Sekelumit Pelajaran di Halte Penantian

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 5 Desember 2018
Momen menunggu terwujudnya sesuatu semisal harapan dan mimpi, adalah kesempatan yang terbuka untuk kita maknai ulang

Barangkali, salah satu kenyataan hidup yang paling menyebalkan adalah bahwa menunggu merupakan sesuatu yang mutlak ada di hidup manusia. Bagaimana tidak? Siapapun—suka tidak suka, mau tidak mau—pasti berhadapan atau mengalami rasanya menunggu sesuatu. Kalau bisa diibaratkan nih, analoginya seperti sedang menunggu bus di halte. Babak kehidupan menjadi haltenya, dan kita adalah penumpang bus yang menanti jemputan menuju suatu tempat.

Apakah menunggu itu sendiri sesuatu yang pasif? Sebenarnya sih nggak ya. Cek saja, di KBBI, kata ‘menunggu’ masih tergolong kata kerja. Betapapun membosankannya momen menunggu—karena terkesan monoton dan tidak banyak yang bisa kita perbuat—menunggu tetap merupakan bagian dari keseharian kita. Maka, sah saja bukan jika dikatakan menunggu sebenarnya tidaklah seluar biasa itu? Lantas, di mana masalahnya?



unsplash.com


Menunggu itu Masalah Besar?

Menunggu kerap dipersepsikan sebagai masalah karena kegiatan ini seringkali berlawanan dengan ekspektasi kita. Apa itu ekspektasi kita? Ya, kita ingin sesegera mungkin mendapatkan, memperoleh, atau menyelesaikan sesuatu. Semakin lama kita harus menunggu, kita makin mules, migrain, dan dada jadi sesak. Dengan kata lain, mungkin yang menyebalkan dari menunggu adalah durasinya, apalagi jika kita tak bisa memprediksi akan menunggu seberapa lama.

Menunggu juga sering dikait-kaitkan dengan penderitaan. Kadang-kadang, bukan penderitaan itulah yang jadi masalahnya tapi berapa lama lagi penderitaan tersebut harus dirasakan. Semakin lama menunggu terbebas dari penderitaan, semakin kabur pula sang pengharapan. Menunggu—kalau kelamaan—bukan cuma bisa membuat frustasi, tapi juga berpotensi membutakan mata hati yang membuat kita akhirnya tidak tanggap ketika sesuatu yang kita nanti-nantikan sudah tiba.

Padahal, momen menunggu terwujudnya sesuatu, misalnya harapan dan mimpi, adalah kesempatan yang terbuka untuk kita maknai ulang. Seperti analogi yang saya kemukakan, bukankah saat kita sedang menanti jemputan di halte, kita bisa menjadikan halte tersebut sebagai ruang persahabatan bersama teman dan kerabat yang juga sama-sama menunggu? Atau jika tidak ada siapa-siapa di sekitar kita, bukankah halte tersebut juga bisa kita maksimalkan sebagai ruang kontemplasi yang personal?



unsplash.com


Kisah Seorang Pemuda

Alkisah, delapan belas tahun lalu pernah ada seorang pemuda yang berstatus calon sarjana. Tak banyak lagi yang ia lakukan di tahun akhir kuliahnya, maka sembari menanti peluang kerja yang diharapkan, pemuda tersebut bertemu dan bercakap-cakap dengan berbagai sosok yang juga berada dalam halte penantian mereka masing-masing. Suatu hari, pemuda ini berjumpa dengan seorang kawan yang hendak hengkang dari pekerjaannya untuk berpindah ke tempat lain. Pemuda ini pun mengambil kesempatan kerja itu dan menggantikan kawannya. Win-win solution, mereka berdua akhirnya beroleh tujuan masing-masing. Si pemuda berhasil mendapat pekerjaan sebelum dinyatakan lulus yudisium sedangkan temannya beroleh kesempatan untuk bekerja di tempat baru.

Singkat cerita selang beberapa tahun kemudian, si pemuda mulai merasa tak kerasan di tempat kerjanya. Tanpa bermaksud menjadi orang yang tak tahu bersyukur, si pemuda ini kembali ke halte penantian dan mencari bis lainnya yang mungkin akan membawanya ke destinasi lain sesuai harapan. Tanpa menunggu terlalu lama, si pemuda ini sekali lagi memperoleh jemputan peluang yang diincarnya. Sampai di tujuan baru, ia pikir inilah tempat yang akan menjadi perhentian terakhir yang dicari-cari selama ini.



unsplash.com


Seiring berjalannya waktu, ternyata destinasi tujuan tetap tak seindah rencana kepergian. Si pemuda ini kembali merasa tak kerasan. Berpatokan dengan pengalaman sebelumnya ketika ia dapat hengkang dan beroleh pekerjaan baru dengan cepat, ia berasumsi kali ini pastilah akan semudah yang dulu. Ia pun memantapkan hati untuk pindah ke bus lainnya yang diyakini akan membawanya ke tujuan lain yang lebih bermakna. Entah terdorong idealisme, kenaifan atau bahkan mungkin arogansi, kala itu si pemuda ini tak ambil pusing dengan saran maupun sindiran para sahabat dan keluarga tentang susahnya mendapat pekerjaan. Ia memutuskan untuk sekali lagi menunggu jemputan di halte penantian. Tapi kali ini, di luar ekspektasi, halte tersebut memberinya sekelumit pelajaran baru tentang menunggu. Tiga bulan, enam bulan, hingga akhirnya hampir setahun berlalu, bus kesempatan yang baru tak kunjung datang menghampiri.



unsplash.com


Sang pemuda kali ini gagal paham. Halte kehidupan seolah memberinya tamparan telak. Telah banyak waktu yang terbuang, produktivitas yang mampet, energi terkuras, kantong menipis, plus harga dirinya seolah runtuh. Lengkap nggak karuan paket pelajaran yang pemuda ini dapat dari halte penantian. Namun tepat di titik nadir, sang pemuda seperti memperoleh pencerahan mengenai dirinya dan kehidupannya. Ia menyadari ada yang salah dalam pola pikirnya selama ini yang telah menilai diri terlalu tinggi sehingga menganggap enteng momen-momen dan kesempatan dalam hidupnya.

Uniknya, ketika sang pemuda telah berdamai dengan dirinya sendiri di halte penantian, barulah sebuah bus kesempatan muncul menjemputnya. Ia telah paham, bus satu ini mungkin takkan membawanya ke suatu tempat yang sempurna, tapi si pemuda telah belajar untuk memaknai ulang siapa dirinya dan tujuannya.


Ya, tebakanmu benar! Pemuda yang saya ceritakan itu adalah diri saya sendiri.



unsplash.com


Menunggu = Sepi + Takut ?

Kenyataan hidup yang membawa kita duduk di berbagai ruang tunggu sesungguhnya tidak perlu menenggelamkan kita dalam perasaan resah dan gelisah, rasa sedang membuang-buang waktu, maupun rasa kesepian karena terlalu lama menanti sendirian. Ya, mungkin memang benar kita sedang takut. Kita ketakutan jika tak akan pernah sampai ke tujuan yang diharapkan, dan rasa takut itu tak lantas menghilang meski kita telah bertemu dan bertukar pikiran dengan banyak orang.

Tetapi, barangkali, yang sebenarnya kita perlu di masa-masa menunggu bukan cuma rekan untuk menanti bersama di halte maupun kesegeraan untuk mengakhiri masa penantian tersebut. Mungkin, segala perasaan tidak nyaman yang kita alami adalah wujud dari ketidakmampuan kita mengenal diri secara utuh. Mengapa tidak menjadikan momen menunggu sebagai kesempatan belajar memaknai ulang apa yang sebenarnya kita mau dan butuhkan? Ketika cara pandang kita telah melampaui rasa takut dan kesepian, barulah kita bisa melihat halte penantian sebagai momen pelebaran kapasitas diri yang akan mengangkat kita menjadi pribadi yang lebih baik—semoga.


Menunggu? Siapa takut.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE