Solid Rock Under My Feet

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 08 Juni 2018
You are not graveyard. Stop opening your arms to those who are only looking for a place to rest their tired bones -Pavana

Saya ingat betul saya mulai menitikkan air mata (dan berakhir sesenggukkan, tentunya) ketika menonton film Finding Dory (2016) di adegan Dory kembali pulang ke rumah orangtuanya dengan bantuan cangkang kerang dari segala penjuru sisi rumah mereka. Keyakinan orang tua Dory bahwa anaknya yang hilang akan kembali, meskipun tidak ada jaminan (malahan ancaman sebenarnya, karena mereka tahu Dory punya short term memory), mereka tetap menunggu. Ini mengingatkan saya akan kasih Tuhan Yesus yang terlampau besar untuk anak-anakNya yang bandel seperti kita ini.

Dulu, bagi saya, kenyamanan terbesar adalah ketika melihat orang lain nyaman di sekitar saya. Ya, saya terlalu people oriented sepertinya dan itu yang membawa saya berpikir bahwa menjadi rumah untuk pulang bagi mereka yang lelah akan hidup adalah impian saya. Mereka bisa “menyandarkan bahu” kapanpun mereka mau. Dengan logika yang sama, saya berangkat dengan pemahaman bahwa saya bisa menjadikan orang lain sebagai rumah saya. Saat mereka menemukan kenyamanan itu di saya, maka saya punya hak yang sama untuk “bersandar” ke mereka. Tidak apa hanya disambangi ketika mereka sedang butuh saja, asalkan nyaman. Sependek itu pikiran saya.

Sampai akhirnya saya sadar, bahwa tidak ada satu manusia yang bisa dijadikan rumah, seberapa besar pun mereka menyediakan diri bagi kita. Juga tidak ada manusia yang sesungguhnya rela hanya disambangi ketika ada perlunya saja. Termasuk saya yang dengan segala keangkuhan menyanggupi diri sebagai rumah bagi orang lain. Ditambah saya menemukan fakta menarik bahwa sebenarnya, manusia hanya bisa mencintai diri mereka sendiri, manusia tidak cukup besar untuk bisa mencintai sesamanya. Jadi artinya, yang saya lakukan adalah wujud betapa egoisnya saya yang haus akan penerimaan orang lain. Boom!



Photo by Milan Popovic on Unsplash


It hit me like thunder, bahwa manusia adalah makhluk dinamis yang senantiasa berubah, dan bukan rumah namanya ketika tempat tersebut berubah-ubah. People change, they said. Berbeda dengan gajah yang punya daya jelajah luas dan memang berpindah-pindah rumah, proses evolusi membawa kita bukan lagi makhluk nomaden. “Rumah” yang sudah sangat nyaman saya tempati dan sudah saya dekorasi sedemikian indahnya, hilang begitu saja. Saya homeless, hopeless, serta heartless dan tiga hal ini bukanlah kombinasi yang baik. Butuh waktu bagi saya untuk memulai semuanya dari awal dan pelan-pelan menata hidup.

Sebagai orang Kristen, seringkali kita lupa bahwa sejatinya kita memiliki rumah kekal, yaitu hadirat-Nya. Terdengar sangat klise dan rohani mungkin, namun ini yang saya dapati setelah tahu bagaimana rasanya Tuhan meluluh-lantakkan sesuatu yang saya bangun sendiri tanpa persetujuanNya dan Ia mau saya mengulang susunan hidup dari bagian fondasi. Tuhan tidak ingin anak-anakNya seperti orang yang membangun rumah di atas pasir, tanpa fondasi yang baik lalu ketika angin datang, habis sudah semuanya. Ia ingin kita menjadi bangunan yang kuat, mau ada panas, hujan, badai topan, bahkan tsunami sekalipun tidak akan mengubah apapun. Mari baca Mazmur 62:5 versi MSG


God, the one and only—

I’ll wait as long as he says.

Everything I hope for comes from him,

so why not?

He’s solid rock under my feet,

breathing room for my soul,

An impregnable castle:

I’m set for life.



Photo by Aaron Burden on Unsplash


Bagi saya ayat ini adalah jawaban telak atas pertanyaan saya mengenai rumah sesungguhnya. Seperti juga ilustrasi tentang anak yang pergi menghabiskan harta orang tuanya lalu pulang dengan perasaan malu dan tidak berharga, Tuhan tidak akan berdiri di ambang pintu lalu berteriak dari kejauhan “Tuh kaaannn apa Gue bilang, jangan bandel makannya kalo diingetin,” namun Ia senantiasa menyambut kita pulang ke hadirat-Nya dengan tangan yang terbuka sangat lebar. Harapan dan hati kita akan berada di tempat yang aman dan tidak ada satu manusiapun yang bisa mengambilnya, karena hanya Dia satu-satunya sosok yang tidak akan pernah berubah, dulu, sekarang dan selamanya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE