Sebelum Berbagi Cinta

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 14 Februari 2019
Tapi sebelah mataku yang lain menyadari Gelap adalah teman setia dari waktu waktu yang hilang Efek Rumah Kaca – Sebelah Mata

Efek Rumah Kaca - Sebelah Mata (Music Video)

Potongan lagu tersebut sedikit banyak bercerita tentang kehidupan Adrian, bassist dari band Efek Rumah Kaca. Dampak diabetes yang dialaminya membentuk suatu sudut pandang baru baginya, bahwa sakit merupakan … bagian dari seni kehidupan yang bisa dinikmati.

Sebagian penderita diabetes – atau penyakit apapun – mungkin bisa berefleksi dari sakit yang ia alami seraya berjuang menyambung hidup dengan tegar; sebagian mungkin sedang berproses menerima kondisinya; tetapi juga ada yang tidak dapat menerimanya.

Seorang sahabat menceritakan kisah papanya yang terkena diabetes akibat sering mengonsumsi gula saat meminum kopi. Papanya masih menolak kenyataan bahwa kakinya akan diamputasi. Ada pula seorang pendeta emeritus GKI yang meskipun menderita kanker stadium empat di paru-parunya – yang tak kalah menyeramkan dari diabetes – telah menerimanya, bahkan menuliskan buku tentang spiritualitas penderita kanker, dengan berefleksi akan kebiasaan di masa lalunya sebagai perokok aktif.

Syukur, jika setiap penderita penyakit besar bisa berkontemplasi dan berjuang melanjutkan kehidupan. Namun bagaimana dengan kondisi orang-orang terdekat mereka; kekasih, keluarga dan sahabat dekatnya? Apakah para kerabat bisa kuat melihat orang yang ia kasihi tersebut menderita secara perlahan, seraya menghitung hari ketika ajal menjemput?



Photo by 3938030 on Pixabay


Mereka yang Seharusnya Dicintai, Namun Terluka

Melanjut cerita dari sahabatku tadi yang kini sedang kuantar ke bandara, “Ya Ar, mau ga mau aku putuskan untuk cuti kuliah terlebih dahulu.” “Aku harus dampingin papa, aku juga harus lihat situasi anggota keluarga lain,” imbuhnya sambil mengambil nafas panjang. “Semoga semua bisa berlangsung dengan baik dan semester depan kembali ke sini menyelesaikan kuliah.” Aku menatap mata perempuan tersebut. Ia berusaha tegar, tapi aku tahu jelas bahwa ia adalah anak yang begitu mengasihi ayahnya.

Kondisi dari istri seorang pendeta emeritus yang kukenal tak jauh beda. Sang suami acap kali hanya membuka mata sejenak dan menjawab obrolanku sedikit, kala aku atau jemaat lain datang berkunjung. Di raut wajah wanita tersebut, sungguh tersirat rasa lelah fisik dan emosional yang tak dapat ditutupi, terlebih ia harus menyaksikan derita kekasihnya. Entah apa yang beliau rasakan ketika sang suami dipanggil Sang Esa. Sayang, aku tak bisa turut menghadiri momen tersebut.

Sebagai seorang ayah, tentu ia mengasihi anaknya, yang merupakan sahabatku. Aku pun yakin bahwa sebagai Pendeta, beliau juga menyayangi istrinya sepenuh hati. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa kondisi sakit kronis dari seseorang secara tak langsung juga akan melukai kondisi orang-orang yang terdekatnya.

Jika sakit tersebut terjadi karena fenomena alam maupun medis (misalnya wabah tertentu), maka kita tidak bisa menyalahkan siapa pun. Namun bila sakit tersebut disebabkan gaya hidup yang berlangsung dengan penuh kesadaran, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah sungguh ia mencintai keluarganya?”

Teaser Webseries “SORE” Presented by Tropicana Slim Stevia

Cinta yang Berkait Kelindan

“Sore”, sebuah film imajinatif lawas ini bercerita tentang seorang istri dari masa depan. Ia hadir di suatu masa untuk memperbaiki pola hidup suaminya ketika masih muda. Terjadi pergolakan dari bakal suaminya ini yang sudah biasa hidup “enak”. Fast food, bir, dan rokok yang menemani hari-hari harus diganti dengan makanan dan gaya hidup sehat.

Sore, nama sang istri, berusaha sedemikian kerasnya mengubah gaya hidup Jonathan, sang suami. Ia tahu, kehilangan sosok kekasihnya oleh karena kematian akan penyakit kronis di masa depan, jauh lebih menyesakkan.

Harus diakui, film ini mengingatkanku sedikit banyak penyakit kronis disebabkan oleh gaya hidup. Setiap orang memiliki gaya hidup masing-masing, dan itulah bentuk konkret cara masing-masing orang menyayangi dirinya sendiri.

Minuman beralkohol atau bersoda, rokok, begadang, makanan cepat saji, sangat disukai oleh banyak orang, termasuk diriku. Potongan lirik lagu “Alkohol, kamu jahat tapi enak!” atau slogan “Pria punya selera!” seolah mempertegas bagaimana seseorang memilih gaya hidupnya. Pola hidup yang telah kita pilih, menjadi sebuah preferensi cara mencintai diri sendiri. Namun pilihan yang tidak tepat, justru akan melukai orang-orang terdekat kita, yang seharusnya kita cintai.



Photo by free-photos on Pixabay


Dalam hukum kasih, Yesus memberikan gambaran cinta yang saling berkait kelindan. Perkataan Yesus di Matius 22:39 menurut versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) berbunyi, “Perintah kedua sama dengan yang pertama itu: Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.” Penulis kitab menggunakan kata “ὁμοία” atau “sama dengan” sebagai sebuah penyetaraan antara perintah pertama dengan perintah kedua. Dengan kata lain, keduanya memiliki kepentingan dan urgensi yang setara.

Dalam kesamaan cinta terhadap Allah, Yesus ingin kita mencintai “sesama” seperti kita mencintai diri kita sendiri. “Sesama” tentu memiliki pengertian yang luas, tapi aku akan mempersempitnya terlebih dahulu sebagai orang-orang terdekat kita – entah keluarga, kekasih, maupun kerabat. Tak tanggung-tanggung, Yesus meminta kita untuk mencintai sesama maupun diri kita sendiri dengan cinta yang “ἀγαπήσεις”, cinta ilahi yang tulus disertai dengan kepenuhan hati, jiwa dan akal budi.

Mencintai sesama, termasuk orang-orang terdekat kita, akan terwujud jika kita sudah mencintai diri sendiri dengan tepat; dengan segenap kepenuhan hati, jiwa dan akal budi. Sudah seharusnya cinta kita kepada orang-orang terdekat juga menjadi sebuah dorongan untuk mencintai diri kita kembali.



Photo by corgaasbeek on Pixabay


Sebelum Berbagi Cinta…

Papaku aktif mengonsumsi minuman berenergi (energy drink) setiap makan siang atau pulang kerja. “Biar badan berasa segar”, katanya. Suatu hari di tahun 2009, ketika kami pindahan rumah, beliau meminum dua sachet energy drink dengan alasan agar lebih kuat mengangkat barang-barang. Tak berselang lama, aku melihatnya tergeletak jatuh di lantai kamarnya.

Panik, aku segera menghubungi keluarga dan segera ke rumah sakit. Diagnosa dokter menyatakan bahwa usus buntu papa pecah. Kondisi itu memaksanya harus berada di ICU selama tiga minggu disertai beberapa kali koma. Ketika itu merasakan luka, luka karena papaku tidak mencintai diri dengan tepat.

Suatu saat, setiap orang pasti mengalami sakit dan kematian dengan penyebab yang berbeda-beda – entah siap atau tidak. Jika memang kita harus mengalaminya, ingatlah orang-orang terdekat kita, yang kita cintai. Apakah mereka siap menerima kenyataan jika nanti kita sakit atau bahkan meninggal akibat pola hidup yang tak tepat? Aku pun tidak ingin pasangan dan keluargaku harus bersedih sambil menjagaku terbaring di rumah sakit, oleh karena kebodohanku sendiri.



Photo by Fil Mazzarino on Unsplash


Di bulan Februari ini, bagi kita yang ingin berbagi cinta, ingatlah juga untuk belajar mencintai diri kita dengan tepat. Milikilah gaya hidup yang sehat sebagai bentuk cinta kepada diri kita serta cinta kepada orang-orang terdekat kita.

*Bisikkan pada dirimu sendiri:

“Hai … (namamu) aku mencintaimu dan aku akan menjagamu, seperti aku juga mencintai orang-orang lain di sekitarku.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE