Siapa Kita Berhak Menghakimi?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 26 Maret 2017

Even God doesn't propose to judge a man till his last days, why should you and I?

Dale Carnegie

"Wah, preman nih" pikir kita saat ada jemaat dengan lengan penuh tato di kebaktian pemuda.

"Wah, pasti cewek nggak bener.." ujar kita dalam hati saat ada selebgram memposting foto dengan busana super minim.

"Duh, kok cowok ngomongnya lemah lembut gitu, ya? Jangan-jangan..."

"Ada kasus pelecehan, pasti gara-gara pulang larut malam!".

"Nggak apa-apa lah nge-share meme rasis, yang penting kan nggak ngejek di dunia nyata"

"Nggak apa-apa lah ikut nge-bully artis itu di Instagram, toh saya nggak pernah ngebully secara fisik kok!"

"Nggak apa-apa lah sering ngomong kasar, yang penting kan masih batas wajar.."

Youth, kalau kita introspeksi diri dengan objektif, aktivitas menghakimi atau melabeli seseorang agaknya semacam naluri alami sebagai manusia. Kita melakukannya tanpa berpikir panjang. Sebenarnya, kita tahu itu salah. Tapi karena terasa seperti refleks, kita cenderung mengabaikan dan larut dalam kesenangan sesaat saat melakukannya. Dalam prosesnya, kita juga menggunakan diri sendiri sebagai tolok ukur. Segala hal dan perilaku yang bertentangan dengan apa yang kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, secara otomatis kita kategorikan sebagai sebuah kesalahan, abnormalitas. Belum lagi standar semu yang sering kita ciptakan sendiri untuk mendefinisikan ‘orang Kristen’ dan yang paling bikin gemas; kebiasaan kita untuk menentukan seenak hati siapa yang bisa masuk surga dan tidak!

Ayat berikut ini mungkin salah satu ayat yang paling populer, namun justru kita sering luput memaknainya dengan utuh:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Yes, you read that right! Syarat untuk memperoleh keselamatan hanya satu: percaya kepada Allah Bapa. Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita. Menghayati esensi keselamatan sebenarnya dapat membantu kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang lebih superior dibandingkan manusia lain. Kita perlu ingat bahwa sebagai anak Allah, kita semua tidak jauh beda. Pertama, soal keberdosaan. Youth, kita semua telah kehilangan kemuliaan Allah. Namun kita semua juga telahsama-sama dibenarkan kembali lewat penebusan Kristus (Roma 3:23-24). Artinya, panggilan untuk saling mengingatkan dan bersama memerangi dosa adalah untuk kita semua. Namun hal itu harus disterilkan dari jebakan duniawi untuk menghakimi dan melabeli sesama. Jika kita paham betul posisi kita yang sebenarnya sama, maka kenapa kita masih suka menghakimi? Nah.. mungkin kita lupa akan tiga poin penting berikut ini,

1. People change!

Cerita-cerita kesaksian atau pertobatan yang dibagikan di media sosial selalu banjir simpati dan pujian. Namun mirisnya untuk orang-orang yang sehari-hari kita temui, tidak selalu perlakuan simpatis dan apresiatif kita sodorkan. Kita senang dengan perubahan, namun kadang tidak mengijinkan diri kita berproses dengan perubahan orang lain. Apalagi jika itu orang yang tidak kita suka. Padahal Allah Bapa bisa mengubah hati manusia kapanpun dan dengan cara apapun, lho. Daripada sibuk membicarakan keburukannya, kita bisa coba doakan agar Tuhan menyentuh hati mereka!

2. Everyone has their own journey

Kita sering luput menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup serta pergumulan yang membentuk pola pikir dan cara merespon segala sesuatu. Pengalaman masa kecil, luka hati, hingga pola pergaulan membentuk karakter yang beragam. Hal yang menurut kita remeh, bisa jadi sebuah perkara sensitif bagi orang lain. Pengalaman iman dengan Tuhan pun merupakan sesuatu yang sangat unik dan personal sehingga tidak bisa disamakan begitu saja. Keengganan untuk memahami dan meletakkan diri kita di posisi orang lain, dapat menjerumuskan kita ke pola pikir yang penuh penghakiman.

3. Keselamatan adalah hak prerogatif Allah Bapa

Ini yang sering kita lupakan, Youth. Kadang kita merasa tahu terms and conditions untuk bisa disebut anak Allah. Mungkin kita memang tahu bagaimana cara menjalani hidup agar merefleksikan kasih Kristus. Namun, kita sama sekali nggak punya hak untuk berasumsi siapa yang berhak menerima keselamatan dan yang tidak. Karena hanya Dia yang tahu isi hati terdalam manusia, melebihi apa yang bisa dilihat mata.

Daripada menghabiskan energi untuk menghakimi walau dalam nada bercanda atau celetukan angan, lebih baik bersumbangsih atas perubahan orang lain. Atau... jika tidak bisa, setidaknya untuk perubahan diri kita sendiri.

Memang tidak mudah untuk lepas dari jeratan guilty pleasure satu ini. Tapi kita punya teladan yang sempurna. Yuk kita landaskan setiap interaksi kita sehari-hari dengan pendekatan kasih sang Juruselamat.

Seperti Yesus yang menolong Maria Magdalena yang hendak dirajam batu.
Seperti Yesus yang duduk dan makan bersama pemungut cukai.
Seperti Yesus yang meminta pengampunan Bapa atas orang-orang yang menyalibkanNya.


Bisa kita mulai hari ini?

If you judge people, you don't have time to love them - Mother Theresa.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE