Slow, Doa Dulu!

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 05 Juni 2018
Obsesi akan kesempurnaan sering membuat kita berfokus pada 'apa yang sudah tidak ada' daripada 'apa yang masih kita punya'. Dalam kepanikan, justru kita semakin 'nge-gas' dan lupa untuk menemukan kedamaian dalam berserah.

Dalam rutinitas hidup yang padat, di tengah sederet ambisi diri yang terus meminta realisasi, ditambah kenyataan segala keterbatasan hidup kita sebagai manusia, seringkali kita menjalani hidup bagaikan sebuah lomba lari jarak pendek. Berusaha memacu kecepatan sedari awal, tidak ada dinamika, intinya hanya untuk segera secepat – cepatnya sampai di tujuan akhir.

Tapi kenyataan hidup sama sekali berbeda dengan lomba lari jarak pendek. Pertama–tama hidup belum tentu pendek. Kedua perjalanan hidup kita tidak selalu berada di jalur yang lurus dan hanya milik kita sendiri seperti running track. Menjalani hidup dengan segala kompleksitasnya juga akan menghasilkan dinamika, naik dan turun, cepat dan lambat, berjalan dan berhenti.

Jalan hidup tidak mungkin selalu lurus. Itu kenyataan yang dialami oleh diriku sendiri dan banyak orang di sekelilingku. Itulah kenapa kita mengenal sebuah ungkapan yang menyatakan crap happens at last minutes. Ketika perencanaan sudah dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan sepertinya segala sesuatu sudah dipersiapkan, terkadang muncul hambatan-hambatan yang tak pernah kita minta. Dan suasana pun seketika menjadi riuh, segala kemungkinan yang ada semakin tertutup, dan tenggat waktu yang kita miliki juga semakin dekat. Ketika kepanikan muncul, biasanya hal yang dilakukan adalah terus nge-gas, berusaha sekuat tenaga dan secepat mungkin bertindak mengatasi semua permasalahan, kekurangan yang ada agar semua menjadi baik-baik saja, dan tujuan yang telah ditetapkan dapat segera tercapai. Masalahnya, di tengah kepanikan, kita kerap tidak mampu berpikir dengan jernih. Usaha untuk bergerak cepat tidak bisa kita imbangi dengan pikiran yang tenang.


Photo by Kaique Rocha from Pexels

Suatu ketika, aku dan teman-teman sedang dalam persiapan untuk pelayanan musik pengiring ibadah Minggu. Para pelayan yang akan bertugas telah menyanggupi pelayanan ini beserta komitmen terhadap jadwal latihannya sejak beberapa minggu sebelumnya. Latihan pun sudah dijalankan dan persiapan kami sudah sangat baik. Namun, hanya selang beberapa hari sebelum jadwal pelayanan, tiga orang personil terpaksa mundur karena keperluan pekerjaan dan keperluan pribadi yang mendadak dan mendesak (tim pemusik ibadah beranggotakan 1 pemain drum, 1 gitaris, 1 pemain bass, 1 pemain keyboard, dan 2 orang penyanyi). “Setengah personil dari tim sudah mundur, untuk apa lagi pelayanan ini dilanjutkan?”, begitu pikirku saat itu. Ketakutan akan hasil akhir yang tidak maksimal, sedikit rasa kecewa terhadap teman–teman yang mundur, kenyataan bahwa tenggat waktu semakin mendekat, ambisi untuk terus maju dengan memaksakan kondisi yang tidak sempurna lagi, semua perasaan itu bercampur menghasilkan kepanikan. Aku terus menyampaikan protes dan sambil membujuk teman yang mundur agar mengorbankan saja urusannya yang lain. Semuanya kulakukan dalam kepanikan, dan aku sadar aku lupa untuk melambat dan kemudian berhenti sejenak.

Aku sadar, saat itu aku terlalu bernafsu dan terobsesi dengan kesempurnaan, berusaha memungkiri keadaan, terus nge-gas agar semua segera baik-baik saja. Padahal yang harusnya aku lakukan adalah selow dan berdoa. Berdoa bukan sekadar meminta jalan keluar, tapi juga berserah kepada Tuhan dan memohon ketenangan. Akan ada pertolongan yang tak pernah kita duga dan pasti datang ketika Tuhan yang bekerja. Dan selow juga akan memberikan ruang bagi kita untuk menarik napas dan berpikir sejenak. Kemudian Tuhan akan memampukan kita untuk buka mata dan melihat “apa yang masih kita punya”, bukan lagi pada “apa yang sudah tidak ada”. Mungkin saja yang kita lihat adalah hal-hal yang terbatas. Tapi di saat Tuhan memampukan kita oleh karena kekuatan doa dan di saat kita berpikir dengan tenang dalam keadaan yang slow, keterbatasan itu akan menjadi kekuatan dan jalan keluar dari masalah.


Filipi 4 : 6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.



Photo by Radu Florin on Unsplash

Akhirnya satu hari sebelum hari pelayanan, tiga orang yang mundur diganti oleh dua orang pemain pengganti. Dua orang penyanyi, seorang pemain drum, seorang pemain bass, dan seorang pemain keyboard melakukan sekali lagi latihan persiapan pelayanan. Puji Tuhan, di waktu yang sempit dalam pikiran yang sudah tenang, kami bisa latihan dengan slow dan penuh pengharapan bahwa Tuhan yang akan menyertai pelayanan kami hingga selesai.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE