Sebuah Lamunan Eksistensial: Apa sih Arti Pulang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 08 Juni 2018
Pada akhirnya rumah bukan soal dimana engkau tinggal, bukan tempat, bukan gedung. Tetapi pulang adalah soal memiliki dan menggenggam kenangan

Suatu kali saat masih berstatus mahasiswa kurus kere dan putus cinta, aku pulang ke rumahku di Malang. Apa yang biasa dilakukan seorang mahasiswa idealis dungu selama di rumah? Tentu menu nya tidak jauh-jauh dari ini: Tidur lebih banyak daripada biasanya, membaca, nonton film, ngobrol, menikmati beragam kemewahan yang jarang didapatkan di tengah kesibukan. Di sebuah malam yang entah purnama atau tidak, agak bosan mengerjakan riset yang mau aku tulis dalam bentuk paper akademik, kemudian glesat-glesot nggak jelas, tiba-tiba ruang simulakrum merayap hadir dalam kecepatan cahaya dan bertanya: apa sih arti pulang?

***

Aku pernah diberi kisah menarik. Waktu aku kecil keluarga kami tak punya rumah. Dan aku, lahir sebagai anak bungsu dari 10 orang bersaudara, dilahirkan dengan kondisi apa adanya, bahkan hampir tiada apa-apa. Rumah dengan bilik bambu dan beralaskan tanah tanpa semen. Bahkan diceritakan aku dilahirkan tanpa bantuan dukun beranak! Aku lahir mendekati tengah malam di hari Sabtu Legi, kata orang Jawa neptu (angka hari lahirku) itu dihitung besar: 15, maka kata Bapakku, dulu ketika beliau masih hidup, aku adalah anak dengan kemujuran yang paling tinggi.

Sebelum keluargaku punya rumah sendiri, maka kami harus kontrak. Kata kakak-kakakku, keluargaku waktu itu sangat sering nunggak uang kontrakan. Bapakku cuma satpam dan Emakku tukang cuci. Maka, dengan sekian anak yang harus dihidupi, memang menjadi sebuah perjuangan yang penuh tetes keringat dan banting tulang dalam arti yang paling harafiah. Ada cerita bahwa genteng rumah kontrakan kami diambili karena kami nunggak uang kontrakan berbulan-bulan. Atau gosip-gosip tentang miskinnya keluarga kami dan utang yang juga banyak. Situasi yang pasti sulit pada waktu itu. Konon aku ini mau diberikan ke keluarga lain, gara-gara anaknya Bapak dan Emakku sudah terlalu banyak.

Bapakku dulu anak Haji yang kecewa dengan bapaknya lalu lari dari rumahnya (itulah yang membuat aku jarang punya cerita tentang kakek-nenek, aku tak kenal!). Beliau bertemu di Jembatan Merah Surabaya dengan Emakku yang berusia 16 tahun (beberapa waktu yang lalu aku menemukan akta nikah mereka yang sangat kuno bin ajaib). Emakku sendiri berasal dari keluarga yang biasa-biasa, cenderung miskin, yang tinggal di daerah kumuh Surabaya. Tak kutahu keberadaan keluarga Emakku. Kami tak berhubungan sama sekali seumur aku hidup, kuduga kedua orangtuaku punya kepahitan yang amat besar kepada keluarga asal mereka.

Pada usiaku yang keenam perbaikan ekonomi kami mulai terlihat. Kami pindah ke lokasi Klayatan. Daerah ini dulunya adalah daerah pinggiran di kota Malang yang masih sangat murah pada kisaran tahun 1996 (tahun itu mall termegah yang pernah ada di kota ini adalah Ramayana dan Sarinah). Dengan bantuan kakak-kakakku yang sudah agak mapan, maka kami membangun rumah. Aku yang masih kecil turut membantu membangun rumah itu dengan angkat batu-bata. Sembari rumah kami dibangun pelan-pelan, kami kontrak satu tahun di dekatnya.

Rumah itu jadi dan layak ditinggali sekitaran tahun 1997 atau 1998. Aku ingat karena waktu itu aku menyaksikan kejatuhan Orde Baru dari TV cembung hitam putih yang kami punyai. Juga beberapa tahun sesudahnya ketika Megawati naik tahta. Waktu itu Bapakku senang sekali! Rumah dengan tiga kamar itu menjadi saksi masa pertumbuhanku. Bagaimana aku berantem dengan kakakku nomer 9 karena rebutan memindah channel pesawat televisi. Atau soal menyalakan lampu atau tidak. Atau soal makanan, yang, selalu terbatas. Sekarang kami bisa dengan bangga mengajak keluarga kami makan di restoran yang agak mahal.



Photo by Tina Rataj-Berard on Unsplash


Rumah itu menjadi saksi bagaimana aku bertumbuh sebagai seorang introvert. Aku jarang keluar rumah. Paling banter hanya akan main bola di sore hari atau berlatih di SSB Arema pada minggu pagi sebelum berangkat ke gereja. Dan karena keluargaku adalah satu-satunya yang pergi ke gereja, maka di hari minggu aku juga jarang bermain dengan teman di kampung. Aktif di Karang Taruna pun aku tak pernah. Aku asyik dengan mainanku. Zaman masih SD-SMP, aku suka bermain robot-robotan, atau dengan kreatif menggunakan benda-benda disekelingku seperti payung yang sudah rusak sebagai pistol-pistolan (kami juga jarang dibelikan mainan, mainan yang kami punya biasanya hadiah natal pemberian guru sekolah minggu). Para pahlawan di Televisi seperti Power Ranger, Satria Baja Hitam, adalah teman-temanku. Komik seperti Dragon Ball, lalu Seri Tokoh Dunia adalah sahabat terbaikku. Ah ini dia, yang menyenangkan sebagai anak bungsu, adalah ketika engkau menerima raport dan hasilnya bagus, maka kakak-kakakmu akan bertanya: mau dikado apa? Biasanya mereka mengajakku ke toko buku Gramedia di alun-alun kota. Pada waktu itu, Gramedia adalah tempat yang kukunjungi hanya pada waktu awal tahun pelajaran atau liburan. Tempat yang menurutku sangat menyenangkan. Dulu Gramedia tidak membungkus plastik buku-bukunya sehingga kau bisa membaca buku sampai puas tanpa membeli. Masa-masa berkunjung ke Gramedia adalah pembentukan kosmologi eskatologisku yang mula-mula: bagiku Gramedia adalah surga.


Sesungguhnya kenangan-kenangan positif di masa lalu adalah semacam injeksi motivasi untuk melangkah di masa depan.

Rumah itu sungguh menjadi saksiku ketika aku suatu ketika dimarahi keras oleh Emakku karena mengecewakan mereka. Aku pisuhi* guru bahasa daerahku di SMP dan itu membuatku mendapat nilai moral yang sangat buruk. Tetapi juga menjadi saksi masa-masa manis: ketika aku sukses menjadi jawara catur di Kota Malang lalu bertanding di kejuaran-kejuaran daerah.

Rumah itu juga menjadi saksi ketika aku, pada suatu pertandingan penentuan final, melakukan tindakan bodoh: mengorbankan menteri cuma-cuma dan akhirnya kalah. Sebetulnya aku mau tipu lawanku, tapi aku malah yang melakukan langkah buta. Kata teman-temanku waktu itu satu langkah yang senilai 250 ribu. Itu harga juara kami, karena kami sebagai satu grup gagal jadi juara utama dan hanya sekedar jadi juara dua gara-gara langkahku yang salah itu. Rumah menjadi saksi betapa aku tidak bisa tidur tiga malam meratapi kekalahan itu, bahkan terbangun di tengah malam dan memukul-mukul bantal tidurku. Kesedihan yang level kesedihannya hanya bisa disamai atau dilampaui momen ketika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.

Rumah itu menjadi saksi bisu juga, kisaran Juni 2005, Bapakku yang sudah sakit-sakitan selama setahun lebih, dipanggil oleh Gusti pulang ke haribaan. Emakku melolong dengan tangis yang amat keras pada malam itu. Aku yang waktu itu di rumah sendirian, kebingungan lalu memanggil kakakku yang pertama yang tinggal di RT agak jauh dari rumah kami. Mulai hari itu rumahku sekaligus menjadi saksi masa gelap dalam hidupku. Masa aku kehilangan iman, masa aku mencari identitas, masa aku tak punya harapan dan tujuan.

Waktu SMA aku harus bekerja di toko keluarga milik kakakku. Nilai-nilaiku jeblok. Karier caturku hancur. Bayangkan saja, jam 7 pagi sampai 2 siang aku disekolah, lalu aku harus melanjutkan berdagang di Pasar Induk Gadang sekitar jam 4 sore sampai 10 malam. Sampai rumah aku kelelahan. Pernah dalam satu semester, ada sembilan mata pelajaran, dan tujuh diantaranya aku remidi, hanya dalam pelajaran agama dan penjaskes aku tidak remidi, itu pun nilainya mepet. Menyedihkan. Di hadapan teman se SMA-ku dulu aku hanyalah pria kurus tak berpengharapan, ngantuk ketika kelas, gugup ketika presentasi, nyontek ketika ulangan harian, cuma bisa berpuisi murahan kepada cewek yang aku sukai. Setelah aku kelas tiga, maka aku melepas pekerjaan paruh waktuku di toko, baru prestasiku agak membaik.



Pinterest.com


Rumah itu juga menjadi saksi perubahan hidupku. Kisaran tahun 2007 aku mengikut camp kerohanian di sekolahku. Dan disitu aku rekomitmen ulang percaya pada Kristus, aku tahu saat itu aku lahir baru. Yohanes 3:3 menggema dalam hati yang kosong dan kesepian saat itu. Mulai saat itu aku menggumuli panggilan hidupku sebagai seorang pelayan Tuhan penuh waktu.

Singkat cerita, dengan bimbingan kakakku yang nomor 5 yang juga pelayan penuh waktu, maka aku kuliah di kampus putih di Jl. Bukit Hermon No 1. Karena aku harus menginap di asrama, maka rumah pun hanya Emakku yang tinggal. Akhirnya atas kesepakatan keluarga, rumah beralamat Klayatan II/60 itu dikosongkan dan disewakan sebagai tempat kos-kosan. Emakku diminta tinggal di Klayatan III/43 bersama kakakku yang keempat. Ini adalah rumah kedua yang keluarga kami bangun di daerah ini. Kau bisa lihat pemeliharaan Tuhan dalam hidup keluarga kami bukan?

Sekarang, kalau aku berkata pulang, maka aku pulang ke rumah ini. Rumah yang tidak menjadi saksi atas hidupku karena aku tak pernah tinggal di dalamnya dalam jangka waktu tahunan. Paling hanya masa liburan kuliah atau ketika aku ambil jeda dari pelayanan seperti saat itu.

***

Lalu, kembali ke pertanyaan lamunan eksistensial yang tadi, apa sih arti pulang? Pada akhirnya rumah bukan soal dimana engkau tinggal, bukan tempat, bukan gedung. Tetapi pulang adalah soal memiliki dan menggenggam kenangan. Kenangan bersama orang-orang. Kenangan pada masa kau berusaha menjadi manusia dewasa. Kenangan, bahwa ketika dunia melukaimu, masih ada mereka yang menerimamu, yaitu keluarga, bahkan semengecewakannya keluarga itu.

Pulang adalah mengingat kembali siapa engkau dulu, menyadari bagaimana besar karya-Nya dan betapa megahnya lukisan-Nya dalam hidupmu. Sulaman-Nya terdiri dari benang-benang berwarna: penderitaan, kebahagian, penolakan, penerimaan, kekecewaan, kesukaan, dendam, pengampunan. Betapa bejana yang retak dan rapuh ini dibentuk-Nya pelan-pelan. Kadang bejana ini memberontak, dungu dan ricuh. Tetapi bukankah Ia adalah Allah yang kasih-Nya terus mengejar dan tak peduli pada penolakan kita? Ia yang tak akan menyerah atas hidup kita yang berharga di mata-Nya bahkan terukir di telapak tangan-Nya. Lalu, Ia dengan penyertaan-Nya yang sempurna bersama-sama denganmu dan membentukmu, sampai saat ini, sampai di titik ini.



Photo by Mantas Hesthaven on Unsplash


Matius 9:6 Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak manusia berkuasa mengampuni dosa – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu- : “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”

Menarik sekali, usai Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu, Ia tidak menyuruhnya pergi memberitakan Injil, tetapi menyuruhnya untuk pulang. Mungkin, supaya orang lumpuh itu mengingat-ingat kenangan, seperti aku malam ini, lalu menyadari betapa besarnya karya Allah dalam hidupnya. Calvin pernah berkata hidup adalah theatrum Gloria Dei: panggung kemuliaan Allah. Aku percaya panggung itu kecil terlebih dahulu: rumah kita.


*Omong kotor, makian, cacian.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE