Sosok Pendeta Jalanan dan Pandangannya soal Pelayanan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2017
Pelayanan tertinggi itu adalah compassion.

Dengan sarapan doa dan kegigihan, kami tim IGNITE STORY meminta panitia menyampaikan keinginan pada pembicara untuk melakukan wawancara. Akhirnya satu ruangan disiapkan khusus sebagai tempat wawancara. Pembicara pertama melangkah mendekat dengan sepatu boot merahnya. Tak lain dia adalah Pendeta Agus Sutikno, atau yang lebih dikenal sebagai Pendeta Agus Tato. Kami sebagai anak muda yang asing dengan pelayanan di tempat pelacuran, waria, dan penjangkauan kolong jembatan, merasa takut jika pembahasan hari ini akan menjadi kaku. Belum juga sosoknya yang konon intimidatif. Namun semua ketakutan tersebut sirna saat Pendeta Agus (yang nyaman dipanggil dengan “mas”) masuk ke ruangan dengan kaca mata hitam, dengan senyum lebar, langsung duduk di kursi dan menampilkan wajah ceria selayaknya anak muda yang seumuran. “Onok opo iki? Aku kok ditodong”, candanya saat pertama kali duduk untuk diwawancarai. Dan ini adalah hasil Interview Tim IGNITE STORY dengan Pendeta Agus Tato.


Photo By: Argha

Kenapa Mas Agus memilih ladang ini?

Pendeta Agus: Bukan memilih, Tuhan yang mau. Kalo aku yang memilih, ngapain di situ? Nggak ada duitnya kok. Pertanyaan yang salah. Kalo aku yang memilih, mending aku kayak pak Ariel toh? Ya toh? Ga ada enaknya lho pelayanan kayak gini. Udah dihakimi orang, dicurigai, dan masih banyak lagi. Saya tidak memilih, daging saya tidak memilih. Menjadi pendeta bukan untuk status terhormat dan kemapanan hidup. Kalau cuman bicara “Tuhan Yesus” saja, burung beo juga pinter toh? Tapi menjadi pelayan itu adalah bagaimana hidup kita menjadi berkat bagi semesta alam dengan menghadirkan Kristus kepada mereka. Yang penting itu kehadiran Kristus yang menyentuh dunia, bukan kita yang menentukan menurut kenyamanan kita sendiri. Kalo aku disuruh memilih? Ya sorry, aku ndak mau. Sudah nggak ada uangnya, saya harus keluar duit sendiri, jadi jelas bukan pilihan saya.

Menurut mas bagaimana urgensi Forum Pemuda Gereja seperti TRP?

Tergantung peserta. Apakah pemuda-pemuda yang mengikuti acara seperti ini cuman liburan, ketemu temen baru, dan foto-foto? Menurut saya, kalian pulang dari TRP ini, harus buat movement. Buatlah kegerakan. Bergerak keluar bersama-sama dan menghadirkan Kristus di tengah dunia. Lihat deh, kita yang orang Kristen ini apakah sudah berinteraksi dengan sesama yang non-Kristen dan membagikan cinta kasih? Kalau cuman dengerin ceramah di mimbar dan bicara soal Tuhan, semua orang bisa. Tapi apakah kita bisa ngomong Tuhan di tempat lain? Ngomong tentang Yesus di terminal atau tempat pelacuran dan pub? Bisa nggak kita?

Sekarang gini saya tanya ke kalian, Yesus lebih banyak pelayanan di dalam atau di luar gereja?

IGNITE: “Di luar mas”

Lakukan hal itu. Yesus dari injil Matius sampai Yohanes bilang gini ‘Tergeraklah hatiku oleh belas kasihan”, Pelayanan tertinggi itu adalah compassion. Belas kasihan. Itu adalah hati Bapa di Surga. Bukan compassion namanya kalo kita cuman di gereja. Dan pembunuhan compassion adalah pembunuhan Yesus sendiri.


Photo By: Argha

Apalagi yang ingin Mas Agus lakukan di hari depan?

Pelayanan saya bukan ketika saya kotbah atau diundang di acara seperti TRP ini. Kebanggaan saya adalah ketika saya bisa mengusap air mata mereka yang tersingkirkan. Kalo ada yang saya inginkan buat ke depannya, saya ingin semakin dalam dan masuk ke kehidupan mereka yang tertindas di luar gereja sana.

Bagaimana mas menilai orang Kristen melayani kaum terpinggirkan?

Maaf nih, kenapa kok ada kata “terpinggirkan”? Kata tersebut itu Anda yang ciptakan sendiri. Bahkan ada yang lebih parah dari ini, ada bahasa “anak tertolak”. Tidak ada anak yang tertolak, hapus kata-kata itu. Semua berharga di mata Tuhan. Tidak ada satu bayi pun yang minta lahir dari rahim seorang pelacur. Kita orang Kristen seharusnya yang justru men-service mereka. Bukannya hanya jadi penjilat bagi jemaat yang kaya dan melihat mereka sebagai asset terbesar. Menurut saya, meskipun tidak ada support dari siapapun, gereja dan nilai-nilainya harus tetep jalan. Tidak ada donatur pun, misi harus tetep jalan.

Apa itu definisi sukses menurut Mas Agus?

Kesuksesan saya adalah ketika hidup saya menjadi suratan Kristus yang terbuka yang dibaca oleh banyak orang, yang berbuah dan berdampak. Menggunakan bahu saya untuk tempat mereka menangis, dan tangan saya untuk mengusap air mata mereka. Intinya menghadirkan sosok Kristus yang hidup kepada orang-orang yang belum mengenalNya.


Photo By: Argha

Terakhir siapa tokoh yang paling menginspirasi seorang Pdt. Agus Tato? Dan kenapa?

Tuhan Yesus. Siapa lagi?

Oke mas. Kalau yang lain? Yang menyemangati mas dalam berkarya? Mother Theresa atau siapa?

“Ibu saya” (mas Agus menjawab ini sambil melepas kacamatanya dan matanya mulai berkaca-kaca)

Ibu saya itu bukan orang Kristen. Ketika ibu saya mempunyai sesuatu, beliau pasti akan selalu membagikannya. Ibu membagikan hidupnya. Dalam hidup saya, surat Kristus yang terbuka itu ibu saya. Dia bahkan pernah membiayai seseorang hingga menjadi pegawai negeri. Walau orang tersebut lupa, tapi Tuhan tidak pernah lupa. Itu yang penting dan selalu saya ingat.

Dengan menghilangnya sosok Pendeta eksentrik dari ruangan, Tim IGNITE STORY menghembuskan nafas lega dengan muka bahagia, karena pertemuan dengan Pendeta Agus Tato tidak berhenti di sana. Kami diundang secara khusus untuk hadir ke yayasan yang ia bentuk. Part two dari kisah ini adalah highlight kegiatan mengajar di Yayasan Hati Bagi Bangsa. To be continued.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE