Tentang IGNITE dan Serba-serbi di Dalamnya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 20 November 2018
Suatu hari IGNITE akan mati, tapi dia tidak boleh mati tanpa ada perubahan yang baik bagi orang-orang yang ada di dalamnya.

Berawal dari 19 November 2015, kami, sebagian besar di antaranya adalah orang yang tidak saling kenal, duduk bersama mendengar apa yang dibagikan oleh Pendeta Wahyu Pramudya atau yang akrab dipanggil “Pak Wepe” di sebuah ruangan di GKI Manyar. Malam itu berlangsung sangat lama, namun ada satu kerinduan yang singgah di hati: media digital harus digarap. Anak muda harus memutuskan apa yang relevan bagi zaman ini, dan mengerjakannya dengan setia. Kira-kira itulah satu energi yang mendasari seluruh gerak hingga hari ini.


Hari-hari setelahnya ternyata tak mudah. Mengubah majalah menjadi bentuk website tentu bukan perkara yang selesai dalam semalam. Tak terhitung berapa banyak diskusi dan kopi untuk memikirkan nama rubrik, workflow, dan berbagai strategi lainnya. Saya belajar sangat banyak dari Steffi, satu manusia paling kreatif yang ternyata menjadi rekan dan teman dari dan di IGNITE sampai hari ini. Darinyalah, nama rubrik “Best Regards” dan “Going Deeper” lahir.

Dalam proses yang kadang membosankan itu, saya sendiri melihat bahwa ada orang-orang yang datang dan pergi, tapi lebih banyak yang datang lalu menetap. Mereka yang entah mengenal IGNITE dari mana, lalu mempercayakan waktu dan energinya untuk menghasilkan karya dan menyumbang berbagai saran untuk mengembangkan pelayanan kecil ini.

Saya ingat betul, dulu saya berujar ke Pak Wepe, “Ya harapannya IGNITE setiap dua hari sekali bisa publish satu artikel di media sosial”.


Lah boro-boro. Ternyata menuju ke harapan itu tidak mudah. Februari 2017 di tema superperdana, hanya ada empat kontribusi karya. Satu dari saya, dan tiga lainnya dari “memohon” beberapa orang untuk menulis alias mengisi website kosong saat itu. Maret 2017, bulan kedua, ada delapan karya singgah. Lumayan, namun masih belum cukup untuk bisa rutin menghadirkan sesuatu di media sosial setidaknya dua hari sekali secara rutin dalam sebulan.

Bayangkan betapa kecilnya ini semua dimulai. Lalu apakah hari ini sudah besar? Oh tentu ... belum! Kami masih sebuah tim kecil, hanya saja perlahan menjadi besar. Sekarang, dalam sebulan hampir setiap hari ada kontribusi masuk. Sekutu kami makin banyak, siapa yang tidak bahagia?

Tepat bulan lalu, saya menjadi superbahagia saat menyadari bahwa karena padatnya kontribusi, setiap hari media sosial IGNITE membagi satu atau dua karya. Do you get the point? Dari keinginan mem-posting satu karya dua hari sekali dan kini sehari bisa mem-posting dua karya, kalau bukan ke Tuhan yang bermurah, rekan-rekan penulis yang turut cinta, tim IT yang rela berjelimet menggarap HTML, dan para pembaca, kepada siapa lagi harus berterima kasih?

Tepat kemarin seorang penulis yang sudah lama tidak bersua tiba-tiba bertanya ke saya: “dalam satu kalimat, menurutmu IGNITE mau jadi seperti apa sih?”

Saya tersenyum lalu berusaha mengetik apa yang ada di kepala. “Menjadi wadah yang cair untuk bisa masuk ke banyak sisi anak muda dan jadi berkat, baik bagi yang membuat karya maupun yang menikmati karya.”

Maafkan kebebalan saya, namun kalimat itu saya rasa belum cukup sehingga saya masih memberikan baris kalimat tambahan: “sudah banyak yang hanya fokus ke ‘pasar’ (pembaca, penonton video, penikmat karya seni, dll.) tapi lupa menggarap apa yang ‘di dalam’. Lupa untuk menjadi wadah yang berjejaring dan saling menajamkan.”

Dua kalimat ini tidak pernah secara kaku dipatrikan baik di proposal ataupun secara tertulis di portal dan media sosial, namun nyatanya itulah yang terus dihidupi, sadar ataupun tidak. IGNITE GKI melalui orang-orang di dalamnya, terus mencoba untuk mencari sekutu baru di setiap kesempatan. Bukan hanya tentang “menghasilkan apa” tapi juga “membentuk siapa”.

Semangat itulah yang membuat Pemimpin Redaksi kami, Radinal, rajin merekrut orang seenaknya (tenang saja, saya juga salah satu korban “perekrutan mendadak”nya) untuk berproses bersama sesuai talenta masing-masing. Semangat itu juga yang membuat divisi IGNITE Story memberlakukan sistem yang sempat dianggap aneh: “Editor in Duty” yang bergantian setiap tiga bulan. Saya sendiri percaya, komunitas penulis IGNITE (lebih dari 70 orang) adalah para amatir dan IGNITE adalah ruang belajar bersama.

Sebelum karya itu menjadi berkat bagi pembaca luas, karya itu terlebih dahulu menjadi persembahan kami ke Tuhan, jalan melegakan hati dan kepala yang kami hadiahkan ke diri sendiri, dan bahan latihan serta diskusi bagi editor serta rekan kontributor.

Satu yang terpatri dengan baik, lagi-lagi dari Pak Wepe: “Suatu hari IGNITE akan mati, tapi dia tidak boleh mati tanpa ada perubahan yang baik bagi orang-orang yang ada di dalamnya.”

Mau tidak mau zaman akan terus berubah, dan saya terlampau yakin akan ada masa IGNITE GKI menjadi renta dan mati pada akhirnya. Tapi hari ini, di momen pertambahan usia yang kerap bersinonim dengan “pertanda berkurangnya jatah hidup”, saya bisa lega bahwa saya melihat ada perubahan yang lebih baik. Kapanpun masa itu tiba, saya percaya, IGNITE tidak akan mati dengan sia-sia.

Ada seorang Claudya yang telah belajar banyak melalui IGNITE. Dan pasti, pasti ada begitu banyak nama lain. Saya harap, kamu satu di antaranya.

Akhir kata, kalau kamu ikut merasa menjadi bagian dari “kami”, maka ... saya ucapkan, “SELAMAT, kita sudah sampai di angka tiga!”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE