Seorang Pemudi Gemuk Hari Ini dan Zakheus di Masa Itu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 4 September 2017
Akhir-akhir ini hidup saya terasa seperti Facebook wall: semua orang bebas meninggalkan komentarnya.

“Kamu gemuk ya sekarang?”
“Wah kok makin gendut?”

Sebagai manusia, saya merasa hidup dalam konflik yang konstan dengan diri saya sendiri. Contoh kasusnya, ketika gym langganan saya tutup dan pindah ke lokasi yang (agak) lebih jauh dari rumah. Otak saya berkata, berolahragalah secara mandiri, toh peralatan ada di rumah dan aplikasi panduan olahraga di ponsel sudah banyak sekali. Lantas hati saya membatin, sepertinya itu bukan rencana yang bagus. Perut saya berkata, hidup ini sudah pahit, makanlah sepotong roll cake lagi.

Gym itu tutup dua tahun lalu, dan saya sukses menaikkan berat badan hingga 5 kilo karena frekuensi olahraga yang jadi tidak sesering dulu. Selain itu, karena banyaknya meeting yang saya lakukan dalam keseharian membangun bisnis, saya banyak ‘terdesak’ dalam situasi dimana makanan enak disodorkan ke bawah lubang hidung saya.

Dan situasi makin tidak menguntungkan hari-hari ini. Saya, seorang perempuan single usia 29 tahun yang menggemuk – saya adalah profil yang sempurna untuk menjadi ‘aib’ masyarakat yang meminta saya menikah dan melangsing (sayangnya, keduanya belum tampak akan menjadi agenda hidup saya hari-hari ini).

Dimulailah rutinitas membenci diri sendiri yang muncul tanpa saya sadari. Sebabnya? Saya sudah kehabisan stok jawaban atas komentar orang-orang mengenai naiknya berat badan saya, sampai di tahap saya jadi malas bertemu dengan orang yang sudah absen dari skema pergaulan saya sekitar setahunan, karena begitu ketemu, saya sudah tahu kata kunci apa yang bakal dia lontarkan. GENDUT.

Kemudian setelah membenci diri sendiri, saya mulai membenci makanan. Namun untuk yang ini saya tidak bisa lama-lama, karena saya langsung kena maag yang parah. Tapi saya jadi bergumul dengan rasa bersalah tiap kali saya makan. Saya benci dengan rasa lapar, karena lapar berarti makan dan makan berarti gendut. Pikiran saya sudah sangat tidak sehat kan?


Photo by Olaia Irigoien on Unsplash

Saya mencoba mengamat-amati, apa yang dilakukan oleh teman-teman lain ketika dikomentari ‘kegemukannya.’ Mayoritas teman baik saya laki-laki, dan saya jengkel bukan main ketika mendapati di tataran pergaulan kaum pria, gemuk ternyata pujian! “Wah, makin makmur aja nih, Bos, mantap!”

  

Malam itu kami baru selesai Persekutuan Wilayah ketika salah satu om-om yang mengenal saya dari kecil menghampiri dengan terkekeh-kekeh. Waktunya untuk pujian tak diundang, batin saya.

“Waah…gemuk ya sekarang? Naik berapa? Wah lima kilo juga ada nih, lima kilo!”
“Nggak tahu Om, saya nggak sempat timbang berat badan.”
“HAHAAHAHA kamu pasti nggak berani nimbang badan ya???”

Padahal saya memang nggak punya timbangan di rumah. Kali lain, di sebuah acara gereja juga, seorang oma menarik saya ke sudut hanya untuk mengomentari ketidaksukaannya akan postur badan saya, dan ‘berharap’ saya bisa memperbaikinya. Kemudian ia menatap saya dengan mata berbinar-binar, seakan menanti ucapan terima kasih dari saya.

Kenapa perempuan yang menggemuk selalu tampak ‘bersalah’ sementara laki-laki yang menggemuk dianggap karirnya makin sukses? Apakah tidak terbuka kemungkinan di benak orang-orang bahwa kebetulan saya, seorang perempuan, memang punya rejeki dari bisnis yang saya rintis sendiri sehingga saya bisa menikmati berbagai kuliner?

Saya pun makin banyak menghindar dari berbagai acara sosial karena lelah. Saya juga banyak menyalahkan diri sendiri, kenapa terlalu sibuk ini-itu sampai tidak bisa berolahraga sebanyak dulu. Kenapa saya harus lapar, sehingga saya makan, dan saya jadi gemuk?

  

Ada seseorang lain dalam Alkitab yang setahu saya juga berkonflik dengan dirinya sendiri: Zakheus. Dia orang pajak di tengah masyarakat yang sederhana. Bayangkan seorang pemakan sapi di tengah masyarakat vegetarian. Ia pasti dianggap produk gagal masyarakat. Jadi bahan omongan dan komentar.

Memang bisa menjadi sangat melelahkan, untuk menjadi bagian dari masyarakat ketika kamu tidak memenuhi kriteria yang “mereka harapkan”. Rasanya Zakheus memanjat pohon (selain karena dia kepo & tidak tinggi) juga karena dengan demikian, dia bisa berjarak dengan orang-orang yang menganggapnya ‘haram.’ I feel you, bro.

Dan saya rasa, Yesus hari itu juga mengendus konflik batin yang menguasai Zakheus. Kita semua tahu kisahnya dari jaman Sekolah Minggu. Yesus menyapa Zakheus, tapi Ia juga tidak langsung meminta Zakheus untuk ‘berubah’ menjadi sesuai dengan kriteria kebaikan masyarakat kala itu. Yesus hanya mengajak Zakheus duduk dan makan bersama.


Photo by Josh Applegate on Unsplash

Saya jadi merasa sedih karena rasanya ‘duduk bersama Yesus’ menjadi makin mewah di tengah kesibukan kerja saya. Pun menjadi langka, di tengah masyarakat yang gemar menuntut dan menekan dengan segala “keharusan”. Mungkin saya bukan butuh langsing atau butuh cepat-cepat menikah. Saya sebenarnya hanya perlu duduk bersama Yesus. Lucu bukan, ketika badai konflik internal ini sudah berlarut-larut mengotori pikiran saya, membuat saya sakit secara fisik, malas bergaul dan mulai mencari-cari berbagai solusi diet tercanggih, saya baru sadar bahwa apa yang saya butuhkan itu sederhana sekali.

Hari-hari ini, saya mulai ‘membuat janji temu’ dengan Tuhan. Saya duduk bersama Dia di atas yoga mat setelah sesi latihan, kadang saya duduk dengan Dia di bangku taman jogging track dekat rumah. Siapa sangka, itu ternyata jauh lebih penting daripada menjadi kurus, karena saya didamaikan dengan konflik tersulit dalam sejarah hidup – sebuah konflik melawan diri sendiri.


Photo by Katya Austin on Unsplash

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE