancam dan terekspos dengan kenyataan bahwa semua manusia memiliki kekurangan. Hal itu tidak boleh terjadi, lagipula mereka sudah dikenal akan kesalehannya. Membuat daftar nama-nama orang yang mereka ingin ‘khotbahi dan doakan’ adalah suatu kebutuhan untuk terus memberi makan kebohongan yang senantiasa mereka konsumsi: “mendapatkan perasaan lebih baik dengan menunjukkan bahwa orang lain lebih rendah, dan mereka lebih tinggi”. Bagaikan adiksi, mengejar sense of importance yang tidak sehat ini kadang-kadang membuat mereka melakukan perbuatan yang lebih banyak menyakiti hati orang lain. Seperti doa dengan tujuan menyindir, berfokus meminta Tuhan ‘mengubah’ orang lain daripada meminta kebijaksanaan diri untuk merefleksikan kasihNya. Atau mengekspos dosa orang lain dengan cara yang halus seperti lewat media sosial. Tidak satupun hal ini yang mencerminkan Kristus, tapi toh, life is about keeping up with our reputation right?

Pengakuan Penulis

Mungkin tulisan ini cukup banyak memberikan kesan bagaimana aku dibentuk di masa lalu. Bertumbuh dari kepahitan terhadap ‘Paulie dan golongannya’, membuatku membenci gereja, bahkan aku menjauhi Yesus sendiri. Sampai suatu ketika, di saat Sang Injil benar-benar menyatakan karyaNya padaku 4 tahun lalu, aku tersadar bahwa aku tidak berbeda dengan Paulie. Membuatku membenci dan mengolok-olok para Farisi kekinian yang justru menjadikanku seorang Farisi di sisi ekstrim yang berbeda. Bahkan lebih dari itu, ketika mulai berdamai dengan Tuhan dan gereja, akupun masih terperosok di jurang yang sama dengan Paulie. Hampir setiap hari ke gereja, tapi setiap hari juga dengan rajin kubersihkan history internetku (kamu tahu yang kumaksud kan?). Datang ke gereja setiap minggu dan aktif di pelayanan hanya untuk menutupi penyembahan di altar pornografi dan miras yang kulakukan dari hari Senin hingga Sabtu. Kuakui, masa itu adalah masa yang mengurungku di suatu sel penjara yang pengap, menjauhkanku dari kesadaran akan kasih karunia Tuhan yang memberikan kehidupan. Bagaimana mungkin aku menuntut untuk dihormati oleh manusia, sedangkan Tuhan yang aku sembah merelakan jantung hatiNya remuk melihat AnakNya dibunuh dengan cara yang tak terhormat?


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Hanya di saat kita bisa menerima kenyataan bahwa kita semua adalah makhluk yang rapuh dan rusak, bahwa kita adalah bejana yang retak, baru kita bisa benar-benar mengenali Raja yang baik hati itu secara utuh. Paulie dan teman hari minggunya adalah cerita fiktif, dan tulisan ini tidak bermaksud untuk menyindir apalagi menyerang suatu pihak tertentu. Modus operandi dan percakapan yang tertera di atas tidak mewakili secara keseluruhan karakter seorang Farisi. Satu pola yang ingin kubagi adalah: INSECURITY (perasaan tidak aman terhadap identitas diri sendiri) membuat kita memakai topeng bernama KESOMBONGAN. Obat yang dapat menyembuhkan kita dari racun tersebut, adalah kejujuran, keterbukaan, dan kerapuhan di hadapan Sang Pencipta.

Buka topeng plastik itu kawan. Bejana retak ini butuh diperbaiki, bukan ditutupi. Berikan Ia kesempatan untuk mengasihi dan merawat luka-lukamu. Setelah itu, sembuhkanlah dunia bersamaNya.

Untuk kemuliaanNya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE