Sebuah Kabar Baik bagi Persahabatan yang Tengah Terbentur

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Oktober 2018
Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.

Kutipan di atas merupakan sebuah kutipan yang cukup populer dari Tan Malaka. Kutipan tersebut merupakan sabda perjuangan yang begitu menggema. Tan Malaka memahami benturan-benturan yang dihadapinya sebagai penderitaan dalam perjuangan mempertahankan sebuah idealisme di tanah Indonesia. Benturan-benturan yang dialami Tan Malaka adalah benturan-benturan yang akhirnya membentuk karakter kepahlawanannya dan membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

Tan Malaka melakukan penegasan terhadap kata ‘terbentur’ dengan mengatakannya sebanyak tiga kali. Hal ini dapat diartikan bahwa kita memang benar-benar harus terbentur sebelum berbentuk. Kita harus benar-benar menderita sebelum mendapatkan hal baik. Seperti Tan Malaka, kita pun sebenarnya mengalami berbagai benturan dalam menjalani hidup. Benturan tersebut menjelma ke dalam berbagai masalah setiap harinya. Sadar atau tidak sadar, benturan itu menghajar kita berkali-kali.

Sebagai manusia, kita terlibat dalam banyak relasi di hidup kita. Salah satu relasi tersebut adalah relasi persahabatan. Relasi ini tentu saja tidak lepas dari benturan-benturan di dalamnya. Lagi-lagi, sadar atau tidak sadar, benturan itu menghajar kita berkali-kali.



Photo by Milan Popovic on Unsplash


Benturan Pertama: Diri yang Egois
Banyak dari kita yang memahami persahabatan dengan sebuah ungkapan “take and give”. Sesungguhnya ungkapan itu bisa jadi membentuk diri yang egois karena memberikan pemahaman bahwa kita hanya akan memberikan sesuatu kepada sahabat kita setelah mendapatkan sesuatu darinya. Persahabatan yang berpijak pada ungkapan ini akan mengakibatkan benturan di saat salah seorang tidak bisa memberikan dirinya di saat yang lain membutuhkan hanya karena merasa kebutuhan diri sendiri lebih penting daripada yang lain. Menjadi enggan menolong karena merasa belum pernah mendapat apa-apa dari yang lain. Sulit mengampuni karena merasa kebanggaan diri dilukai. Kasih menjadi sulit sekali mengalir.

Benturan yang pertama akan kita hadapi dengan mulus jika kita mampu bertolak dari ungkapan “take and give” menjadi ungkapan yang Tuhan ajarkan, yaitu “give and give”. Memberi dan terus memberi bahkan memberi hidup kita bagi sahabat kita. Memberi hidup artinya memberikan diri kita sepenuh hati. Tuhan mengasihi kita tanpa egois dan tanpa syarat memberikan hidup dan nyawa-Nya.

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. – 1 Yohanes 3:16



Photo by Evan Kirby on Unsplash


Benturan Kedua: Lidah tidak Bertulang
Ungkapan di atas merupakan ungkapan klasik yang relevan untuk menunjukkan kecenderungan kata-kata mengalir dan menggeliat tanpa hikmat, semaunya sendiri, jika nurani tidak membatasi. Seringkali persahabatan hancur hanya karena kita tidak sengaja memberikan komentar buruk terhadap bentuk fisik sahabat kita, seperti badannya, wajahnya, warna bajunya, bahkan wangi parfumnya. Kita juga seringkali merusak persahabatan yang sudah kita bangun hanya karena respons yang tidak membangun ketika sahabat kita sedang berputus asa. Kitapun seringkali menahan lidah kita untuk memberikan pujian saat sahabat kita berhasil mencapai sesuatu.

Benturan kedua tidak akan bisa kita hadapi jika kita mengaminkan ungkapan tersebut. Daripada berfokus pada kelemahan lidah kita, lebih baik mengusahakan diri terus menerus memohon hikmat dari Tuhan. Salah satunya dengan berkata-kata dengan penuh kasih. Kata-kata kasih bukan berarti kata-kata yang selalu lembut, indah, dan enak didengar, melainkan kata-kata yang benar, menolong, dan membangun.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” - Efesus 4:29



Photo by Ben White on Unsplash


Benturan Ketiga: Keinginan untuk Menjadi Super
Hampir semua dari manusia memiliki keinginan untuk menjadi yang terbaik, terbesar, dan teristimewa. Keinginan menjadi istimewa dan merasa diri lebih besar dibanding yang lain. Menjadi super di antara yang lainnya. Sesungguhnya hal-hal tersebut menghambat kita dalam mengasihi. Hal tersebut membenturkan diri kita dengan diri kita sendiri dan diri kita ke banyak pihak. Pengejaran untuk menjadi yang terbesar akan menghambat kita mengasihi sahabat kita dengan tulus. Persahabatan akan hancur apabila kita tidak bisa meninggalkan keinginan diri untuk menjadi yang ‘paling besar’ dan ‘paling benar’ di antara yang lainnya. Persahabatan akan menjadi hubungan yang tidak saling melayani saat kita merasa sedang berada di kelas yang lebih tinggi dibanding yang lainnya.

Padahal yang Tuhan ajarkan kepada murid-muridNya dalam persekutuan persahabatan mereka adalah untuk Diakonos, yakni menjadi pelayan dan Dulos, yakni menjadi Hamba. Mengambil posisi serendah-rendahnya sebagai hamba dan bukanlah menjadi yang terbesar. Siap meminum cawan dan mengambil baptisan yang sama dengan-Nya, yakni mengecap penderitaan dan ditenggelamkan dalam kesusahan serta kematian terhadap diri sendiri, seperti yang diajarkanNya kepada Yohanes dan Yakobus di Markus 10:35-45.

“… Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”



Photo by rawpixel on Unsplash


Terbentuk Setelah Terbentur
Benturan-benturan itu sangat mungkin kita alami di dalam hubungan persahabatan kita. Hari ini, jiwa kita sesungguhnya sedang lebam karena banyaknya benturan. Begitupun jiwa sahabat kita bisa jadi penuh luka. Terkadang benturan itu membuat kita ingin mengakhiri sebuah relasi persahabatan kita, tanpa mau tahu bahwa kita sudah dekat dengan sebuah pembentukan. Jika benturan-benturan itu menghadapkan kita pada kehancuran relasi, mengapa Tuhan mengizinkannya ada? Ini akan menjadi kabar baik untukmu, benturan-benturan itu diizinkan Tuhan untuk terjadi dalam hidup kita untuk membentuk karakter diri kita. Membentuk kita menjadi pribadi yang melayani pribadi lainnya.

Jika saat ini persahabatan yang kita miliki sedang dalam masa benturan, selamat berjuang, Tuhan sedang membentuk kita menjadi bentuk terindah: sahabat sejati bagi manusia lainnya, seperti yang Dia teladankan lebih dahulu. Selamat terbentur dan memperjuangkannya bersama Allah dan menikmati kabar baik di balik benturan!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE