Sebuah Pertandingan yang Harus Kita Perjuangkan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 27 Agustus 2018
“Dalam hidup yang terus bergerak itu, pertandingan sesungguhnya bukanlah tentang ekstrem mana yang makin dominan, ataupun hidup siapa yang terasa lebih ‘penuh’. Pertandingan sesungguhnya adalah tentang diri kita yang lama dan yang saat ini. Apakah kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. “

Hidup manusia ibarat sebuah pendulum yang terus bergerak, dan bermain-main di area dualisme yang terasa paradoks. Salah satunya tentang kepuasan dan rasa ‘penuh’ yang tentu menjadi idaman bagi banyak orang. Kita kemudian disodorkan dua macam ekstrem, beberapa terjebak untuk memilih dengan keras hanya salah satu. Padahal, adalah anugerah untuk terus bergerak dan menjelajahi ruang di antara keduanya.


Ekstrem Pertama: bersyukur dan tetap hanya bersyukur

Kesadaran untuk bersyukur dan menerima hidup se-apa-ada-nya itu adalah filosofi yang secara keseharian sering kita dengar. Saya sendiri, mendapati pemikiran ini begitu mendarat dalam keseharian beberapa orang, salah satunya sejak interaksi dengan pengendara ojek online, yang pernah menitipkan pesan ini “rezeki sudah ada yang atur. Jangan kuatir, bersyukur saja.”

Di dalam pernyataan ini, terkandung ikhtiar sekaligus filosofi arif khususnya budaya Jawa. Pemikiran ini tentu mulia dan memancing perasaan cukup. Bekerja tanpa banyak mengeluh dan menjalani hari dengan perasaan tenang. Membicarakan tentang state of mind semacam ini memancing saya kembali mengingat kutipan dari Paulo Coelho “orang yang sukses adalah orang yang dapat berbaring tidur dengan rasa damai.”



Photo by Jeremy Bishop on Unsplash


Namun sisi dilematis dari ekstrem ini adalah, adanya godaan terlalu berpasrah cenderung mengamputasi keinginan untuk berjuang mengubah kondisi lebih baik. Bagi para motivator, sikap semacam ini bahkan dapat tergolong fatalisme. Tidak boleh dipertahankan, sesegera mungkin harus diubah. Bayangkan dunia tanpa Nelson Mandhela, Malala, Sir Luther King, Kartini, dan banyak tokoh yang menolak jejalan pikiran “aku hanya perlu bersyukur dengan kondisi ini.”


Ekstrem kedua: mengubah dan terus harus mengubah

Di ujung satunya, ekstrem kedua menyuarakan tentang keinginan untuk melakukan pengubahan yang fenomenal dan berarti.

Christan melalui satu tulisannya di website ini pernah membagi bahwa kegelisahan adalah hal yang perlu. Bahwa, rasa terusik adalah indikasi yang baik untuk menjadi energi mengubah sesuatu. Sejujurnya, usai membaca tulisan itu, saya benar-benar sadar bahwa perasaan gelisah haruslah disambut, bukan hanya sebagai hal yang manusiawi namun juga hal yang diperlukan untuk menjadi alat Allah di dunia ini.

Rekan IGNITE lain, Jacko, pernah membagi filosofi Society of Jesus yang mendengungkan semangat ‘magis’, yaitu adanya keinginan untuk melakukan lebih bagi Tuhan dan sesama. Semangat ini juga terejawantahkan dalam kemauan untuk bergerak dan menyambut karya-karya yang jauh dari pasrah. Karya yang melawan. Karya yang menggerakkan. Karya yang mengubahkan.

Semangat medioker adalah gagasan yang dianggap malas dan tidak bertanggung jawab, sebab sama saja dengan menyia-nyiakan potensi dari Pencipta dan tidak mengusahakan sebuah kondisi yang lebih baik bagi sesama atau setidaknya bagi diri sendiri.

Ekstrem inipun tidak absen dari sisi dilematisnya sendiri, bayangkan ketika kita terus memelihara rasa gelisah, maka dapatkah kita jamin ada kondisi damai? Apakah mungkin kita dapat pergi istirahat di malam hari dengan pikiran yang tenang? Dan bagaimana pula mengekspresikan rasa syukur jika demikian?



pexels.com


Perjuangan sesungguhnya

Dua ekstrem ini, lagi-lagi, bukan sebuah pilihan biner yang harus kita putuskan satu untuk seterusnya. Bukan, bukan sedang menganjurkan sikap untuk plin-plan, namun menyadari bahwa hidup ini memang harus terus bergerak. Bersyukur sekaligus memelihara kegelisahan. Bersyukur dengan keinginan untuk mengubah. Bersyukur tanpa berbuta hati atas masalah yang nyata dan panggilan kita untuk berperan serta mengubah.

Dalam hidup yang terus bergerak itu, pertandingan sesungguhnya bukanlah tentang ekstrem mana yang makin dominan, ataupun hidup siapa yang terasa lebih ‘penuh’. Pertandingan sesungguhnya adalah tentang diri kita yang lama dan yang saat ini. Apakah kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Salah satu teman dekat saya pernah berujar bahwa dalam proses hidup sejatinya kita bukan semakin tegas ke ekstrem tertentu tetapi makin serupa Kristus. Itulah perjuangan yang sesungguhnya, untuk menjadikan area-area dalam hidup ini berkembang dan terus berproses.

Kedua, perjuangan untuk membawa dampak. Mari kita menganalogikan dengan dua macam gunung. Gunung aktif dan gunung mati. Kita bisa dan memang harus memilih menjadi yang seperti yang mana.

Gunung mati menggambarkan sebuah hidup yang tidak sepenuhnya dihidupi. Hari-hari kehidupan tak ubahnya pengulangan 24 jam yang sama dan membosankan. Tidak ada yang bergejolak dalam diri. Maka tak heran, ketika ada pendaki singgah, merekapun dapat menganggap enteng. Tak ada magma yang mengancam, tak ada juga dampak kehidupan yang dapat ditawarkan

Sedangkan gunung aktif, sepenuhnya berbeda. Dengan kandungan magma yang terus bergerak, pendaki menjadi lebih berhati-hati, hingga suatu kali dia meletus ada dampak yang dirasakan. Tak selalu semasif seperti ketika Gunung Krakatau meletus, namun pasti ada dampaknya. Bagi lingkungan terdekat, setidaknya. Kalau kita amati, usai sebuah gunung meletus, maka tanah yang dikenai aliran magma akan menjadi tanah yang subur.



pexels.com


Bukankah harus demikian pula hidup seorang manusia? Bukankah adanya hasrat pun kemampuan untuk berdampak itu yang menjadikan hidup seorang manusia istimewa dari makhluk lain?


Kalaupun Kalah, kalahlah dengan kepala tegak

Kalimat ini saya dapatkan dari sebuah surat kabar yang sedang membahas tentang perjuangan mengharukan pebulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, di ajang Asian Games. Tidak perlu diingkari bahwa ia kalah dari pebulutangkis China karena cedera di kakinya. Satu yang menarik adalah, bahwa kekalahannya memancing begitu banyak apresiasi. Kalah, bukan berarti gagal memberi dampak, setidaknya pesan itulah yang secara tersirat hadir.

Dengan contoh itu, agaknya kita dapat sepakat, bahwa bukan dengan hidup yang selalu menang kita membawa dampak. Namun dengan hidup yang terhormat, sebab ada usaha di dalamnya. Sebab ada perjuangan yang nyata. Seumpama prajurit, bukan mereka yang bertubuh mulus dan bertahan elok rupa hingga akhir yang menjadi pemenangnya, sebab prajurit demikian dipertanyakan: sungguhkah ia terjun di medan perang? Penghargaan sesungguhnya layak bagi mereka yang tubuhnya sudah tercabik banyak memar, hingga bekas luka menjadi prasasti yang otentik, bahwa dia sudah berjuang.



Photo by Stijn Swinnen on Unsplash


Munir, tokoh kemanusiaan Indonesia mungkin kalah dengan kematian dan skenario kejam dari mereka yang tak suka perjuangannya. Novel Baswedan, mungkin dikalahkan dengan air keras, oleh mereka yang takut kekejiannya terungkap. Dan Yesus sendiri, Diapun kalah dengan cara yang paling hina: disalib.

Namun, kekalahan mereka adalah bukti sebuah hidup yang terhormat. Sebuah hidup yang tidak diam.

Ketika Yesus mati, Dia mungkin ditundukkan dengan kematian fisik namun siapapun akan sepakat bahwa Dia menang untuk menyatakan kasih dan keadilan. Novel dengan kondisi matanya saat ini, makin bergairah untuk memberantas korupsi. Munir sudah berpulang, namun menyisakan api di banyak orang untuk meneruskan perjuangan.

Dari kekalahan mereka, banyak manusia lain terinspirasi dan memutuskan: “aku juga tidak mau tinggal diam.” Bahkan ketika hanya satu saja orang tergerak karena magma dalam diri kita dan karena hidup yang kita hidupi dengan benar -entah itu anak, adik, orang tua, teman, pasangan, murid, tetangga, atau siapapun- kita sudah bisa berbangga kala pulang ke rumah sesungguhnya dengan bisikan dan senyum kecil “aku sudah memperjuangkan pertandinganku dengan baik.”

Pada saat itulah, kekalahan dan kematian hanyalah sebutan. Dampak sudah tinggal. Dan semoga menetap.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE