Sosial Media: Perlukah Kita Cuti Darinya?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 13 Maret 2017

I want to tell a person how I feel & what I’m thinking by talking heart to heart, not post quotes I found on google search.

I want to go back to the days when I eat because it’s basic necessity, not because foodporn posts are considered cool. I want to wear certain outfit because it makes me feel comfortable, not because I have to post ootd (or because I got them free ).

I realize I have spent a little too much time doing unnecessary postings instead of engaging with my surrounding and living the moment. I need to interact & pay attention to those closest to me, as I have no guarantee of how much time I have left to spend with them.

Ada yang mengangguk sepakat dengan pernyataan Sarah Sechan disini? MC kondang nan humoris ini memilih undur dari dunia maya sejak 2 Maret lalu. Sekarang, bagaimana denganmu? Jangan-jangan kamu dan banyak orang lain terinspirasi tindakan serupa dan akankah penduduk instagram khususnya di Indonesia berkurang signifikan? Well, we don’t know. Namun sebenarnya yang perlu kita cari tahu justru, sungguhkah resign dari dunia maya menjadi satu-satunya opsi?

Menurut saya, tidak.

Toh kita tidak dapat menyangkal bahwa sosial media menjadi sebuah nadi hidup masa kini. Sosial media adalah guilty pleasure banyak orang. Ada perasaan bahagia berbalut rasa bersalah karena membuang waktu sia-sia. Maka pertanyaannya, boleh sejauh apa?

Saya sendiri adalah seorang scrolling-addict berbagai lini masa. Namun, saya memutuskan beberapa kebijakan pribadi terkait hal ini.

 

1. PUNYA TUJUAN YANG JELAS

Personal mission, begitu saya menyebutnya. Mungkin terlihat agak lebay, tapi nyatanya ini sangat menolong. Seperti di artikel sebelumnya saya berkisah, suatu kali krisis kepercayaan diri menghampiri saya. Dari kejadian itu saya memutuskan bahwa sosial media saya gunakan hanya untuk tiga hal: mengetahui kabar para kawan yang sedang terpisah jarak, membangun jejaring serta personal branding, dan mendapatkan wawasan. Jika suatu sosial media akhirnya tidak memenuhi ketiganya, maka dengan senang hati saya akan mengusirnya dari memori gawai.

Penetapan tujuan yang jelas dari penggunaan sosial media akan mengontrol cara kita pula. Misalnya, jika kamu tidak bermaksud menjadi artis Instagram, maka mengapa perlu merepotkan diri dengan postingan bertema yang perlu diedit 10 menit hingga satu jam. Saya pastikan, bahwa saya pernah melaluinya. Menata laman instagram agar kece dan selang-seling putih hanya untuk mempercantik ala-ala. Namun di satu titik, saya merasa itu useless sebab telah menghabiskan waktu terlalu banyak dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Saya kini tergolong cuek atas postingan saya.


(tentukan sendiri batas apa sosial media membuatmu happy, dan bukan justru sebaliknya)

2. KURANGI JENISNYA

Ada berbagai opsi jejaring masa kini. Path, Snapchat, Ask.fm, Facebook, dan pastinya Instagram. Saya memutuskan hanya bermain dua sosial media saja, Instagram dan Facebook. Mengapa? Sebab hanya kedua jejaring inilah yang memenuhi standar tujuan yang saya buat di poin pertama. Sebelumnya saya juga tergolong aktif di Path sampai akhirnya hampir setahun saya memilih untuk menonaktifkan jejaring yang dibuat sejak 2010 itu. Alasannya sederhana karena saya melihat laman Path hanya berisi informasi yang bersifat personal semata. Bukannya menginspirasi, namun justru mengarah ke sikap mengomparasi. Bukannya berbagi informasi, malah menjadi ajang unjuk gigi akan suatu tempat dan trend yang terkini. I simply don’t need that.

3. PEGANG KENDALI DENGAN ATURAN

Kita perlu menjadi idealis, youth. Karena dunia ini penuh godaan maka jelas kita perlu committed terhadap setiap keputusan sadar kita. Begitu pula perihal sosial media, beri aturan dan batasan bukan saja membuat kita bijak mengurangi rasa bersalah, namun lebih dari itu, membuat kita belajar tegas pada diri sendiri.

Aturan yang hendak dibuat dapat dimulai dari hal sederhana, misalnya komitmen untuk keluar (log-out) dari semua sosial media sebelum tidur hingga seusai saat teduh atau mandi. Juga soal janji ke diri sendiri tidak akan scrolling saat jam kerja dan ibadah. Terakhir, saya memutuskan tidak akan menyentuh sosial media ketika kondisi hati dan pikiran saya sedang tidak sehat. Kondisi demikian membuat saya rentan pada penghakiman akan orang lain dan godaan untuk mengekspos masalah pribadi.


(tentukan sendiri batas apa sosial media membuatmu happy, dan bukan justru sebaliknya)

Macam aturan tergantung kebutuhan masing-masing individu, yang terpenting adalah kesadaran bahwa hidup ini akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Tuhan. Youth, kita hanya hidup satu kali saja. Namun jika dijalani dengan baik, maka kesempatan sekali itu akan cukup. Lebih dari cukup.


(Lakukan yang terbaik dan bermakna di hidup yang hanya sekali ini)

Seperti yang kita tahu, saat ini kita sedang masuk dalam minggu Pra-Paskah yang tidak lain adalah minggu penyangkalan diri. Menurut saya ini adalah momen yang teramat tepat untuk memulai. Salah satu ‘puasa’ yang saya ambil dalah puasa sosial media. Hanya di hari Jumat-Minggu saya halalkan untuk membuka linimasa. Terlihat remeh? Biarlah. Tapi dari sini saya mengurangi konsumsi waktu secara percuma. Dan ijinkan saya meyakinkanmu, youth, dengan berkurangnya waktu saya untuk scrolling bertambah kesempatan saya menikmati berbagi hal lain. Membaca buku yang telah lama tertunda, membuka personal chat dengan teman lama untuk bertanya kabar mereka, menulis dan berkarya, bercengkrama, dan bahkan olahraga! Cobalah!


(tanpa sosial media, banyak hal lain yang bisa kita coba dan nikmati)

Pada akhirnya Tuhan tidak pernah bertanya berapa followers kita, namun Dia jelas ingin tahu berapa banyak orang yang telah kita bantu dengan penuh cinta.

Dia pun tak pernah peduli dengan likes yang kita raih, namun Dia pasti peduli seberapa banyak kasih dan perhatian serta pengampunan yang telah kita bagi.

Sosial media adalah kebutuhan dan dapat membawa keuntungan, berpamit darinya bukan satusatunya opsi. Tapi tentu, hanya jika kita mampu tegas dan mengendalikan diri.

Selamat berpuasa!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE