Saya Bukan Mi Instan dan Nggak Mau jadi Mi Instan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 20 November 2018
Waktu adalah sebuah hadiah yang terlalu jarang kita berikan pada diri sendiri.

Satu kali dalam kelas kursus Bisnis & Manajemen yang saya ikuti di gereja, dipaparkan fakta bahwa brand dengan persepsi paling positif di Indonesia ini adalah… Indomie. Semua orang cinta Indomie, semua orang setuju rasanya enak dan baunya harum (ngaku, apa coba yang kamu cari waktu hujan sore-sore?). Mungkin kita suka karena ia memberikan kenikmatan instan pada diri kita. Mungkin pada dasarnya, memang kita tidak mau menunggu lama untuk kepuasan?



Photo by Kleiton Silva on Unsplash


“Kok kamu nge-down sih? Kan sudah lama putusnya?”

Ujaran itu diterima oleh teman kuliah saya yang mengalami mental breakdown berbulan-bulan setelah putus dengan pacarnya. Pertanyaan yang mengintimidasi itu, sayangnya, muncul dari teman-teman gereja. Akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi pada psikolog.

“Ya, ternyata aku menuntut diri sendiri terlalu keras, dengan adanya tekanan dari teman-teman rohani untuk ‘mendoakan dan memaafkan’,” ujarnya. “Padahal cara penyembuhan tidak seperti itu; penyembuhan harus alami, dan karena aku berhubungan langsung dengan orang-orang yang menyakitiku, wajar kalau aku butuh waktu lebih banyak untuk sembuh.”



***


Beberapa waktu kemudian, giliran saya yang mengalami hal serupa – putus dari seorang laki-laki. Mengikuti jejak kawan, saya pergi ke psikolog. “Kenapa kamu memutuskan untuk mengikuti program konseling?” psikolog saya bertanya dengan gesture lembut namun profesional.

“Saya nggak mau lama-lama berduka karena pria itu – saya perlu segera pulih, agar bisa kembali fokus di pekerjaan dan hidup tenang seperti dulu lagi. Menurut saya, laki-laki itu tidak cukup berharga untuk diratapi lama-lama,” saya menjawab yakin.

Ternyata jawaban saya salah – atau tepatnya, sangat tidak sehat.

Berulang kali psikolog menekankan, saya tidak boleh menyuruh diri sendiri untuk segera pulih; karena akibatnya akan buruk untuk diri. Meski sulit, saya berusaha menekan dorongan ‘auto-pulih’ itu. “Jika hari ini mau menangis, biarkanlah, nggak apa-apa – nangis saja. Kalau muncul rasa marah, diterima saja. Kalau sudah enakan, tapi mendadak merasa down lagi, diterima saja. Nggak usah buru-buru mau seperti dulu lagi,” pesannya.



Photo by Wil Stewart on Unsplash


Teman saya, yang sudah “lulus” dari klinik psikolognya, juga menyuarakan hal yang sama – ambil waktumu, sepanjang yang diperlukan, untuk pulih. “Saya sempat merasa Tuhan mau saya cepat-cepat beres dengan masalah itu, padahal belum tentu; yang penting kita jujur saja pada-Nya mengenai perasaan kita.

Waktu adalah sebuah hadiah yang terlalu jarang kita berikan pada diri sendiri. Ada anak sekolah bisa ikut kelas akselerasi, kita kagum. Ada remaja usia 18 tahun sudah masuk dunia kerja karena sekolah kurikulum internasional, kita berdecak iri. Ada pesawat landing lebih cepat dari jadwal, kita langsung nge-fans sama maskapainya.

Di mata saya, cepat tidak selalu bagus, tetapi tepat waktu selalu baik (maksudnya, jangan jadikan tulisan saya ini alasan untuk terlambat :p). It’s okay untuk menjadi orang yang membutuhkan waktu. Lah, pada nyatanya kalau direkap, jawaban Tuhan atas doa saya lebih sering “tunggu” ketimbang “ya/tidak”.

Wajar jika kita butuh waktu, karena kita bukan mi instan – jika kita seperti mi instan, berarti kita tidak sehat. Saya sempat menyalahkan diri sendiri karena waktu yang saya butuhkan untuk move on lebih lama dari durasi pacarannya sendiri. Tapi ya sudah, saya belajar menerimanya. Saya memang agak lelet dalam hal ini, ya sudah.

“Psikolog aku sebelumnya juga bilang, dia malah khawatir kalau aku datang-datang langsung bilang saya sudah lega, bla-bla-bla… karena itu proses yang dipaksakan, dan jangan-jangan aku nggak melihat apa yang semestinya,” lanjutnya.

Ia mengumpamakan proses pulih seperti berenang di lautan – kemampuan kita berenang nggak ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai di pantai, tetapi dari kemampuan kita melewati terjangan ombak; apalagi kadang kita “dipaksa” berenang lawan arah. Jadi karena ini bukan balapan renang, fokus saja untuk menghadapi terjangan ombak dan tujuannya.



Photo by Alex Blăjan on Unsplash


Pada akhirnya, saya belajar untuk melepaskan; melepaskan hasrat ego saya untuk jadi “mi instan” yang bisa serba cepat, dan membiarkan Tuhan yang mengatur waktu “kesembuhan” saya. Setelah itu, semua terasa jauh lebih baik.

Baca juga



Memperlakukan Luka dengan Pantas

Moving On: Your New Painkiller, Seriously?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE