Spot the Spotlight

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Agustus 2018
“Because one believes in oneself, one doesn't try to convince others. Because one is content with oneself, one doesn't need others' approval. Because one accepts oneself, the whole world accepts him or her.” – Lao Tzu

Tidak dapat dipungkiri memang, kehadiran media sosial banyak menuai pro dan kontra, terutama bila sang pengguna tidak tahu cara menggunakannya dengan benar. Media sosial kerap menjadi tolok ukur atas diri seseorang, berapa banyak like, comment, ataupun engagement lainnya akan menentukan apakah kehidupan yang dijalani saat ini sudah maksimal. Atau mungkin masih bisa lebih lagi dari ini? Lalu apa yang harus saya lakukan? Manusia modern sepertinya dirancang untuk tidak pernah puas, selalu berusaha menggapai sesuatu yang lebih, bintang paling jauh dan tinggi pun akan diraih jika perlu. Setelah berhasil mencapai apa yang diinginkan, kemudian apa? Ya, tentu butuh spotlight supaya dilihat orang, diakui orang bahwa memang aktualisasi dirinya berhasil. Semakin tinggi disanjung, semakin jauh juga dari tanah pijakan yang sejatinya kita tidak sadari ada yang salah di dalamnya.

Aktualisasi diri tidak sama dengan mengekspos pencapaian diri apalagi dengan tujuan sekadar menggiring opini orang lain untuk sepakat dengan cara kita melihat diri sendiri. Salah satu paling sederhana, penggunaan hashtag. Saya sangat tidak tahan dengan orang-orang yang tidak tahu cara menggunakan hashtag. Tidak peduli post apa yang sudah diupload, hashtag yang diberikan tidak sesuai dan jumlahnya sangat banyak. Padahal fungsi hashtag sendiri adalah tujuannya untuk memudahkan pencarian dalam kategori tertentu.



Photo by Annie Spratt on Unsplash


Kini penggunaan tadar sedikit banyak berfungsi menggiring opini. Seseorang yang mengunggah foto dirinya sendiri lalu diikuti dengan #cowokganteng #cowokhits ingin agar khalayak yang melihat foto tersebut berpikir bahwa dia memang ganteng dan hits. Namun mari ambil waktu sejenak dan berpikir atas fenomena ini, apa yang sedang dicoba capai? Eksistensi dan menjadi pusat perhatian. “Kehadiran saya harus diperhitungkan”. ”Saya berharga”. “Lihat, saya juga bisa hebat seperti kalian.” Kira-kira seperti itu yang dipikirkan. Jika ditarik lebih dalam lagi, kita sama-sama bisa melihat ini semua berawal dari percaya diri yang kurang baik. Orang yang beres dengan dirinya sendiri tidak akan ambil pusing atas apa yang orang lain pikirkan tentang dia, selama dia yakin bahwa nilai yang dipercayai itu benar.

Abraham Maslow, psikolog yang mencetuskan istilah aktualisasi diri ini juga menciptakan hirarki kebutuhan manusia. Aktualisasi diri berada di puncak, artinya sebelum dapat mencapai aktualisasi diri, maka kebutuhan lain yang menjadi dasarnya harus terpenuhi terlebih dahulu, kepercayaan diri salah satunya. Ada banyak elemen yang dia kemukakan, namun mari mencoba melogika ini dengan sederhana: Jika kepercayaan diri saja “belum beres”, bagaimana jadinya aktualisasi diri? Mungkin bisa saja dicapai, namun apakah pondasinya benar-benar kuat?

Hati-hati, aktualisasi diri akan kehilangan maknanya jika ini kerap terjadi. Mengapa? Jangan pernah lupa, kita adalah makhluk ciptaan yang paling mulia, segambar dan serupa dengan Allah. To put in simple words, apa yang ada pada Allah, ada pada diri kita, seharusnya. Tidak percaya diri bukanlah gambar yang Allah letakkan dalam diri kita.



Photo by A. Xromatik on Unsplash


Seperti yang tertulis di dalam 2 Petrus 1:3 “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Sejak awal, Allah sudah memperlengkapi kita untuk hidup sesuai dengan kehendakNya, jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa. Namun walaupun sudah diperlengkapi, merenungkan Firman setiap hari adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa tahu apa langkah selanjutnya, sehingga hidup kita memanifestasikan hal-hal yang baik ketika Tuhan ijinkan spotlight mengarah ke kita.

Saya tersentuh melihat bagaimana salah satu aktor favorit saya, Chris Pratt menjalani hidupnya sebagai seorang selebriti yang dibilang cukup sukses tahun ini. Tiga filmnya dalam waktu yang cukup berdekatan semua masuk kategori box office. Dia masa puncak kejayaannya ini, all eyes on him. Dalam acceptance speech nya di MTV Awards 2018, Chris Pratt mengutarakan tentang kepercayaannya bahwa Tuhan itu kasih dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anakNya.



www.movieguide.org


Untuk aktor sekelas Chris Pratt dan di tengah tren saat ini, berbicara tentang Tuhan di depan umum bukanlah hal mudah. Bahkan beberapa orang terang-terangan menyatakan tidak suka atas pidatonya malam itu yang mereka lemparkan melalui Twitter.

Pernyataannya menjadi satu bukti dia sudah memaksimalkan potensinya dan ia menggunakan spotlight yang didapat dengan sangat bijaksana.

Namun bagaimana dengan kita, rakyat jelata yang tidak punya spotlight sebesar Chris Pratt? Bisa dimulai dari hal kecil, seperti penggunaan hashtag yang benar. Dengan kehidupan kita yang sangat dekat dengan media sosial, mari jadikan kesempatan ini untuk “menggiring” audience kita ke arah yang seharusnya. Menjadikan Hashtag juga punya fungsi menyatukan yang terpisah, mengarahkan ke hal-hal positif, membagikan konten yang menjadi berkat, ataupun mengumpulkan massa untuk gerakan yang baik dan membangun.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE