Tak Selamanya Ketidaksempurnaan berarti Tidak Sempurna, Bagi Dia

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 03 Oktober 2017
Bukankah bejana yang diletakkan di tempat yang biasa saja menandakan bahwa bejana itu sering dipakai oleh tuannya?

TIDAK seorangpun yang TIDAK pernah mengalami "keretakan". Sekalipun kita sudah terus diingatkan bahwa waktu terus berjalan dan semua keretakan itu akan berlalu, namun tak dapat dipungkiri bahwa tidak seorang pun yang tidak resah, gelisah, dan bersedih hati, saat melalui masa-masa pembentukan itu.

Aku teringat momen dimana seorang sahabat tidak dapat disebut lagi sebagai sahabat karena kekecewaan yang muncul di antara kami. Pertemananan yang terjalin selama 7 tahun seolah tiba-tiba sirna akibat kemarahan dia terhadap perkataan pasanganku yang dimaksudkan untuk canda, namun dirasa pedih baginya. Faktanya, ia yang pertama kali terluka. Namun ketika mengetahui fakta berikutnya, bahwa kami tidak dapat lagi menjalani pertemanan seperti yang lalu, kemudian hatiku terluka. Ya, hubungan kami retak.


Shutterstock.com

Begitu pun kekecewaan yang muncul di antara seorang anak dengan orang tuanya yang dirasa begitu menekan. Perasaan-perasaan negatif yang selalu muncul karena tampaknya orang tuaku tidak memperlakukanku secara baik, menurutku. Saat mereka tidak mendengarkanku, tidak memahamiku, tidak mendukung keputusanku, selalu menyalahkanku, bahkan seakan-akan tidak ada penghargaan akan keberadaan dari diriku. Ah, terlalu banyak kisah kekecewaan dengan orang tua jika dijabarkan. Tanpa sadar, relasi dengan orang tua pun retak.

Hingga bertemu dengan pasangan hidup yang paling sering kuandalkan. Ya, kupikir dialah satu-satunya orang yang Tuhan tempatkan di kala aku membutuhkan dukungan. Namun ke sekian kalinya, gesekan demi gesekan itu tetap ada, semakin mengenalnya, semakin banyak perbedaan yang tampak. Aku tidak dapat selalu mengandalkannya. Ya, tak dapat terelakkan bahwa relasi kami pun memiliki keretakan tersendiri.


Shutterstock.com

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika mengalami keretakan demi keretakan dalam relasi antar sesama?

1. Percaya bahwa keretakan dalam relasi adalah sebuah seni

Berbeda dengan relasi kita terhadap Tuhan, menjalin relasi dengan sesama memiliki seni tersendiri.

Sadar atau tidak, kekecewaan demi kekecewaan yang terjadi antara kita dengan sesama hanyalah berasal dari ekspektasi kita terhadap mereka. Semakin besar ekspektasi kita, semakin besar kekecewaan yang timbul. Padahal, orang-orang yang kita temui memiliki berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, yang membentuk karakter dan kepribadian mereka, termasuk dengan diri kita. Jika kita sudah bisa menerima dan memahami perbedaan, inilah esensi dari seni berelasi.

Mengenai sahabat, orang tua, atau pasanganku, aku jadi belajar memahami dan menerima bahwa begitulah diri mereka. Bukan berarti aku jadi tidak boleh berharap, namun aku tidak memaksakan kehendakku atas pribadi mereka atau atas apa yang telah terjadi.

 

2. Percaya bahwa Allah memberi kekuatan

Faktanya, Allah kita adalah Allah yang rela diam namun Ia juga adalah Allah yang akan terus-menerus memberi kekuatan dan kemampuan bagi kita jika kita bergantung padaNya.

Maka, daripada tenggelam oleh kalutnya emosi akibat keretakan yang terjadi, manfaatkan momen demi momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sampaikan seluruh perasaan dan pikiran kita kepadaNya. Alangkah lebih baik jika memiliki saudara seiman yang juga dapat mendengar keluh kesah kita secara objektif.


Shutterstock.com

3. Percaya bahwa Allah turut bekerja

Katakanlah sosok Ayub yang juga mengalami keretakan relasi dengan ketiga sahabatnya (Ayub 6), bahkan istrinya sendiri (Ayub 2:9-10); atau sosok Paulus yang dalam akhir hidupnya, ditinggakan rekan-rekan sepelayanannya (2 Timotius 4:9-16), bagaimanapun Allah turut bekerja dalam keretakan itu.

Kita sebagai manusia hanya dapat membayangkan detik setelah semua itu berlalu dan saat kembali menengok ke belakang, kita baru dapat berkata, "Ya, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagiku" atau "Ya, Allah sengaja memakai caraNya yang unik untuk membentukku".

Sangat mungkin, bukan hanya aku yang mengalami keretakan relasi dengan sahabat, orang tua, dan pasangan hidup. Banyak orang juga mengalami hal yang serupa. Saat itulah kita bisa lebih berempati, berbagi pengalaman, bahkan memberi cara pandang yang telah diubahkan.

Bukankah bejana retak, walaupun diletakkan di tempat yang kurang istimewa karena ketidaksempurnaannya, yang menandakan bahwa bejana itu sering dipakai oleh tuannya? Sedangkan bejana emas dan perak diletakkan di tempat yang paling istimewa, namun biasanya hanya akan menjadi pajangan.


Shutterstock.com

Mari buka hati dan pikiran kita untuk melihat hal yang jauh lebih besar dari yang kita pikirkan, bahkan melalui keretakan yang kita alami, Tuhan sendiri sedang melakukan pekerjaan di dalamnya

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE