Sekali Lagi Tentang Kasih

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 12 March 2019
Bukan tidak mungkin akan terjalin komunitas kasih di dunia ini ketika setiap orang berinisiatif untuk menyatakan kasihnya seperti yang telah Yesus teladankan bagi kita.

Apa sih kasih itu? Kata “kasih”, “cinta”, atau “love” sangat sering diucapkan dan dibahas oleh banyak orang di berbagai masa. Tak heran terdapat sekian banyak cerita atau lagu yang didedikasikan untuk membicarakan kasih. Lalu mengapa gejala ini terjadi? Apa karena manusia haus akan kasih? Mengapa?

Yang Kristen dan Non-Kristen tentang Kasih

Belum lama ini, seorang kenalan saya menderita kesusahan yang cukup akut. Hanya dari ceritanya saja, saya yakin setiap orang yang mendengarnya pasti akan mengelus dada. Kenalan saya ini – sebut saja Bapak H – baru saja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempat beliau bekerja. Ia memang mendapat pesangon dari perusahaan, tapi sesungguhnya inilah awal dari kisah pilu lain yang akan terjadi.

Memang ia memperoleh pesangon dari perusahaannya, tapi justru inilah awal dari kisah pilunya. Tak lama setelah menerima PHK, Bapak H didiagnosa tingkat kolesterolnya tinggi dan ginjalnya tinggal berfungsi 19 persen saja. Alhasil, seluruh pesangon habis untuk biaya berobat. Di sisi lain, masih ada seorang istri serta dua anak di usia sekolah dasar yang masih harus ia tanggung dan hidupi.



Photo by rawpixel on Unsplash


Oleh karena didesak kondisi, akhirnya mau tak mau sang istrilah yang menjadi tumpuan dan tulang punggung keluarga. Belum lama ini, saya mendapati istrinya sedang mencarikan sekolah yang berbiaya lebih murah bagi anak-anaknya. Perjuangannya mengurus sang suami serta kedua anak seraya bekerja sungguh mengherankan. Entah apa yang mampu membuatnya terus bertahan.

Beberapa kesempatan sebelumnya, saya dapati bahwa kenalan saya ini sebenarnya telah berusaha menemui pimpinan perusahaan tempat ia bekerja dulu untuk mencoba keputusan PHK yang menimpanya. Ia telah memohon untuk dimutasi, bekerja dengan kondisi bersyarat, tapi hasilnya tetap nihil. Dari kabar yang saya dengar, para pimpinan perusahaan itu ternyata orangorang Kristen lho.

Sementara itu, di suatu sekolah, terdapat seorang guru – sebut saja Ibu L – yang mengalami nasib serupa. Masa kerjanya tidak diperpanjang oleh sekolah tempat beliau mengajar. Ketika pemutusan kontrak diberikan, alasan resmi dari pimpinan sekolah untuk tidak memperpanjang masa jabatan beliau ialah karena Ibu L telah selesai menuntaskan kontraknya. Kontrak selama 5 tahun yang selama ini Ibu L jalani merupakan kewajiban untuk mengabdi setelah mendapat beasiswa keguruan dari sekolah tersebut. Alasan yang sebenarnya baru diketahui belakangan ini dari salah seorang rekannya yang menjadi staf di sana, ternyata karena Ibu L sakit-sakitan. Oh ya, sekolah tersebut adalah sekolah Kristen.



Photo by Mohit Tomar on Unsplash


Beranjak pada kisah lain. Beberapa waktu lalu, di Tiongkok hiduplah seorang sopir perusahaan. Ia yang telah mengabdi cukup lama di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Suatu waktu, ia mendapat musibah kecelakaan sehingga tidak lagi bisa bekerja sebagaimana sebelumnya. Tanpa disangka, bos dari perusahaan tersebut melakukan sesuatu yang diluar dugaan banyak orang. Ia tetap membayarkan gaji sang sopir seperti biasa seraya menanggung biaya pengobatan.

Sayang, beberapa tahun kemudian bos tersebut meninggal dunia dan apa yang telah dilakukannya tidak diteruskan penerusnya. Namun kisahnya telah menginspirasi banyak rekan supir itu dan banyak orang lainnya untuk tetap menolongnya. Ngomong-ngomong, bos tersebut bukan seorang Kristen lho. Namun, ia justru melakukan suatu tindak kepedulian pada sesama seperti ajaran Kristus.

Kasih di keluarga?

Kisah Esau dan Yakub bisa jadi refleksi buat kehidupan kita. Alkitab menceritakan bahwa Yakub lebih dikasihi oleh Rahel karena sifatnya yang introvert dan suka memasak. Sedangkan Esau lebih dikasihi oleh Ishak karena pembawaannya yang extrovert dan suka berburu. Dalam keluarga Ishak, terlihat jelas adanya favoritism yang menjadi akar munculnya masalah. Favoritism membuat Yakub akhirnya tega menipu Esau untuk memperoleh berkat kesulungan dari Ishak, setelah diprovoksi Rahel, sang ibu. Gara-gara persoalan selera makan Ishak itulah maka Esau dan Yakub berkonflik dalam waktu lama bahkan sampai pada keturunan mereka masing-masing. Apa artinya?



Photo by Guillaume de Germain on Unsplash


Tidak dipungkiri bahwa apa yang terjadi di keluarga Ishak juga terjadi di banyak keluarga saat ini. Orang tua pun masih bisa membeda-bedakan kasih yang diberikan bagi anak-anak mereka sendiri—bergantung apa yang dapat menyenangkan diri mereka. Pilih kasih atau favoritism ini banyak menjadi masalah bagi umbuh kembang anak-anak di kemudian hari, bahkan tak jarang melahirkan persoalan-persoalan lainnya.

Ironisnya, sistem pilih kasih dipilih menjadi model di dunia pendidikan dan dunia karier yang berujung pada ketidakpedulian dan ketidakadilan. Secara tak sadar, sistem ini digawangi oleh orang-orang yang punya pengalaman diskriminasi kasih. Para korban favoritism cendrung mengulangi pengalaman hidup mereka di konteks yang berbeda. Orang akhirnya cendrung mengasihi yang lain hanya berdasarkan preferensi mereka masing-masing.

Meminta Belas Kasihan Tuhan untuk Mengasihi

Kita bisa belajar apa itu kasih yang sejati dari Alkitab. Dari sana kita tahu bahwa kasih adalah kepedulian yang menutut pengorbanan. Kita tahu bahwa kasih adalah cara kita memperlakukan sesama seperti kita ingin diperlakukan oelah manusia lainnya. Artinya, ada tindakan aktif untuk mengasihi, bukan sekadar menunggu. Sementara pengorbanan, adalah konsekusensi dari keaktifan itu.

Bukan tidak mungkin akan terjalin komunitas kasih di dunia ini ketika setiap orang berinisiatif untuk menyatakan kasihnya seperti yang telah Yesus teladankan bagi kita. Mengasihi adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Oleh sebab itu, mengasihi sesama bukan sebatas tawaran yang didasarkan pada keuntungan pribadi atau favoritism.

Lalu apa yang harus kita lakukan jika orang-orang percaya ini juga merupakan manusia biasa yang terbatas dan berdosa? Mintalah belas kasihan pada Allah, Sang Sumber Kasih, agar kita dimampukan untuk saling mengasihi tanpa terkecuali; agar komunitas kasih itu dapat bertumbuh. Dengan demikian, setiap orang percaya dapat menjadi contoh bagi keluarga, masyarakat, maupun negara. People need the Lord to love others.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE