Seni Berelasi 101

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 6 Maret 2018
Kasih adalah investasi besar, kita harus belajar menumbuhkannya dengan terampil.

Tidak ada hubungan yang imun dari konflik atau pertengkaran. Bayangkan, dua orang dari keluarga dan nilai yang berbeda, ditambah sisi ego penuh keberdosaan, tidaklah mungkin membuat hubungan yang senantiasa mulus. Seni dalam berhubungan itu sendiri justru terletak kala Tuhan menjadikan konflik sebagai tahap berproses tak henti. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat saya bagi perihal cara saya dan kekasih menjalin relasi kami sejauh ini.

Lesson #1: “Menyepakati hal yang sama.”

Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan komitmen. Rahasia suatu hubungan kadang sesederhana itu. Manusianya yang kadang memperumit sendiri.

Kata Morrie di tulisan Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika tidak sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan. Misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dll) juga banyak hal lain. Kita tidak sedang mencari partner yang sempurna, justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.

Tak tepat memang jika relasi diibaratkan sebagai kontrak. Kata yang lebih pas untuk mewakili adalah komitmen. Bagaimana satu sama lain meminimalisir masalah didasarkan pada komitmen terhadap berbagai nilai yang sama.

 

Q: "Lalu pertanyaannya, nilai apa yang paling penting?"

A: "Nilai tentang berharganya hubungan kalian" -Morrie sang bijak

 

Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki. DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama mau berkomitmen untuk berbenah demi memelihara cinta dibandingkan menyerah.


Photo by Holly Mandarich on Unsplash

Lesson #2: “Penerimaan penuh kasih.”

Ketika saya dan kekasih memulai hubungan, bahkan setelah proses saling mengenal yang tergolong lama, kamipun masih dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa kekaguman bernada "astaga I found my other half" yaitu melihat berbagai perbedaan yang saling melengkapi. Tapi potensi ketidakcocokan juga muncul. Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan untuk bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses.

"Manusia menajamkan manusia"

Ketika dua orang bersama, akan ada masa mereka saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Satu yang penting adalah kesediaan untuk terus mengampuni dan belajar dari kesalahan yang terjadi.

Suatu kali saya berpikir bagaimana jika stok maaf yang berharga akan habis seiring kesalahan. Hingga selama berproses saya akhirnya menyadari, bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. Dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu tidak pernah kehabisan karcis bagi anak-anakNya.


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Lesson #3: “Memahami bahasa kasih.”

Banyak pasangan saling cinta, tapi tak sedikit yang kandas karena gagal membahasakan kasih mereka ATAU memaksakan hanya satu macam bahasa cinta. Sesuai teori populer, ada lima macam bahasa kasih (barang pemberian, waktu berkualitas, tindakan melayani, kata-kata positif, dan sentuhan), dan masing-masing orang biasanya menonjol dalam satu atau dua di antaranya. Hubungan pacaran kami awalnya penuh dengan masalah sebab perbedaan cara mengkomunikasikan romantisme.

Bahasa kasih saya = kata-kata + kado

Bahasa kasih pacar = tindakan pelayanan + waktu

Bayangkan!

Sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Saya menuntut dia berbicara dalam bahasa kasih saya, dan dia mengakui dengan gemas berbalut rendah hati bahwa itu terlalu berat baginya. Pada akhirnya dia mencoba perlahan mencintai dengan memberi hadiah dan pujian, sayapun berjuang mencintai dengan menyediakan waktu dan memberi bantuan nyata. Sejak titik itu hubungan kami jadi jauh lebih manis. Saya yakin, kasih itu bukan hal yang pasif dan selalu pasrah. Kasih memang akan memampukan kita menerima bahasa kasih pasangan yang mungkin berbeda, tapi sekaligus menyemangati kita untuk memenuhi kebutuhan bahasa kasih pasangan kita.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini, saya mendapati satu fakta di satu tengah malam saya terjaga: "Jangan mencari perasaan adil. Tapi usahakanlah kasih yang terus memberi" Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong merasa telah melakukan lebih banyak atau insecure karena melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "Apa yang bisa saya lakukan untuknya?"

Lesson #4: “Komunikasi dan rekonsiliasi.”

Hampir selalu setiap selesai berdebat saya menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Disana tertumpuk kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan.

Ini poin merawat relasi hampir terakhir. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini kurang penting. Nyatanya ini adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal. Pada Tuhan dan pada pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum pernah lepas dari ingatan ketika saya memohon dengan sangat "Tuhan berikan kami kasih mesra" lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja, kota, dan tokoh Alkitab yang berbeda. Dua manusia saling jatuh cinta lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.


Photo by Olga DeLawrence on Unsplash

Komunikasi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rekonsiliasi. Komitmen melakukan rekonsiliasi bermakna sebagai kesediaan untuk tidak mengulang kesalahan dan tidak terus mengungkit kesalahan itu sebagai memori buruk apalagi senjata ketika ada masalah lain muncul. Rekonsiliasi juga dilakukan secara vertikal dan horizontal, yang artinya berdamai dengan pasangan tapi juga memohon ampun kepada Tuhan.

Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa Tuhan mengasihi pasangan saya sebagai anakNya, demikian Dia juga mengasihi saya. Maka ketika ada tabiat saya yang menyakiti kekasih saya, sejatinya saya sedang menyakiti hati anakNya, dan karena itu saya haruslah memohon ampun kepada Bapa. Menyadari dengan sungguh milik siapa pasangan kita, membuat kita sadar bagaimana cara yang pantas memperlakukannya.

Lesson #5: “Pengharapan dan Ucapan Syukur”

Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya, kata Paulus. Perjuangan menuju pernikahan sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan terhadap apa yang kita anggap baik di depan. Itu adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, karena itu tanda kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati, ucap sang Pengkhotbah bijak.

Seperti syukur karena diberikan kesempatan kuliah dan pengharapan akan gelar sarjana akan menjadikan semangat berjuang menyelesaikan skripsi. Begitu pula dengan relasi sejoli manusia.

Perasaan terberkati itu akan menjadi penyemangat kita melakukan segala perawatan relasi. Saya bersyukur atas apa yang saya miliki. Saya merasa cukup. Saya dimampukan untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguh indah. Kami bertahan, bukan karena pasangan kami sempurna, bukan karena hubungan ini selalu nyaman, tapi karena kasih, pengharapan, dan pastinya ucapan syukur.


Photo by Everton Vila on Unsplash

Ini seni kami merawat hubungan kami, setiap pasangan memiliki seninya sendiri. Di antara itu semua masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Satu yang jelas kasih adalah investasi besar, kita harus belajar menumbuhkannya dengan terampil.

Sungguh kami tidak sempurna melakukan ini semua. Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerjasama. Menjadi partner yang saling mendukung di suka duka. Baik air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah dan tantangan baru, tapi juga akan ada kekuatan baru! Tuhan hadir dan kami tidak pernah berjuang sendirian, inilah pelajaran terbesar di antara semuanya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE