Sinterklas di Kayu Salib Pengingat untuk Membawa Berita

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 31 Desember 2018
Bukan hanya ‘digantikan’ oleh sinterklas, di kehidupan masa kini Yesus kerap digantikan dengan hal-hal lain.

Sebuah meme di Instagram tiba-tiba menggelitik rasa penasaran saya. Gambar dalam meme tersebut menunjukkan dekorasi Natal sebuah toko di Jepang berupa boneka sinterklas yang disalibkan. “Sepertinya orang Jepang belum paham apa itu Natal,” kira-kira seperti itu caption dari meme tersebut. Banyak orang menyukai dan menanggapi hal tersebut dengan santai dan tertawa, menganggap kejadian itu sesuatu yang lucu. Yang disalib ‘kan Yesus bukan sinterklas, dan penyaliban itu identik dengan paskah, bukan Natal. Sinterklas ‘kan pekerjaannya membagi-bagikan hadiah untuk anak kecil, kalau disalib sedih dong adik-adik sekolah Minggu. Kira-kira seperti itu mungkin, yang terlintas di benak mereka


Photo by Mike Arney on Unsplash

Saat itu saya hanya tersenyum kecil. Alih-alih lucu, pemandangan sinterklas tersalib itu justru membuat saya bingung dan bertanya-tanya heran, “Kok bisa sih?”. Hasil penelusuran membawa saya pada sebuah penemuan bahwa ternyata di banyak tempat di dunia, Natal dirayakan hanya sebagai bagian dari budaya. Di Jepang, sinterklas yang disalib adalah sebuah urban-myth terkenal dan karena populasi umat Kristiani di sana bahkan tidak mencapai angka 2%, Natal memang dirayakan bukan untuk memperingati kelahiran Yesus. Hari Natal satu level dengan hari-hari raya “sekuler” lain seperti hari Valentine, sehingga tak heran kalau sampai ada sinterklas yang disalibkan.

Bukan hanya “digantikan” oleh sinterklas, di kehidupan masa kini Yesus kerap digantikan dengan hal-hal lain. Semua orang butuh penyelamat, butuh sosok untuk diharapkan dan diandalkan, tapi mereka tidak, atau tidak mau, mengenal Yesus, kemudian muncul para penggantinya. Ada superhero, yang digambarkan memiliki kekuatan super untuk menyelamatkan dunia dari segala kesulitan. Ada kekasih, yang diharapkan bisa mengisi kekosongan hati. Ada popularitas untuk menggantikan “fungsi” Yesus sebagai penyedia perhatian tanpa batas. Ada adiksi sebagai pelampiasan keputusasaan karena tidak adanya harapan. Pertanyaannya adalah, “Apakah Yesus memang bisa diganti?”


Photo on Unsplash

Nyatanya tidak, bukan? Superhero hanya ada di dunia fiksi dan permasalahan hidup tetap jadi teman kita sehari-hari, tanpa ada Spiderman yang bisa mendadak muncul dengan sebuah pertolongan. Kekasih juga tidak bisa kita andalkan 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, apalagi untuk kita yang masih jomblo (ha ha). Popularitas yang kita jadikan sumber rasa aman karena memberi bukti adanya perhatian, tak luput juga bersifat semu, bahkan kita tahu like dan follower bisa dibeli dengan beberapa lembar uang saja. Kecanduan yang kita harap bisa menambal luka dan mengurangi rasa kecewa pada akhirnya hanya akan merusak diri kita, bukannya menjadi jalan keluar.

See? Tuhan Yesus masih dan akan selalu tidak tergantikan. Keselamatan hanya berasal dari penebusan-Nya di atas kayu salib dan kita dipanggil untuk memberitakan hal tersebut pada dunia yang seperti kita lihat tadi; masih mencari-cari “alternatif juruselamat”. Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha pengasih dan Ia ingin agar semua orang, bukan orang Kristen saja, yang memperoleh hidup yang kekal. "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." – Yohanes 17:3


Photo on Unsplash

To know God and make Him known

Kalimat di atas adalah visi yang diberikan Tuhan kepada para pengikut-Nya. Matius 28:19-20 berbunyi, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Tuhan ingin kita mengenalkan pribadi-Nya pada dunia dan untuk dapat mengenalkan Yesus tentu kita perlu mengenal-Nya terlebih dahulu. Ah, tapi kan itu tugasnya pendeta atau hamba Allah lainnya. Ingat guys, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.” – Matius 9:37, tuaian tidak hanya ada di dalam gereja sehingga cukup pendeta yang memberitakan Injil, seluruh bumi ini adalah ladang dan pengabaran Injil adalah tugas semua orang percaya.


Photo on Unsplash

Kembali pada potret sinterklas yang tersalib, tidakkah kita rindu mereka yang masih “salah kaprah” bisa mengalami makna sesungguhnya Natal dan mengenal kasih Yesus? Sebagai anak-anak Allah, tidakkah kita memiliki keinginan bahwa suatu hari nanti seluruh bumi akan merayakan Natal untuk satu hal yang sama yaitu memperingati kelahiran Juruselamat dunia Yesus Kristus? Sungguh, Tuhan merindukan hal itu.

Seperti kerelaan-Nya meninggalkan tahta Kerajaan Surga demi memberi kita hidup yang kekal, maukah kita juga menyalibkan ego, gengsi, kemalasan, dan alasan-alasan lainnya, lalu pergi membawa berita Kabar Baik pada dunia yang masih mencari-cari sosok “pengganti Yesus”? Ini adalah sebuah panggilan yang perlu kita sambut.

“Kita harus membawa berita pada dunia dalam gelap

Tentang kebenaran dan kasih dan damai yang menetap, dan damai yang menetap

Kita harus membawa berita: Allah itu kasih belas.

Dib’rikan Putra tunggalNya, supaya kita lepas, supaya kita lepas.

Kita harus bersaksi di dunia tentang kuasa darah kudus.

Semoga yang masih sangsi terima Sang Penebus, terima Sang Penebus!”

Kidung Jemaat 426

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE