Sebelum Melakukan Tindakan Nyata, Inilah 3 Hal Sederhana yang Harus Dilakukan oleh Pemuda GKI

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 29 Mei 2017
Pemuda GKI memiliki keresahan terhadap kondisi bangsa Indonesia dalam berbagai bidang, serta bersedia melakukan karya nyata untuk membangun negeri ini dengan penuh semangat.

Kalimat ini adalah salah satu tujuan Temu Raya Pemuda GKI 2017 diadakan. Untuk membawa perubahan dan tindakan nyata kita bisa melakukan 2 cara, yaitu menjadi pemegang kekuasaan atau melakukan tindakan nyata di lingkungan sekitar kita. Yang dimaksud dengan menjadi pemegang kekuasaan adalah menjadi anggota DPR, pejabat publik, atau bergabung dengan partai politik. Contoh nyata yang bisa kita lihat adalah Ahok. Dengan jabatannya sebagai gubernur, dia bisa mewujudnyatakan berbagai program yang membantu banyak orang.

Hal yang paling realistis dalam jangka pendek untuk kita lakukan adalah melakukan tindakan nyata di lingkungan sekitar kita. Untuk menjawab tindakan apa yang bisa dilakukan kita memerlukan 3 hal sederhana:

1. Temukan panggilan

Menemukan panggilan adalah langkah awal kita sebelum kita bertindak. Kita perlu mengetahui Apa hobi, minat dan bakat kita. Kira-kira apa yang menjadi nilai lebih dari diri kita. Kita juga harus mencari tahu apa yang bisa membuat kita rela bangun lebih pagi dan tidur lebih malam untuk melakukannya dan membuat kita melupakan waktu ketika melakukannya. Yang paling terpenting jangan lupa untuk berdoa meminta pimpinan Tuhan.

Saya mempunyai seorang teman dari Brazil, ia memiliki gelar Master untuk bidang peternakan. Tahun ini ia membuka sekolah pertanian dan peternakan di pulau Nias. Ia memanfaatkan pengetahuan dan keahliannya untuk membantu orang-orang yang sama sekali ia tidak kenal, orang-orang yang berjarak puluhan ribu kilometer dari tempat ia tinggal.

2. Peduli

Kita harus melihat lebih jauh dan mulai memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Mungkin saja pemulung yang tadi lihat setiap hari, belum makan sejak 2 hari yang lalu. Atau jangan-jangan pengamen yang tidak bisa bernyanyi memiliki 2 orang tua dan 3 orang adik yang harus ia beri makan. Sering kita juga melihat seorang kakek tua yang mengumpulkan 10 kg botol plastik dan berjalan jauh ke tempat penampungan, kita juga tidak tahu pasti bahwa jerih payahnya hanya menghasilkan 30 ribu rupiah. Yang paling terpenting apakah kita tahu bahwa orang-orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa melakukan yang mereka lakukan. Bukan karena malas, mereka sama sekali tidak bisa melakukan hal yang lain.

Beberapa di antara mereka tidak pernah merasakan pendidikan di sekolah. Beberapa dari mereka tidak pernah merasakan kasih dari keluarga mereka. Beberapa dari mereka tidak punya siapa siapa lagi, mereka hanya sendiri. Beberapa dari mereka tidak memiliki akses untuk mendapat pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, bahkan sedikit perhatian dari sesama manusia pun tidak mereka dapatkan.

Bukankah Tuhan Yesus berkata "kamu adalah garam dan terang dunia". Kita adalah garam dan terang dunia! Bukan garam dan terang untuk gereja saja.

Ia juga berkata dalam Markus 25 : 34-40 bahwa ketika kita memberi makan orang lapar, memberi minuman kepada orang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada orang telanjang, mengunjungi orang di dalam penjara, segala sesuatu yang kita lakukan untuk salah seorang saudara kita yang paling hina, kita telah melakukannya untuk Tuhan.

Apakah kita sudah membuka mata kepada lingkungan di sekitar kita?

3. Bertindak

Setelah kita mengetahui apa panggilan kita dan peduli, maka kita bisa mengetahui apa yang bisa kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Sebagai mahasiswa, kita bisa mengajari anak anak jalanan. Sebagai pemusik di gereja, kita bisa mengajari pengamen di jalanan. Sebagai orang muda kita bisa mengajak teman teman kita untuk memberi makan orang orang di jalanan. Dan hal-hal lainnya yang bisa terpikirkan oleh kita.

Terkadang kita merasa mungkin lain kali, sekarang saya belum siap, saya masih sibuk dengan tugas tugas kuliah, saya sibuk dengan pekerjaan, saya masih ingin fokus dengan karir hingga dengan alasan pamungkas saya tidak tahu apa apa untuk membantu orang dan berbagai alasan lainnya.

Ingatkah kita mengenai ketika Yesus memberi makan 5000 orang?

Ia memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan dari seorang anak kecil. Coba kita bayangkan kita adalah anak kecil tersebut. Di tengah ribuan orang yang kelelahan dan kelaparan, seorang murid Yesus datang menghampiri kita dan berkata “Nak, kami butuh roti dan ikan itu untuk memberi makan kita semua”. Apa yang akan kita pikirkan? “Yang benar saja? 5 roti untuk 5000 orang?”. Kita pasti akan merasa ragu dan merasa apa yang kita punya tidak akan bisa mencukupi kebutuhan orang orang ini. Tapi apa yang terjadi? Yesus mengucap syukur dan memberi makan 5000 orang itu, bahkan masih tersisa 12 bakul (Yoh 6:1-16)

Bisakah kita seperti anak kecil ini? Kita dapat berkata “Ya Tuhan ini segala sesuatu yang aku miliki, pakailah sesuai dengan kehendakMu”. Bisakah kita seperti Yesus? Mengucap syukur atas segala hal yang kita punya, banyak maupun sedikit, karena kita tahu bahwa Tuhan akan cukupkan. Kita mungkin kecil dan tidak mempunyai apa apa, tetapi ketika kita mengucap syukur dan menyerahkan kepada Tuhan, maka Ia akan menunjukan keajaiban demi keajaiban, mujizat demi mujizat, ketika kita menyerahkan diri untuk dipakaiNya.

Kenalilah diri sendiri, peduli kepada lingkungan sekitar, dan mulai lakukan tindakan nyata.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Mat 5:16

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE