Sebuah Surat untuk Teman-temanku yang Bergulat dengan Pemikiran untuk Bunuh Diri

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 6 Agustus 2018
Untuk teman-temanku, siapapun kamu, yang membaca tulisan ini dan bergumul dengan pemikiran dan keinginan untuk mengakhiri hidup dan bunuh diri.

Temanku, hidup tampak berat sekali ya saat ini? Aku bisa merasakan kelelahan dan keputusasaanmu. Pedih dan sakit di dalam hati yang tidak kuat untuk ditanggung lebih lama lagi. Beban yang berat di pundakmu. Kesedihan dan kekosongan yang meliputi hari-harimu. Masa ini memang menantang sekali untuk dijalani ya?

Mungkin tak banyak yang mengerti, atau mau mencoba memahami kondisimu. Apakah kamu merasa sendiri? Apakah kamu merasa hidup tidak ada gunanya lagi? Aku tahu kamu kecewa pada banyak orang atau banyak hal, mungkin bahkan pada dirimu sendiri, karena menjadi seperti ini. Aku mengerti kejatuhan dan kegagalan seringkali tidak mudah untuk dilalui.



Photo by Niklas Hamann on Unsplash


Aku mengerti bahwa jika bisa, kita ingin melarikan diri dari semua ini. Aku mengerti bahwa jika bisa, kita ingin beban hidup ini segera berakhir sampai disini. Aku bisa merasakan bahwa kelelahanmu membuatmu tak sanggup berpikir apapun lagi kecuali keinginan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Hanya saja temanku, jika aku boleh menyampaikan ini padamu, percayalah bahwa bunuh diri bukan jawaban tepat. Bunuh diri hanya painkiller yang sifatnya sementara, yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah kita. Percayalah, bahwa akan ada orang-orang yang kehilangan kita dan berduka, jika kita pergi dengan cara bunuh diri. Percayalah, bahwa ada cara lain yang lebih baik untuk mengatasi ini semua dibandingkan bunuh diri. Kita hanya sedang tidak cukup kuat dan rasional saja untuk menemukan dan memikirkannya saat ini. Temanku, jika kita bertahan, kita akan menemukannya nanti.

Untuk teman-temanku, siapapun kamu, yang bergumul pemikiran dan keinginan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri—temanku, aku berharap kita memiliki kekuatan untuk terus hidup, meski hidup tidak mudah untuk dijalani. Aku berharap kita bisa mencoba bertahan dan memiliki harapan lagi. Aku berharap kita kembali menemukan penghiburan Ilahi. Aku berharap kita tidak menyerah terlalu dini. Aku berharap kita mau mencari bantuan yang kita perlukan untuk bertahan, termasuk mengunjungi tenaga profesional seperti psikolog-psikiater, berbagi cerita kepada konselor atau siapapun yang masih kita percayai.

Aku tahu bahwa harapan tampak kabur dan gelap, pun masa depan tampak kusut dan suram. Aku mengerti susah sekali hanya untuk mencoba bangkit dan bersemangat kembali. Namun, percayalah bahwa ini hanya kondisi sementara. Kondisi ini akan berlalu juga, meski tak sesegera yang kita tuntut di dalam hati. Temanku, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Jika memikirkan masa depan tampak melelahkan sekali, cukup pikirkan bagaimana caranya kita bisa bertahan hari ini. Sehari demi sehari, selangkah demi selangkah, namun pasti. Bagaimana menurutmu?



Photo by Farrel Nobel on Unsplash


Temanku yang kukasihi, meski mungkin aku tidak mengenalmu secara pribadi, aku berharap, mereka yang tidak mengalami mau mencoba lebih memahami. Tentang bebanmu, kesulitanmu, kekecewaanmu, kondisimu, dan perasaan terdalammu. Tentang perjuangan yang sudah kau upayakan selama ini. Tentang isu kesehatan jiwa yang memang perlu ruang diskusi yang lebih sehat dan terbuka di Indonesia, pun di antara kalangan agamis dan spiritualis, tak terkecuali gereja. Bahwa ini bukanlah soal yang disebut-sebut sesepele karena kurang berdoa atau kurang beriman saja. Aku berharap kata-kata mereka yang tidak mengalami dan tidak memahami, tidak menyakitimu terlalu dalam. Aku berharap saat ini kau akan memilih untuk tidak mengacuhkannya dan fokus kepada pemulihanmu saja. Percayalah, bahwa masih banyak orang yang tidak mengalami mau memberi hati untuk peduli, mengirimkan kita doa-doa setiap hari, pun ikut bersuara untuk perihal kesehatan jiwa ini.

Temanku, aku berharap, mereka yang tidak mengalami akan lebih memilih untuk setidaknya berlutut mendukungmu dalam doa-doa yang tulus, daripada sibuk menilai dan menghakimi benar dan salah tanpa mengulurkan tangannya sama sekali padamu. Semoga kasih lebih nyata terwujud di antara kita semua. Semoga kita masih bisa bergumul juga untuk mengasihi mereka yang belum dapat memahami apa yang tengah kita hadapi ini—meski aku tahu, itu tak semudah mengatakannya.

Percayalah, kamu tidak sendiri. Tidak sedikit kita yang masih terus bergumul demi mengalahkan pemikiran dan keinginan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Karena itu, temanku, mari bertahan hidup dan berjuang bersama-sama. Temanku, cahaya terang akan tiba pada saatnya. Tetaplah berjalan dan bertahan. Di ujung lorong gelap yang sedang kita lalui saat ini, kita pasti akan menemukan cahaya itu. Aku berharap kamu mau untuk ikut menantikan saat itu tiba bersama-sama.



Photo by Rachael Crowe on Unsplash


Dengan dukungan yang tulus dan pelukan yang hangat bagimu, siapapun kamu temanku, yang membaca tulisan ini dan bergumul dengan pemikiran-keinginan untuk bunuh diri. Strength unknown God provides to you, to us.



p.s. :

Jika kamu sedang dalam masa krisis dan membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi Tim Konselor Sehat Mental Indonesia dan berbagi cerita melalui akun LINE mereka di @konseling.online. Kamu juga bisa menghubungi Save Yourselves Indonesia di nomor hotline 0813-14988214 (Alif) dan 0812-87877479 (Bibi). Selengkapnya, mengenai dua komunitas ini, kamu bisa melihat informasi selengkapnya di sehatmental.id dan saveyourselves.id.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE