Sebelum Memutuskan Antara Dendam dan Pengampunan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 20 November 2018
Dalam perjalanannya, kita menghadapi godaan yang mengajak kita terus bermain-main di antara “balas dendam” dan “memaafkan”.

Bulan lalu, aku berbagi cerita mengenai patah hati ketika kita ditinggal oleh sahabat atau bahkan orang yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita melalui tulisan ini

. Di situ aku membagi bagaimana kita dapat selalu percaya bahwa Allah turut bersama dengan orang-orang yang patah hati, dan kita tahu Allah sendiri yang akan menyembuhkan. Namun, kenyataannya ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Bukankah seringkali demikian?

Ketika kita mengingat peristiwa yang menyakitkan, kita seakan-akan sedang mengingat sebuah luka yang ada di dalam hati kita. Ketika memori itu hinggap dalam imajinasi kita, seakan-akan memori itu punya kekuatan sekali lagi untuk menyiksa sehingga hati yang perlahan sembuh seakan-akan dikorek lagi.

Sakit hati merupakan sebuah hal yang sangat kompleks. Apa dan bagaimana rasanya akan menjadi sangat personal bagi masing-masing orang. Sialnya, ia terkadang menuntut pembalasan. Yaps! Balas dendam!



Balas Dendam, Sebuah Solusi?

Ketika hati kita disakiti oleh orang, terlebih akibat ditinggal orang terkasih, keinginan membalas dendam menjadi kuat. Emosi kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu, dan nampaknya kedua hal ini menjadi semangat yang justru destruktif! Kita diliputi oleh semangat balas dendam, dengan harapan bahwa luka kita akan sembuh atau setidaknya setimpal jika orang yang menyakiti kita juga merasakan hal yang serupa. Kita berputar-putar pada pikiran: “Pokoknya dia harus merasakan hal yang sama! Bahkan harus lebih sakit!” Tak jarang kita mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membalas dendam. Mulai dari hal yang “terlihat positif” hingga hal yang negatif.

Misalnya, kita ngotot berjuang agar kita dapat melebihi seseorang dan dengan perasaan superioritas yang terselubung itu kita berharap mendapat kepuasan. Kita kemudian berusaha keras (mungkin dalam studi, pekerjaan, atau dalam hal apapun) untuk melampauinya, agar kita dapat “menindas” orang-orang yang telah menyakiti kita.

Kita tidak bisa mengingkari bahwa pembalasan dendam itu nikmat dan membuat kita puas. Namun, apakah kepuasan itu dapat menyembuhkan luka batin kita? Atau jangan-jangan, justru pembalasan dendam hanyalah sebuah obat bius, di mana kita direkayasa untuk tidak merasa sakit sementara? Setelah efek itu hilang, kita kembali merasakan sakit, bahkan lebih sakit daripada sebelumnya.

Kita berekspektasi bahwa balas dendam akan membawa kita kepada kebahagiaan. Tidak apa-apa. Itu manusiawi. Silakan berekspektasi. Namun, kita juga harus mengerti, bahwa kekecewaan sering menjadi kawan sebangku dari ekspektasi. Tentu, jika tidak didasari motivasi atau sikap hati yang benar.



Bermain di antara Ruang Tunggu

Seperti yang sudah aku katakan tadi, sakit hati merupakan hal yang sangat kompleks! Kita sering bermain dan berputar-putar di antara ruang tunggu pembalasan dendam. Kita tahu bahwa balas dendam bukan merupakan cara yang tepat untuk menyembuhkan kita dari sakit hati. Bahkan, Alkitab mengatakan kita harus mengampuni musuh kita beserta orang-orang yang telah menyakiti hati kita. Pertanyaannya, apakah hati kita siap untuk berpindah ruang? Apakah hati kita siap pindah dari “ruang tunggu pembalasan dendam” menuju “ruang tunggu pengampunan”?

Sakit hati dan pengampunan merupakan dua hal yang sama-sama rumit. Sebagai orang Kristen, kita diminta untuk Tuhan agar mengasihi musuh kita. Permasalahannya adalah, semudah itukah mengampuni? Ketika kita merasakan sakit hati, sering kita saat pergi ke gereja, kita mempunyai tekad untuk mengampuni. Bahkan tekad itu terasa bulat bahwa ia benar-benar ingin berdamai.

Menariknya, setelah keluar dari gereja, ketika kita melihat snapgram mantan dengan selingkuhannya (yang menjadi pacar barunya), atau mungkin melihat langsung sahabat kita yang terlihat lebih enjoy dengan orang lain, membuat tekad kita runtuh dalam sekejap dan hati kita menjadi panas. Kita kembali diliputi oleh semangat balas dendam yang membara. Inilah kompleksitasnya! Kita dengan mudah dapat berpindah-pindah dari semangat pengampunan ke semangat balas dendam.


Pengampunan adalah Perjalanan

Aku jadi teringat kisah Yusuf di kitab Kejadian. Bagiku, ia adalah seorang yang “penuh drama”, yang bahkan melebihi sinetron dan cerita FTV. Aku mengingat ketika ia dibenci oleh 10 saudaranya, lalu ia dijual, menjadi seorang yang tertuduh, menjadi seorang tahanan, hingga menjadi penguasa Mesir. Namun, hal yang menarik baru terjadi berpuluh-puluh tahun kemudian, ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk membeli gandum.

Dalam teks yang panjang itu, kita melihat bagaimana Yusuf bergelut di antara “balas dendam” dan “pengampunan”. Ia terlihat seakan-akan “mempermainkan” saudara-saudaranya, hingga pada akhirnya Yusuf dimampukan untuk membuka hatinya, dan terungkaplah di titik itu bahwa ia adalah seorang Yusuf yang sama ketika dibuang oleh saudara-saudaranya.

Pengampunan adalah sebuah perjalanan. Pengampunan tidak serta-merta terjadi begitu saja. Pengampunan merupakan garis akhir, dan proses menuju ke sana merupakan perpaduan gerak yang dinamis dan juga statis. Dalam perjalanannya, kita menghadapi godaan yang mengajak kita terus bermain-main di antara “balas dendam” dan “memaafkan”.

Di saat yang sama kita harus benar-benar mengakui, bahwa kita adalah seorang yang rapuh. Kita perlu bergumul terus dengan Tuhan dan diri sendiri, untuk mencapai garis pengampunan hingga mengetahui saat yang tepat untuk kembali melangkah di rute yang baru.

Maka dari itu, selamat berjalan dalam jalur pengampunan. Mungkin kita belum sampai di sana, namun yang terpenting kita sedang mengarah ke sana. Selamat berpetualang, selamat menunggu, selamat mengampuni!




Baca juga

Memberi Pengampunan Menyembuhkan Luka

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE