Sebuah CSR Mendadak di Gang Preman

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 29 Mei 2017
Jangan tanya perasaan kami saat itu. Hanya ada rasa gembira. Perasaan yang lahir karena kami cecunguk bocah (yang sering merasa tidak berguna) diijinkan Tuhan membagikan ilmu kepada mereka walau hanya satu-dua jam. Diperbolehkan berbagi di sebuah tempat yang bahkan belum pernah ada di imajinasi kami. Dan pastinya berkesan karena kami dapat melayani di bidang yang jarang kami sentuh sehari-hari.

CSR Last Second. Begitulah aku menyebut kegiatan yang tim IGNITE STORY lakukan Sabtu sore (13 Mei 2017) yang lalu.

Hari itu, di saat tim IGNITE LIVE, IGNITE CREATIVE dan peserta TRP GKI yang lain melakukan Christian Social Responsibility (CSR) ke tempat yang telah ditentukan oleh panitia, kami tim IGNITE STORY disuguhkan kegiatan yang sepenuhnya di luar rencana dan cocok pula untuk berlabelkan “CSR”. Sesuai agenda, di hari itu, tim IGNITE STORY tidak ada jadwal meliput siapapun, maka kami gunakan waktu kosong tersebut untuk mengunjungi tempat pelayanan Mas Agus Tato di Yayasan Hati Bagi Bangsa. Bukan untuk menghindar dari rangkaian acara TRP, tapi justru karena Mas Agus Tato lah yang mengajak kami berkunjung seusai sesi wawancara sehari sebelumnya.

Tidak cukup sulit untuk menemukan yayasan tempat Mas Agus Tato melayani anak-anak jalanan. Berbekal peta elektronik dan jasa angkutan umum online, kami sampai juga di tempat tersebut. Namun ada saja skenario yang Tuhan selipkan untuk kisah ini. Kali ini berupa kejutan yang menyambut kami. Saat mobil yang mengantar kami berlaju pelan untuk memastikan titik tujuan kami, dua orang penduduk sana menggebrak sebuah mobil di pinggir jalan. Dengan nada marah dua laki-laki berperingai kasar mengusir bapak driver dan berharap mobil itu segera enyah dari ruas jalan mereka.

“Harap maklum ya karena ini di kawasan preman,” begitu ucap driver taksi dengan kalem dan memecah suasana. “Wow.. Seriously?”. Masing-masing dari kami mengeluarkan kesannya sendiri setelah menyadari bahwa kami sedang ada di sebuah kawasan preman. Setelah membayar ongkos yang seharusnya, kami turun dari kendaraan dan disambut oleh tatapan penuh tanda tanya dan mengandung niat introgasi dari penduduk sekitar.


Photo by: Argha

Bagaimanapun kami lega, melihat sosok mas Agus Tato yang langsung tersenyum dan mempersilakan kami masuk. Bangunan berkavling ukuran 2 meter kali 4 meter dan berdindingkan warna pink itu menjadi saksi seharihari Mas Agus Tato melayani. Saat melihat sejenak mas Agus mengajar, kami menyaksikan tawa renyah dari anak-anak menyambut kedatangan kami berlima (aku, Adiss, Sandy, Bon, dan Ricky) di tempat itu. Kami duduk dan mengira akan fokus merekam peristiwa pelayanan mas Agus untuk dijadikan tulisan. Siapa sangka, apa yang terpikir di benak kami semuanya buyar. Tiba-tiba Mas Agus Tato menyerahkan ruang kelas dalam kendali kami sepenuhnya. “Kakak-kakak ini akan mengajar kalian ya” begitu kalimat penyerahan wewenang yang tergolong sepihak dilakukan oleh mas Agus kepada bocah-bocah berkaos hitam yang datang tanpa banyak ekspektasi (dan persiapan). Sontak kami terkaget. Tidak sepersekian detikpun kami berpikir untuk mengajar saat itu. Itulah mengapa aku menyebutnya CSR Last Second. Bagi kami, Ini merupakan kejutan yang sepenuhnya kejutan. Selain Adiss yang memang berprofesi sebagai guru, kami berempat yang lain seketika masuk ke arena mendebarkan yang disebut: mengajar.


Photo by: Argha

Dengan sedikit jiwa otoriternya, Adiss sigap membagi kami berdasarkan kumpulan kelas. Ricky kedapatan tugas mengajar anak kelas 1, Sandy berhadapan dengan anak kelas 2, Bon bertugas di kelas 6, dan Adiss sendiri mengajar kelas 3. Entah apa yang ada di benak Adiss dan yang menjadi dasar pembagian tersebut, kami langsung setuju tanpa banyak tanda tanya. Aku sendiri tidak kebagian tugas mengajar, namun tugasku tak kalah menyenangkan, yaitu mendokumentasikan bagaimana teman-temanku mengajar anak-anak. Di ruang kecil, dengan kemendadakan, dan segala keterbatasan. Cukup jelas raut canggung dari wajah mereka, namun itu hanya bertahan sekitar 15 menit.

Kecanggungan mereka hanya bersifat sementara saja. Mungkin hanya sekitar 15 menit di awal. Setelah itu mereka terlihat sangat menikmati peran dadakan tersebut hingga semua akhirnya tenggelam di dalam gelak tawa dan keceriaan.


Photo by: Argha


Photo by: Argha

Di sela durasi kami mengajar, terlihat mas Agus duduk di kursi kayu panjang di depan. Tak pernah berdiam atau sibuk dengan gawai seperti orang kebanyakan. Justru tak henti satu dua penduduk sekitar singgah dan duduk bersama dan kami rasa disitulah pelayanan dijalankan. Misalkan ketika seseorang datang dan meminta tolong mas Agus menguruskan berkas-berkas tertentu. Entah untuk kesehatan atau apa, tapi disitulah kami belajar rupa pelayanan memang dapat begitu beragam. As simple as helping hand sometimes.

Jangan tanya perasaan kami saat itu. Hanya ada rasa gembira. Perasaan yang lahir karena kami -cecunguk bocah (yang sering merasa tidak berguna)- diijinkan Tuhan membagikan ilmu kepada mereka walau hanya satudua jam. Diperbolehkan berbagi di sebuah tempat yang bahkan belum pernah ada di imajinasi kami. Dan pastinya berkesan karena kami dapat melayani di bidang yang jarang kami sentuh sehari-hari. Bagiku sendiri, ini akan menjadi sebuah pengalaman tidak terlupakan. Rangkai skenario yang asyik walau mendebarkan.

Sore itu, di CSR Last Second, di sepetak berdinding warna pink, kami sejatinya sedang berlatih menjawab sentilan yang Mas Agus titipkan:

“kalau sekedar berkata ALLAH ITU BAIK, burung beo pun bisa. Yang jadi pertanyaan adalah sudahkah kita menghadirkan Allah -yang baik itu- bagi sesama?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE