Slow Motion: Dancing with Fear

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 01 Juni 2018
I realize that it requires a tremendous leap of faith to imagine that your childhood—punctuated with pain, loss, and hurt—may, in fact, be a gift. — Wayne Muller, Legacy of the Heart

Anxiety does not empty tomorrow of its sorrows. But only empties today of its strength.– Charles Spurgeon

Sore itu saya terdiam sendiri, mengetahui ada sekumpulan orang yang berteriak-teriak di luar pintu gereja dan siap melakukan apa saja untuk menyampaikan ketidaksenangannya pada gereja. Sebuah pengalaman traumatis dalam periode praktek saya di gereja tersebut. Saat itu pendeta dan keluarganya sedang cuti. Tidak ada satpam maupun koster. Saya mendekap erat tangan dan kedua kaki saya, tubuh sudah panas dingin, sambil mulut komat-kamit berdoa kepada Tuhan. Tangan berusaha meraih handphone untuk menelepon orang tua. Apalagi mengingat peristiwa sebelumnya, batu-batu sudah dilemparkan sampai kaca gereja pecah. Saya hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

Singkat cerita, saya selamat dan tidak mengalami penyiksaan apapun. Namun setelah itu, walau sudah berada di tempat yang berbeda, saya tetap berkeringat dingin di jam yang sama. Saya bisa ketakutan luar biasa saat terdengar suara maghrib dari masjid terdekat. Orang yang saya ceritakan, terus mengatakan,”Ayo kuatkan imanmu! Jangan biarkan roh ketakutan menguasaimu. Lawanlah! Apalagi kamu ini mahasiswa teologi! Kamu nanti jadi calon pendeta lho. Masa iya kamu ketakutan seperti ini. Bagaimana nanti jemaatmu kalau kamu saja ketakutan!” Mendengar nasehat tersebut ingin sekali marah. Saya ketakutan bukan karena saya tidak beriman kepada Tuhan. Saya sudah berdoa dan percaya. Tapi entah kenapa peristiwa traumatis tersebut membuat saya terus merasakan ketakutan yang tidak rasional.


Photo by Claudia on Unsplash

Ketika saya mencoba melihat kisah di Alkitab, ada kisah mengenai nabi Elia yang menyembunyikan diri dari ratu Izebel. Nabi Elia merasa sangat ketakutan sampai mengurung diri. Ditulis dalam 1 Raja-raja 19:3, “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.”

Ada ketakutan dan kekhawatiran yang menyelimuti nabi Elia. Padahal jika kita membaca kisah sebelumnya, dengan imannya kepada Tuhan, nabi Elia sanggup untuk menantang 450 nabi Baal (1 Raja-Raja 18). Nabi Baal dipermalukan, namun Allah dipermuliakan sebagai Allah yang sejati. Ternyata Elia kecewa, bagaimana mungkin peristiwa yang mempermalukan 450 nabi Baal itu tidak membuat seluruh Israel dan Izebel betobat. Ia awalnya memprediksi bahwa kejadian di gunung Karmel ini akan menjadi peristiwa bersejarah seperti yang dilakukan Musa di atas gunung Sinai. Namun, itu salah. Izebel justru makin menjadi-jadi. Elia merasa sendirian. Hal ini diucapkan Elia, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Kekecewaan dan ketakutan Elia bahkan membuatnya sampai ingin mati. Dituliskan di dalam 1 Raja-raja 19:4, “ Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon ara. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." Ketakutan Elia membawanya pada depresi. Nabi Elia bukan tidak percaya kepada Tuhan. Ia tahu ada Allah yang bisa menolongnya. Elia tetap ketakutan. Nabi Elia berelasi secara terbuka dengan Allah. Ia bukan merohanikan segala sesuatu. Ia secara jujur mengungkapkan kelemahannya sebagai manusia di hadapan Allah. Allah tau bahwa Elia lemah. Oleh karena Elia lemah maka ia membutuhkan pertolongan Allah. Keterbukaan Elia inilah yang menolongnya untuk bisa keluar dari masa yang tidak mudah dalam hidupnya.


Photo by Eric Ward on Unsplash

Allah menolong Elia bahwa rancangan Allah melebihi pikiran Elia. Allah ingin mengubah pola pikir Elia. Jika kita perhatikan maka kita dapat menemukan bahwa gua dimana Elia ada ditulis dalam bahasa Ibrani ditulis “the cave” bukan “a cave”. Pemilihan sebuah gua tertentu yang kemana Allah meminta Elia menuju ke sana ini kemungkinan merupakan gua dimana Allah melewati Musa, namun Musa tidak akan mati sebab Allah menudunginya (Keluaran 33:21-23). Di tempat yang khusus ini, Allah menemui Elia bukan dengan angin yang besar dan kuat maupun api. Allah hadir di dalam angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Dari kisah Elia, saya belajar bahwa depresi maupun ketakutan bukan hanya diderita oleh orang yang tidak punya iman kepada Allah. Orang yang beriman dan bergaul erat dengan Tuhan pun bisa mengalami depresi dan gangguan kekhawatiran. Paul Foxman, Ph. D. menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Dancing with Fear”:


“Anxiety is increasing at a startling rate as a result of many kinds of stress in society. I believe anxiety has become so common today because there is so much stress and so many potential threats in the world. Based on increases in actual global threats, such as terrorism and natural disasters, the amount of perceived danger is also increasing. This is reinforced by the media, particularly television, which brings vivid images of threat and disaster into our daily lives.”


Hal pertama yang perlu kita lakukan ketika mengalami ketakutan yang luar biasa, trauma, dan depresi adalah menakui ketakutan dan kelemahan. Jika kita sedang mendampingi orang yang mengalami hal tersebut, yang perlu kita lakukan adalah membiarkannya mengekspresikan ketakutan dan traumanya. Jangan minta ia untuk langsung berpikir rasional tentang apa yang ia alami. Hal itu justru akan memperburuk keadaannya karena menekan rasa takut sangat menyakitkan. Orang yang ketakutan, trauma, depresi perlu didengarkan dan dimengerti. Orang tersebut sedang bingung dengan dirinya sendiri, apa yang ia alami dan rasakan. Biarkan ia mengatakan apa saja yang ada di kepalanya. Foxman menuliskan, “Fear and anxiety exist on a continuum. They are rooted in the same physiology and can have similar consequences. To get at the essence of anxiety, we must start with the anatomy of fear."


Photo by Joshua Earle on Unsplash

Kedua, beri batasan waktu pada orang yang mengalami trauma, ketakutan, maupun depresi tersebut, merasakan emosinya. Kalau ia terus tenggelam pada emosinya maka ia akan terus terpuruk lebih jauh. Biarkan juga pikiran maupun rasio dari orang tersebut memulihkannya. Yakinkan bahwa semua sekarang sudah baik dan aman. Semua hal traumatis tersebut sudah berlalu. Ada Allah yang memegangnya erat. Jika ia tidak mengerti mengapa Allah membiarkan semua hal buruk tersebut terjadi, maka jawablah Allah mau kita semua sadar dan bergantung penuh pada Allah, sang sumber kepuasan dan harta kita yang paling berharga. Allah sanggup memberi apa yang kita inginkan seperti keamanan, kesejahteraan. Allah mau memberi diri-Nya sendiri sebagai harta kita yang paling berharga. Ia juga memiliki tujuan hidup yaitu memuliakan Allah. Ketika Allah masih mengijinkannya hidup itu berarti ada sesuatu hal yang masih Allah ingin ia kerjakan. Allah tidak iseng memberi kecelakaan atau hal yang tidak menyenangkan terjadi. Ia turut menangis bersama kita yang menderita sambil berkata, “Ayo anak-Ku, kita bersama selesaikan karya di dunia ini.”

Hal tersebut yang dilakukan konselor saya. Ia meminta saya untuk membuat jurnal mengenai apa saja yang saya rasakan dan apa yang terbayang. Kemudian membahasnya setelah beberapa kali pertemuan. Saya diajak untuk berpikir apa yang memicu saya menjadi ketakutan dan merasa terpuruk ketakutan. Apakah ketakutan tersebut nyata atau tidak. Beliau juga memberi saya ilustrasi walau saya ada di tengah hutan ataupun badai yang menakutkan dan membingungkan, ada Allah yang tetap bersama saya. Walau Allah seakan diam, Ia ada di dekat saya. Jika saya tidak tahu harus bagaimana di tengah badai, pegang erat tali kapal speadboat Allah yang terus berjalan di tengah badai. Ilustrasi ini menolong saya keluar dari depresi saya. Beliau sabar dan dengan kasih-Nya membimbing saya sesuai dengan ritme saya untuk bisa membuka diri dan pulih. Konselor saya tidak pernah memaksa saya untuk langsung berpikir rasional, maupun merohanikan segala sesuatu. Ia juga tidak pernah menghakimi atau memberi label pada diri saya atas apa yang saya katakan dan pikirkan. Jika memang belum bisa berkata Allah itu baik, ya jangan paksakan. Ada masanya orang yang trauma ini bisa berpikir logis lagi.


Photo by Ariana Prestes on Unsplash

Ketiga, orang yang trauma tersebut perlu komunitas yang mendukungnya untuk pulih. Komunitas yang tidak menghakimi, mendorong, memberi kasih, serta penerimaan. Sangat penting bagi orang yang trauma maupun depresi. Dari komunitas yang mengasihi dan mendukung secara positif, akan membuat ornag tersebut merasa aman dan nyaman. Orang tersebut juga tidak merasa sendirian. Muncullah juga hati yang gembira. Hati yang gembira adalah obat bagi jiwa.

Pada akhirnya, ia akan bisa mengatasi ketakutannya. Ia bisa menari ditengah badai ketakutannya. Ia bisa tenang bukan karena situasi berubah baik sesuai keinginannya. Ia tenang karena ada Allah yang menjadi harta yang paling berharga. Allah memakai komunitas untuk memulihkannya.

Kepada para korban pengeboman di Surabaya dan sekitarnya, mari kita jadi komunitas maupun pribadi yang dipakai untuk memulihkan mereka. Kita semua bisa menenangkan diri menerima kenyataan dan pulih.

Baca Juga

Bersahabat dengan Kecemasan

Hari Baik tak Selalu Nihil Kemalangan

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE